I Finally Found Love

I Finally Found Love
62.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Seperti perkiraan Maryam yang akan diberondong pertanyaan dari teman-temannya, seperti itulah kejadian saat ini.


Maryam begitu panas mendengarkan ocehan dari teman-temannya itu, ada yang bilang iri, ada juga yang mendukung dan juga senang dengan hubungan Bian dan Maryam.


"Sudahlah, aku nggak mau bahas itu lagi. Lagipula masalah pribadi tidak boleh dicampuradukkan dengan dunia kerja bukan?" sahut Maryam pada akhirnya.


Ekspresinya begitu datar. Tapi tidak dengan hatinya, dia begitu merutuki apa yang dia ucapkan kemarin.


Rasanya Maryam ingin berlari dan pergi jauh hingga tak ada yang bisa menemukannya.


Sedangkan di tempat lain, seorang laki-laki yang sedang di tengah-tengah rapat. Namun tidak fokus dengan rapat tersebut malahan dia senyum-senyum sendiri tidak jelas membuat yang melihatnya menjadi sedikit ngeri.


Aditya, ayah dari orang itu pun ikut penasaran. Apa yang membuat sang putra menjadi begitu murah senyum bahkan ini tidak lagi dibilang orang murah senyum, tapi mendekati gila mungkin.


Terkekeh sendiri, senyum-senyum sendiri, bahkan dengan pandangan yang kosong. Entahlah apa yang dipikirkan Bian saat ini.


Saat salah satu karyawan menjelaskan tentang proyek, Bian sama sekali tidak menanggapi bahkan tidak mendengar apa yang dibicarakan.


Fokusnya hanya satu, ponselnya. Layar ponsel itu ditatapnya terus menerus. Aditya yang melihat kondisi pun memberi kode pada karyawan itu untuk melanjutkan tanpa menghiraukan Bian.


*****


Setelah rapat sudah selesai, Bian baru tersadar saat Aditya sedikit menggebrak meja yang mengagetkan Bian.


"Kamu kenapa senyum-senyum gak jelas sambil megangin ponsel?" tanya Aditya terheran-heran.


Bian bukannya menjawab, dia malah menyengir dan menggaruk kepalanya.


"Nggak papa kok, Yah," sahut Bian.


Mata Bian melirik ke depan, ke samping dan ke belakang, dia jadi bingung sendiri.


"Orang-orang pada kemana, Yah?" tanya Bian.


Aditya menatap putranya itu dengan jengah, "makanya kalau rapat itu di dengerin bukannya senyum-senyum sendiri kayak orang kasmaran," sindir Aditya.


Bian hanya menyengir dan menggaruk kepalanya, "maaf, Yah," kata Bian tak enak hati.


Aditya membenarkan posisinya dan menatap sang putra dengan serius, "sebenarnya kamu sama Maryam hubungannya masih baik-baik saja kan?" tanya Aditya.


"Hah! Oh, baik kok, baik beneran baik," jawab gugup Bian.


Aditya memicingkan matanya mencoba menelisik kejujuran daripada sang putra.


"Kamu nggak bohong kan?" tanya Aditya lagi.


"Beneran Yah, bener kok aku nggak bohong kita baik-baik saja."


"Syukur deh kalau kalian baik-baik saja."


"Jadi kapan kamu sama Maryam kasih Ayah cucu?" Aditya kembali bertanya, dan hal itu sukses membuat Bian kelabakan. Bingung juga mau menjawab apa.


"Itu, masalah itu, itu gak bisa dipastikan Yah, kan itu kan bukan kehendak kita," dalih Bian.


Aditya mengangguk-anggukan kepala, kemudian laki-laki itu berdiri dan menepuk pundak putranya sebelum dia pergi.


Bian bernafas lega, paling tidak untuk sekarang. Dia tidak tahu akan menjawab apa lagi jika sang ayah ataupun yang lainnya menanyakan hal yang sama.


Memang benar hal itu bukanlah kehendak dia, tapi mencobanya saja tidak pernah bagaimana bisa dibilang berusaha? Huft, rasanya Bian ingin menenggelamkan diri saja.


