I Finally Found Love

I Finally Found Love
81.



HAPPY READING MAN-TEMAN πŸ€—.


πŸ•³οΈπŸ•³οΈπŸ•³οΈπŸ•³οΈ


Hari ini adalah hari pemeriksaan rutin kandungan Ameera. Amier dan Ameera begitu antusias dengan momen-momen si kecil yang masih di dalam kandungan begitu aktif.


Tapi di usia kehamilan ke delapan Ameera, sungguh membuat Amier ketakutan dan juga sengsara setiap harinya. Bagaimana tidak, kandungan yang awalnya sehat-sehat saja, kini bermasalah dan membahayakan ibu dan janin jika harus menyelamatkan keduanya.


Amier di hadapkan dengan pilihan yang sangat-sangat berat. Dia harus memilih istrinya, atau bayinya. Pilihan yang sangat sulit. Salah sedikit saja mengambil keputusan akan fatal bagi kehidupannya.


Amier mencoba menyembunyikan kenyataan, karena dia yakin jika akan ada jalan dari penciptanya. Dia yakin tak akan ada hal yang tidak mungkin di dunia ini.


Amier tak memberi tahu Ameera, karena dia tahu jika Ameera akan setres jika harus mendengar itu. Dan juga, dokter bilang jika hal fatal masih itu masih bisa di atasi.


Tapi, sungguh kenyataan manis yang dia harapkan tak bisa dia harapkan lagi. Sakit, sangat sakit saat mendengar harus menggugurkan kandungan sang istri, atau harus menyelamatkan sang istri pada saat melahirkan.


Siapa sangka jika pembicaraan antara Amier dan dokter di dengar oleh Ameera. Syok, sangat syok mendengar itu. Sejak mendengar hal yang menyakitkan, perilaku Ameera berubah. Dia jadi orang yang pendiam tak seperti biasanya.


πŸ•³οΈπŸ•³οΈπŸ•³οΈπŸ•³οΈ


Amier berfikir jika istrinya itu tengah menenangkannya dirinya untuk persiapan melahirkan nanti, tapi yang dia lihat sekarang lebih menyakitkan untuk dirinya.


"Ya Allah, kenapa engkau hadapkan aku cobaan yang seperti ini. Kami sudah lama menanti, kenapa? Kenapa saat kebahagiaan di depan mata kami, malah engkau mau ambil kembali kebahagiaan itu. Kenapa?" racau Amier.


"Apa salah dan dosa aku, ya Allah, kenapa engkau tak pernah memihak kami. Hati ini lemah ya Allah, pertahanan aku telah hilang. Aku harus apa ya Allah? Harus apa?" pandangan Amier begitu kosong.


"Ya Allah, Nak. Kamu nggak boleh ngomong begitu. Kamu nggak boleh menyalahkannya dan diri kamu sendiri. Bunda yakin akan ada jalan, Nak. Bunda yakin itu." Annisa mencoba menenangkan sang putra.


"Kenapa, Bun? Kenapa begitu berat?" racau Amier lagi.


"Amier, denger Bunda!"


"Dengerin Bunda, Amier!" seru Annisa menyadarkan Amier.


"Apa yang kamu katakan? Sadar, Nak. Sadar! Ameera, istri kamu lagi berjuang di dalam dan apa yang kamu lakukan? Hah!"


"Kamu harus lebih kuat. Kalau kamu begini, apa Ameera akan kuat? Kamu harus bantu do'a Sayang, nggak boleh kamu menyalahkan diri kamu sendiri apalagi nyalahin pencipta kamu. Itu nggak baik, Sayang."


"Sekarang kamu ambil wudhu terus sholat. Dan tolong, kuatkan hati kamu. Istri kamu butuh kamu, Sayang." Annisa menasehati panjang lebar.


Amier beristighfar dan menyesali perkataannya. Dia bangkit dari posisinya dan berjalan menuju musholla yang ada di rumah sakit tersebut.


Annisa menatap pilu putranya yang berjalan dengan langkah yang gontai menuju musholla. Annisa duduk di kursi tunggu menunggu kabar dari dalam ruangan putih itu.


Amier menunaikan ibadah sholat-nya dengan khusyuk. Setelah itu, Amier berdoa dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajah tampannya.


Setelah selesai dengan itu, Amier kembali ke tempat dimana Ameera tengah berjuang. Mulutnya tak lepas dari dzikir yang terus saja terucap darinya.


Amier berjalan dengan terburu-buru. Saat tak jauh dari ruangan, Amier melihat anaknya sedang di bawa oleh perawat dari dalam. Amier langsung berlari menghampiri.


