I Finally Found Love

I Finally Found Love
80.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Amier mengendarai motor nya dengan kecepatan di atas rata-rata. Masih untung jalanan sepi. Dan dua kali ia menerobos lampu merah.


Pikiran nya kacau saat ini. Dia hanya ingin sampai di rumah dengan cepat.


🕳️🕳️🕳️🕳️


Annisa pulang dari membeli buah pesanan Ameera. Tapi saat di cari dimana menantunya itu, tidak ada tanda-tanda sahutan dari Ameera membuat Annisa sedikit khawatir.


Di carinya Ameera di setiap sudut ruangan yang ada, langkah terakhir dia mengambil ponselnya dan menghubungi nomer Ameera, tapi selalu berada di luar jangkauan.


Annisa semakin panik dan menghubungi semua anggota keluarga dari Aditya, Maryam, Syifa, Malik sampai Bian. Dan tak ketinggalan Shinta yang dekat dengan menantunya itu.


Tapi mereka tak ada yang tahu dimana dia. Dan terakhir yang ia hubungi adalah suaminya yang tak lain adalah putranya sendiri.


Berkali-kali wanita paruh baya itu menelpon, tapi tak ada jawaban dari empunya ponsel.


Sedangkan di lain tempat, Amier yang sibuk dengan mobil yang tengah dia modif, tak tahu jika banyak sekali bundanya menelpon.


Salah satu karyawan Amier yang di beri tugas mengambil berkas dari pelanggan di kantor Amier pun melihat saat getaran dan layar ponsel yang menyala.


Dia membawa ponsel bosnya dan menyerahkan pada Amier. Amier mengernyit saat tiga puluh panggilan tak terjawab dari sang bunda.


Pikiran Amier langsung menuju kepada Ameera. Mungkin akan melahirkan, pikir nya. Dengan terburu-buru dia menerima.


"Iya, Bunda?" ucapnya setelah memberikan salam.


"Apa?!" pekik Amier. "Oke-oke Amier segera pulang."


Jantungnya seperti tertombak. Dia takut mendengar penjelasan singkat Annisa. Dan tak menunggu lama Amier kembali ke rumah dengan menggunakan motor besarnya dengan kecepatan tinggi.


🕳️🕳️🕳️🕳️


"Bun, Bunda?!" panggil Amier tak sabaran.


Amier menghampiri Annisa yang sudah menangis dan di temani oleh bibik asisten rumah tangga.


Dengan buru-buru Annisa menanyakan bagaimana bisa Ameera pergi dari rumah. "Istri kamu tadi minta buah alpukat dan Bunda menawarkan diri untuk beli, tapi pas Bunda balik Ameera sudah nggak ada," jelas Annisa sesegukan.


Amier mengusak kasar rambutnya dan mondar-mandir memikirkan kemana kira-kira istrinya itu pergi. Pasalnya setiap orang yang dia kenal sudah di hubungi dan tak ada yang tau dimana istrinya itu.


"Kak Nizam!" ingat Amier dan langsung menghubungi nomer Nizam, kakak iparnya.


"Hallo, assalamualaikum Kak?" salam Amier tak sabar setelah panggilan tersambung.


"Kak, apa Kakak dapat kabar dari Ameera?" tanyanya lagi.


Amier memejamkan matanya karena mendapat semprotan dari kakak iparnya. "Iya. Kak maaf. Aku juga nggak tau apa yang sebenarnya terjadi."


"Lalu gimana?"


"Iya-iya, aku kesana sekarang!"


Amier menutup setelah mendapat ceramah Nizam, lebih tepatnya bentakan.


"Bun, aku ke bandara sekarang ya," izin Amier.


"Bunda ikut."


"Bunda nanti nyusul saja pake mobil ya, Amier mau cepat sebelum dia lepas landas, ada kesalahpahaman yang harus aku selesaikan sama istri aku, Bun."


Annisa mengangguk dan Amier segera keluar dari rumah. Amier mengendarai motornya kembali dengan kecepatan tinggi. Gila memang Amier jika sudah berurusan dengan Ameera, dia tak menghiraukan sekitar.


"Ya Allah, semoga masih ada kesempatan." Amier bergumam.


