I Finally Found Love

I Finally Found Love
38



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Amier mengendarai mobil nya, ini aneh sebenarnya kenapa sang bunda membiarkan dia menggunakan mobil padahal dia di larang keluar.


Selama perjalanan pulang, Amier terus saja memutar otak nya mencoba mengingat, tapi dia tak bisa mendapatkan gambaran ingatan tentang Ameera sedikitpun.


Sesekali Amier akan melirik Ameera. Sedangkan Ameera, dia merasa mata nya begitu berat dan berulang kali menutup mulut nya karena menguap. Karena tidak ada nya pembicaraan, akhir nya Ameera tertidur.


Amier melirik dan tersenyum, tangan nya terulur untuk mengusap pucuk kepala Ameera yang terbalut hijab. Tapi tangan nya tertahan di udara karena dia kaget dengan apa yang dia lakukan. Mengapa dia bisa melakukan hal itu. Amier menarik kembali tangan nya dan kembali fokus pada jalanan.


Dua puluh menit kemudian, Amier sudah sampai tapi Ameera tak kunjung bangun dari tidur lelap nya. Amier bersandar di kursi dan merubah posisi menjadi menghadap Ameera.


Di pandangi nya gadis itu secara seksama dan senyuman lagi-lagi terpatri di bibir nya. "Seperti nya dia sangat capek sampai lelap banget tidur nya." Amier berbicara lirih.


Terus saja menatap sampai ketikan di luar jendela kaca mobil terketuk. Amier menoleh dan mendapati Bian yang melakukan nya. Amier membuka kaca mobil.


"Belanjaan nya di bagasi belakang Kak." Amier memberi tahu.


Bian mengangguk lalu menuju ke belakang mobil. Membuka dan mengambil nya. Amier ikut menurunkan. Selesai menurunkan mereka membawa semua belanjaan itu ke dalam rumah.


"Ameera mana Dek?" tanya Bian yang baru saja menyadari ketidak ada nya Ameera di antara mereka.


Amier menepuk dahi nya. "Ya Allah Aku lupa. Itu di mobil." Amier menunjuk mobil nya.


Bian menggeleng. "Bangunkan saja." Amier mengangguk dan membuka pintu mobil nya.


Tangan nya menepuk lengan Ameera namun gadis itu malah melenguh saja dan berpindah posisi menjadi menghadap Amier.


"Ya ampun gadis ini." Amier ingin sekali memarahi nya, tapi ia urungkan saat melihat mata Ameera mengeluarkan air mata.


Amier mengernyit heran. "Apa yang di mimpikan gadis di depan nya itu hingga memunculkan ekspresi seperti itu. Apakah mimpi buruk?" gumam Amier di dalam hati.


Tangan Amier terulur mengusap air mata itu dengan ibu jari nya. Seulas senyum terpantri di bibir pemuda jangkung itu. Di tatap nya lama sekali hingga Ameera melenguh kembali dan sedikit membuka mata.


Mata nya terbelalak saat melihat Amier yang ada di depan nya itu menatap begitu intens dan tersenyum lembut.


"Kamu lagi ngapain?" tanya nya kemudian. Amier tersadar, dia ternyata melamun dan tak sadar dengan apa yang dia lakukan.


Amier yang tadi nya membungkuk pun menegakkan tubuh nya. Ameera mengerjap bingung. "Keluar lah."


Ameera keluar dan menunjukan senyum senang. "Terimakasih." Amier mengangguk dan menutup pintu setelah nya. Mereka berjalan bersama ke dalam.


Sedangkan di dalam, sangat ramai dengan anak-anak. Semua keluarga besar dan sahabat berkumpul. Suasana itu mengingatkan beberapa tahun yang lalu.


Ameera menghampiri Ciara yang tengah bermain dengan ChaCha. "Sedang lagi apa?" tanya nya setelah duduk di antara mereka.


ChaCha dan Ciara terdiam seketika dan menoleh. Ciara langsung menghambur memeluk Ameera. ChaCha yang melihat itu pun terlihat canggung.


Asyifa menghampiri mereka dengan segelas susu hangat di tangan nya untuk di berikan pada Ciara. "Terimakasih Bunda." Ucap Ciara setelah menerima gelas itu.


