
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Ameera terduduk lemas dengan tangan menggenggam erat selembar kertas. Air matanya luruh membasahi pipi mendengar kenyataan yang tidak bisa dia terima dan harus terjadi pada dirinya.
Dia merasa menjadi perempuan yang tak sempurna saat mengetahui jika dirinya masih belum bisa memberikan keturunan pada Amier sang suami.
Dan pernyataan dokter kali ini, membuat dia kembali merasa bersalah dan sedih. Harapannya pupus sudah.
Amier memegang pundak sang istri dan duduk di sampingnya. "Dokter hanya makhluk, Allah yang menentukan dan berkehendak. Jangan bebani dirimu hanya karena ucapan dokter. Lagi pula, dokter bilang kan masih ada kesempatan meski kecil. Dan aku mohon jangan salahkan dirimu sendiri." Amier mencoba menghibur Ameera.
Amier membawa tubuh istrinya kedalam pelukannya. "Sudah ya, semua indah pada waktunya kok. Dan aku tau ini berat, tapi kamu nggak sendirian. Ada aku, ada bunda, dan ada yang lainnya. Aku yakin mereka nggak akan menekan kamu," ucap Amier lagi.
Ameera masih menangis. Amier yang melihatnya pun tidak tega. Dia berjanji tidak akan membuat istrinya menjatuhkan air mata, tapi kini air mata Ameera mengalir tanpa bisa dia hapus. Sakit rasanya. Sakit bukan karena dia belum bisa di beri keturunan, tapi sakit melihat air mata sang istri yang terus terjatuh.
"Kita pulang yuk," ajak Amier.
Ameera mengangguk dan berdiri di bantu Amier. Mereka berjalan pelan dengan Amier yang masih memeluk Amier.
Selama di perjalanan, Ameera hanya diam. Dia tak lagi menangis tapi pandangannya begitu kosong. Amier sesekali mengusap kepala Ameera yang terbalut hijab itu dengan lembut.
Setelah sampai, Ameera langsung turun dari mobil tanpa menunggu Amier. Amier yang melihat punggung Ameera yang semakin hilang pun hanya bisa menghela nafas.
"Wa'alaikumusalam sayang," sapa balik Annisa yang mendengar salam dari menantunya.
Annisa menghampiri menantunya dan bertanya bagaimana? Tapi Ameera hanya mengulas sedikit senyum saja.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
Ameera menggeleng. "Meera nggak apa-apa Bun, Ameera ke dalam dulu ya Bun, mau mandi, gerah." Ameera meminta izin.
Annisa yang melihat menantunya itu tidak seperti biasanya pun mengiyakan tanpa bertanya lagi.
Ameera langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya. Annisa mengikuti arah gerak Ameera yang menaiki tangga dengan rasa penasaran yang cukup besar, tapi dia tahan untuk bertanya. Amier yang melihat sang istri di tangga pun melihatnya dengan sedih.
Annisa menoleh. "Amier, istri kamu kenapa?" tanya Annisa memegang lengan sang putra.
Amier menghela nafas panjang. "Dia kepikiran sama apa yang di katakan sama dokter Bun," jawab Amier.
Annisa mengerutkan keningnya. "Maksud kamu?" tanyanya tak mengerti.
Amier duduk di sofa dan di ikuti oleh Annisa. Dia menceritakan apa yang di katakan oleh dokter yang menyebabkan Ameera begitu sedih.
Annisa ikut merasakan kesedihan sang menantu. Dia tau bagaimana rasanya belum ada keturunan, dirinya saja yang di tinggalkan anak-anaknya untuk sementara saja rindu setengah mati, bagaimana dengan Ameera yang bahkan sudah di nyatakan tidak bisa memiliki keturunan. Ralat, bukan tidak bisa, tapi berkemungkinan kecil.
Tentulah hal itu menjadi momok yang menakutkan dan menyakitkan untuk seorang perempuan. Rasa iri saat melihat anak kecil dan jika bertemu teman-temannya yang sudah memiliki anak pun pasti akan timbul rasa itu.