Jalanan ibu kota yang ramai sedikit menyulitkan Amier untuk membelah jalan. Kurang lebih satu kilo meter lagi dia sampai, tapi kemacetan mengharuskannya berhenti.


Amier tak sabaran dan meninggalkan motornya di tempat lalu berlari sekuat tenaga hingga ke bandara.


Nafasnya memburu dengan keringat yang mengucur deras. Dia menetralkan nafasnya dan menghampiri pusat informasi. Di tanyakan nya penerbangan menuju London, tapi jawaban dari mereka membuat kaki Amier lemas seketika.


Pesawat sudah akan lepas landas dan itu artinya Amier ketinggalan.


"Ya Allah, kenapa harus begini," racau Amier.


Annisa yang baru sampai pun ikut mencari Amier. Amier terduduk di lantai dengan pandangan ke luar kaca yang menampilkan pesawat tengah lepas landas.


"Amier, ya Allah!" seru Annisa menghampiri Amier yang dengan posisi duduk.


"Kenapa, Nak?" tanyanya.


"Ameera, Bun. Ameera ninggalin Amier." Amier bergumam.


"Sayang, belum terlambat kok. Susul dia, Nak."


"Tapi kak Nizam nggak akan biarkan aku ketemu sama dia, Bun," lirih Amier.


"Nggak mungkin itu," Amier terus saja meracau.


"Nggak mungkin gimana---" ucapan Amier terpotong saat ada kerumunan yang membawa seseorang, dan sepertinya dia mengenali baju yang di kenakan orang itu.


Amier bangkit dari duduknya dan memicingkan matanya memastikan siapa yang di papah dan di kerumuni oleh banyak orang.


"Ameera!!" seru Amier menggema.


Orang yang merasa di panggil itupun mendongak dan sekilas tatapan mereka bertemu. Amier menghampiri Ameera dengan berlari.


"Mas Amier," gumam Ameera. "Aww!" pekik nya saat sakit itu kembali menyerang.


Amier berlari menghampiri. "Ameera, Sayang? Kamu kenapa, Sayang?" tanya Amier setelah sampai di depan Ameera dan langsung memeluknya.


"Sepertinya Ibu ini mau melahirkan, Pak." Seseorang yang tak lain salah satu pramugari memberi tahu.


Amier terhenyak sesaat dan langsung membopong tubuh istrinya itu dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


Amier di arahkan untuk menggunakan ambulans yang tersedia di bandara tersebut. Di dalam mobil ambulans Amier terus saja menggenggam tangan sang istri memberikan kekuatan.


Para medis memasang alat bantu pernapasan pada Ameera. Amier tak sekalipun melepaskan genggamannya.


"Jangan ambil anakku, Mas," racau Ameera terus menerus dengan air mata yang mengalir deras. Amier tertegun dan dia pada akhirnya tahu apa penyebab istrinya itu kabur darinya.


"Tenang Sayang, semua akan baik-baik saja. Please bertahanlah, aku nggak akan buat salah satu dari kalian pergi. Aku janji."


"Jangan biarkan anak kita tiada, Mas. Aku mohon." Ameera berbicara lirih, air matanya luruh tak ia bisa terbendung.


"Nggak Sayang, dokter bohong, kamu akan selamat dan anak kita juga. Kita akan kumpul bareng nanti ya, please bertahanlah." Amier mencoba tenang meski dia sangat, sangat takut jika terjadi sesuatu hal yang tak di inginkan itu benar-benar terjadi.


Sepuluh menit kemudian mobil ambulans sampai di rumah sakit dan langsung di larikan ke Unit Gawat Darurat untuk tindakan lebih lanjut.


Tangan yang tadinya terus tergenggam lepas begitu saja dan pintu tertutup memisahkan mereka berdua. Amier jatuh tersungkur. Hatinya kacau dan pikirannya tak kalah kacaunya.


Di dalam sana istrinya sedang berjuang sendiri. Dia tak bisa menemani istrinya itu berjuang untuk buah hatinya. Amier menangis. Air mata yang sedari dia jumpa Ameera tertahan, kini tak malu lagi untuk keluar.


Pernyataan dokter waktu itu sudah membuat Amier frustasi dan kejadian itu membuatnya lebih frustasi.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.