"Sabar Bian, sabar," gumamnya seraya mengelus dada bidangnya.


Sari yang tadinya menyadarkan badannya di dinding, kini berdiri tegak menghadap Bian dan tersenyum dengan manisnya.


Dia menyodorkan kotak makanan, Bian memandang Sari dan kotak itu bergantian. Sari menganggukkan kepala memberi kode untuk Bian menerimanya.


"Apa ini?" tanyanya.


"Bom!" jawab Sari. " Ya bekal makanan lah apa lagi coba!" sambung Sari sedikit kesal.


Bian terkekeh. "Makasih ya," ucap Bian yang di angguki oleh Sari.


Mereka berjalan ke ruangan Bian, setelah sampai mereka duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Ini yang masak siapa?" tanya Bian seraya membuka kotak tersebut yang tertera makan siang dengan tatanan yang begitu cantiknya .


"Wow," kagum Bian.


"Aku niatnya mau buka resto Jepang gitu, jadi ini khusus untuk kamu, kotak makan siang pertama yang aku buat khusus." Kata Sari.


"Ini nanti yang akan jadi menu andalan di restoran aku," sambung Sari.


"Wow, jadi aku seperti bahan percobaan nih?" tanya Bian pura-pura sedih.


"Iya-iya itu kan percobaan, sudah aku kasih jampi-jampi biar tambah suka," kekeh Sari.


Bian hanya tertawa kecil mendengar hal itu.


"Ya sudah makan lah, dan beri aku komentar yang bagus ya tuan," canda Sari.


Bian hanya mengangguk kemudian mulai menikmati makan siangnya dengan tenang, dan sesekali dia mengulas senyum. Vian berekspresi seperti memakan hal yang begitu nikmat.


Tanpa disadari mereka, ada sepasang mata yg memperhatikan aktivitas mereka. Dan tanpa kata dia meninggalkan tempat itu.


Dia berjalan dengan langkah yang sedikit malas hingga karena ketidak hati-hatiannya dia menabrak Aditya, sang mertua.


"Ah! Maaf," ucap Maryam sembari menundukkan kepalanya sopan.


"Loh Nak, kamu disini?" tanya Aditya yang melihat menantunya dan tersenyum.


Maryam mendongak dan mendapati Aditya, dia pun tersenyum dengan canggung kemudian meraih tangan Aditya untuk dia salami.


"Kamu mau ke Bian?" tanya Aditya seraya melirik kotak bekal yang dibawa oleh Maryam. Maryam yang mengetahui itu pun langsung menyembunyikannya.


"Ah! Nggak. Aku tadi kebetulan lewat cuma mampir saja sih, dan ini buat Ayah," kata Maryam seraya menyodorkan kotak bekal itu kepada Aditya.


Aditya dengan refleknya menerima kotak bekal yang di berikan Maryam. "Wah-wah, pasti enak nih. Makasih ya sayang," ucap Aditya seraya mengelus sayang pucuk kepala Maryam.


Maryam mengangguk, "ya sudah ya Yah, Maryam kembali ke hotel dulu jam istirahat hampir habis soalnya." Pamit Maryam dan kembali menyalimi tangan Aditya sebelum pergi dan di angguki oleh Aditya.


Setelah mengatakan itu, Maryam pun meninggalkan Aditya di tempat. Aditya melihat punggung Maryam yang semakin menjauh bergantian dengan kotak yang ada di tengahnya. Laki-laki itu menghela nafas panjang.


"Dasar anak muda," kekeh nya.


Aditya kembali melanjutkan niatnya untuk ke dalam ruangan sang putra, dan dia melihat pemandangan yang bisa menjawab kenapa kotak bekal itu berada di tangannya.


Dia sedikit kesal tapi dia tidak bisa berbuat apapun karena memang hal itu bukan lagi urusan dirinya, dan tugasnya dia disini adalah untuk mengingatkan Bian jika ada hati yang perlu dia jaga.


Aditya tidak mau jika putranya mengulang kembali kesalahannya di waktu dulu dan akan menyesali perbuatannya seumur hidup.


Cukup hanya dia dan tidak mau jika sang putra mengikuti jejaknya.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