Amier melihat anaknya itu seperti Ameera dan dirinya. Amier tersenyum, tapi detik selanjutnya dia memasang wajah yang serius dan bertanya pada perawat bagaimana keadaan sang istri.


Perawat itu terdiam sejenak. Suasana yang tadinya sedikit lega, kembali tegang saat mendengar Ameera yang mengalami pendarahan.


Amier meneteskan air mata. Dia menarik rambutnya frustasi. Annisa memeluk putranya mencoba menenangkan.


Ameera tengah berjuang kembali untuk tetap hidup. Amier kembali jatuh tersungkur dan air matanya kembali mengalir. Rasanya tulang kakinya tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya.


"Tapi Ameera, Bun?" lirih Amier.


"Bunda disini yang nungguin Ameera, kamu adzanin anak kamu dulu yah." Amier mengangguk lemah dan mengikuti perawat yang membawa anaknya.


Sesampainya di ruangan bayi, Amier menghampiri perawat dan meminta bayi yang berjenis kelamin perempuan.


Di tatapnya wajah mungil malaikat cantiknya dengan sedikit tersenyum dan air mata. "Assalamualaikum, Sayang?" untuk pertama kalinya Amier menyapa putrinya itu dengan nyata.


Amier mendekatkan bibirnya di telinga kanan sang putri dan mulai mengadzani, lalu dia beralih ke telinga kiri menyerukan iqamah.


πŸ’’πŸ’’πŸ’’πŸ’’


Hari sudah malam, tapi Amier belum juga berpindah posisi dari duduknya dan menggenggam tangan istrinya. Dia hanya melepas tangan itu saat akan melakukan sholat saja.


Setelah melewati proses operasi tadi sore, Ameera sudah bisa melewati masa kritisnya dan kini telah di pindahkan ke kamar rawat VIP untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Amier menatap lekat wajah damai sang istri yang terlelap begitu nyaman. Dia tak tahu jika jantung sang suami telah di buat maraton dengan kabar yang menyakitkan.


Mau marah Amier rasanya jika mengingat hal bodoh yang di lakukan oleh Ameera. Dia memang salah karena tidak jujur dengan istrinya. Tapi dia tak menyangka akan seperti ini jadinya.


"Kau harus tanggung jawab sudah buat aku jantungan dengan kondisi kamu."


"Bangunlah, aku mau buat perhitungan denganmu."


Amier terus saja mengomel tak mau berhenti meski dia tahu jika istrinya itu tak bisa menyahuti, ataupun membalas omelan nya.


"Oh iya, anak kita perempuan, cantik kayak kamu. Dan dia juga mirip aku." Amier tersenyum pilu.


"Kamu sekarang sudah jadi ibu, kamu nggak mau ketemu dia kah? Dia tadi sore nangis loh. Suaranya kenceng macam kamu waktu ngomel." Amier menghela nafas panjang.


"Hei, Ameera! Bangun cepat, kamu nggak lihat aku macam orang-orangan sawah kah? Aku berantakan sekarang, kami harus ngurusin aku biar tambah tampan!" omel Amier.


"Ayo bangun. Aku lagi ngomel nih, kamu nggak mau bales ngomelin aku kah? Ayo bangun. Aku kangen sama kamu. Dek," suara Amier semakin lirih bahkan terdengar seperti berbisik.


Saking lelahnya Amier karena dari pagi hingga sampai detik ini dia sama sekali belum memejamkan mata dan beristirahat, laki-laki itu melepaskan tangan sang istri dan menyelimuti nya.


Amier berjalan ke sofa dan merebahkan tubuhnya. Di tatapnya lagi ranjang pesakitan istrinya sebelum mata itu terpejam sempurna.


****


"Hei, bangun. Kamu nggak mau bangun kah? Kalau nggak mau bangun aku pergi ya," ucap seseorang.


Mata Amier bergerak di balik pejaman nya sebelum mata itu terbuka dan menyipit. Di lihatnya samar-samar seseorang yang tersenyum begitu cantik di hadapannya.


Amier membuka matanya lebar dan langsung memeluk orang itu. "Kamu bangun. Sayang!" seru bahagia Amier.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.


OH IYA, MAKASIH YA BUAT VOTE NYA, MESKI KETINGGALAN JAUH SAMA YANG LAIN, TAPI AKU TETAP SENENG KARENA CERITA AKU BISA KALIAN NIKMATI.


MAKASIH JUGA BUAT KALIAN YANG MAU SETIA DENGAN UPDATE'AN AKU MESKI KADANG MOLORπŸ˜† SEMOGA CERITANYA SELALU BUAT KALIAN PENASARAN.


VOTE YANG BANYAK BIAR SEMANGAT πŸ’ͺπŸ˜†βœŒοΈ SEE YOU 😘.