Si meja makan, Amier tak bergeming menatap Ameera sembari mulut yang tak berhenti mengunyah. Di meja itu berkumpul para ayah dan anak laki-laki. Sedangkan para ibu sibuk di dapur dengan obrolan dan alat masak di tangan masing-masing.


Annisa yang tengah menggoreng, Vita yang memotong sayuran, Asyifa yang tengah membuat salad, Adelia, Nazira, Naura, dan Salsa pun ikut serta.


Untung saja dapur bunda Annisa luas hingga muat untuk mereka demo memasak. Sungguh riuh sekali mereka dalam memasak.


Amier berdecih tanpa memalingkan pandangan nya belum sadar jika yang dia lakukan mengundang kekehan dari yang lain. "Sudahlah, biarkan saja." Bian semakin menggoda.


"Apa sih Kak?!" Amier berseru. Tapi sudut mata nya menangkap semua yang ada di meja itu terkekeh. Amier malu hingga tertawa canggung.


"Tapi kalau masih nggak ada kemajuan pasti nya bakalan ke lain hati." Malik menimpali.


"Oh iya, anak teman rekan kerja Ku ada yang punya anak laki-laki. Mungkin bisa di kenalkan dengan Ameera." Bima yang tahu keadaan Amier pun ikut bermain.


Terlihat Amier bermuka masam. Hal itu mengundang gelak tawa dari mereka. Entah sadar atau tidak, Amier merasa kesal saat Bima mengatakan hal itu.


"Lihat saja wajah nya, langsung masam seperti itu." Malik kembali meledek.


Amier yang mendengar sindiran Malik pun bingung dengan dirinya sendiri, kenapa dia bisa berekspresi seperti itu.


"Sudah-sudah, jangan di ledek terus nanti nge-drop kebanyakan mikir." Annisa menimpali setelah meletakkan hasil masakan nya di meja.


"Bunda?" rengek Amier tak terima.


Annisa terkekeh. "Iya Nak, ada apa?" tanya nya.


Di saat bersamaan Ameera menghampiri mereka. "Bunda, Aku pamit yah."


"Loh, mau kemana?"


"Kak Nizam datang, jadi Aku mau pulang. Maaf ya Bun?" Ameera mengatupkan kedua tangan nya.


Sebenarnya Annisa tak rela, tapi karena sangat jarang untuk Nizam pulang, akhirnya Annisa hanya mengangguk dan tersenyum lalu memegang pipi gadis cantik itu.


Amier menatap tidak suka dengan bapa yang di katakan oleh Ameera. "Siapa Nizam?" tanya Amier tanpa sadar.


Semua mata tertuju pada Amier tak terkecuali Ameera. "Oh, itu adalah---"


"Dia calon suami Ameera." Malik melanjutkan kata-kata Ameera.


Tentu saja hal itu membuat semua nya berpindah pandang pada Malik tak terkecuali Amier. Malik hanya mengedikkan bahu nya saja. Mereka terkekeh, seakan tahu dengan apa yang di niatkan oleh Malik.


"Oh iya itu. Calon nya si Ameera itu, udah ganteng, kaya, pinter, pokok nya idaman banget deh, iya kan Ameera?" Reyyan ikut bermain.


Ameera terlihat gugup mau menjawab apa, apa lagi di tatap Amier dengan wajah masam nya. "Eemmm, itu..." Ameera melirik Malik dan lelaki itu memberi kode dengan menganggukkan kepalanya.


Ameera melirik Amier yang seakan menunggu jawaban dari nya dengan ekspresi yang sama.


"Iya," suara Ameera terdengar lesu.


Malik ingin tertawa terbahak tapi dia tahan. Melihat tajam nya tatapan Amier membuat Ameera meringis ngeri.


"Ya sudah pulang nya hati-hati yah," Annisa mengusap kepala Ameera.


"Bian hantarkan Ameera yah, hantarkan sampai--"


"Biar Aku saja." Amier menyela ucapan Annisa dan langsung berdiri. Lalu berjalan lebih dulu. Ameera menatap kepergian Amier dengan bingung. Usapan Annisa menyadarkan Ameera.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.