Annisa memegang tangan Amier dengan lembut. "Jangan pernah meninggalkannya, selalu di sampingnya dan dukung dia secara mental. Bunda tau itu berat untuknya. Dan tugas kamu bukan menyalahkan tapi mendukung. Selalu minta sama Allah jangan pernah menyerah." Annisa menasehati.
"Amier ingat nabi Zakaria yang pernah Bunda ceritakan bukan?" tanyanya lagi.
"Beliau tidak pernah menyerah untuk berdoa dan Allah memberikan karunia seorang anak bernama Yahya," sambung Annisa lagi.
Amier kembali mengangguk. "Amier tau Bun," ucap Amier menunduk.
Annisa tersenyum. "Jika tau, apa yang harus Amier lakukan sekarang?" tanyanya.
Amier tersenyum. "Makasih Bun, Bunda adalah yang ter- the best." Amier memeluk Annisa dengan erat.
Rasa yang menghantam hatinya terkikis dan berubah menjadi sungai yang mengalir. Dia merasa bahagia menjadi anak dari seorang Annisa, tak seperti sebagian orang yang akan menyalahkan dan menghakimi, dia malah menjadi penerang di saat anak-anaknya tengah di dalam kegelapan.
Setelah memeluk Annisa, Amier izin pergi ke kamar untuk menengok Ameera.
Di bukanya pintu kamar itu dan Amier tak mendapati Ameera di sana. Amier mencari di balkon tapi tak ada, tapi saat akan mengecek kamar mandi, terdengar suara air yang mengucur.
Amier merasa lega dan duduk di ranjang kemudian mengambil laptopnya. Amier berkutat dengan laptopnya hingga lebih dari satu jam.
Amier melihat jam dinding dan kaget. Dia cepat-cepat menghampiri kamar mandi dan menggedornya. Rasa takut mulai menghantui Amier.
"Ameera cepat buka sayang!" seru Amier seraya tangannya tak henti menggedor.
"Ameera kalau kamu nggak buka aku dobrak ya!" ancamnya.
Tak ada sahutan, yang ada hanyalah suara kucuran air saja. Amier tak bisa menahannya lagi dan mendobrak pintu. Dengan beberapa kali mencoba akhirnya pintu itu terbuka.
Amier melotot melihat sang istri yang tertidur masih dengan pakaian yang lengkap dan air yang menyirami tubuhnya.
Amier dengan cepat menghampiri Ameera dan menepuk-nepum pipinya tapi tak ada sahutan. Amier mematikan air dan mengangkat tubuh wanita itu lalu meletakkannya di ranjang.
Di bukanya pakaian sang istri dan menggantikan nya dengan yang baru.
"Bodoh!" umpat Amier kesal bercampur sedih.
Setelah selesai mengganti pakaian Ameera, Amier duduk dan menggenggam tangan dingin istrinya dengan lembut. "Kamu jangan buat aku gila sayang, aku nggak mau liat kamu kayak gini lagi, aku mohon," mohon Amier yang menunduk.
Setelah beberapa saat, Amier ikut merebahkan tubuhnya di samping Ameera dan mendusal di ceruk istrinya.
Tak di sadari oleh Amier, Ameera melinangkan air mata. Rupanya Ameera tak tertidur atau pingsan, dia hanya lelah, dia ingin tidur tapi dia terlalu lemah untuk kembali ke ranjang. Dan pada akhirnya dia tergeletak di bawah kucuran air.
Sakit, sangat sakit dia rasa. Dia ingin menjerit sekali lagi, tapi mulutnya seakan tak bisa berbicara untuk saat ini.
Lelah, dia sangat lelah. Dia ingin tidur untuk saat ini, berharap saat terbangun mimpi buruk akan musnah dan di ganti kenyataan yang manis.
Jika dia hanya di beri satu permintaan di kehidupannya, maka dia akan memilih mempunyai keturunan untuk suaminya. Cukup hanya itu saja, dia sudah cukup bahagia dengan di samping sang suami dan menjadi pemilik hatinya.
Sakit, sedih jika rumah tangga belum juga ada suara tangis bayi yang lucu yang mewarnai hari mereka. Ameera sudah pasrah, sudah sepenuhnya pasrah. Entah apa yang terjadi esok, dia ikhlas
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.