I Finally Found Love

I Finally Found Love
28.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Pasangan 'A' itu sudah sampai dan sekarang sudah dalam boutique sang tante mama dari Adiba. Ameera terlihat sibuk dengan kebaya yang dia kenakan di bantu oleh asisten Naura untuk mengukur ukuran dari Ameera.


Amier duduk diam di sofa sembari memainkan ponsel nya. Ada yang tiba-tiba duduk di samping Amier membuat nya terlonjak kaget.


"Ngapain di sini?" tanya nya dan bersandar di bahu Amier.


Amier melirik kesal pada gadis di sampingnya itu, gara-gara dia diri nya harus membujuk sang kekasih. "Mancing!" sahut nya geram.


Adiba tergelak. "Woi! Ini bukan empang ya mohon maaf." Sahut nya masih dengan tawa nya.


"Aku yakin kenapa Kami batu kesini jam segini gara-gara nge-bujuk Ameera dulu." Adiba menebak.


Amier memicingkan mata nya. "Dari mana Kamu tau?" Amier curiga.


"Ya secara gitu, Aku juga cewek. Kalau Aku jadi Ameera juga bakalan ngambek calon suami nya lupa sama jadwal fitting baju pengantin. Dan sayang nya Ameera itu gampang luluh nya, coba Aku..." Ucapan Adiba terpotong melihat ekspresi wajah galak Amier. Dia meringis ngeri namun tidak membuat nya takut.


Amier meletakkan ponsel nya dan menatap tajam Adiba. "Jadi Kami sengaja?!" geram Amier. Adiba mengangguk polos serasa tak bersalah.


"Adiba!" seru Amier. Dengan tempramen Amier pasti nya dia akan marah, tapi dia tahu porsi marah nya seperti apa. Dan lihat lah Adiba, dia hanya tersenyum polos saja.


Astaga gadis ini jahil nya dari dulu nggak hilang-hilang. Suara seruan Amier mengundang Naura sehingga dia menghampiri keponakan dan juga. anak perempuan nya itu.


"Ada apa ini?" tanya Naura bingung yang melihat ekspresi Amier dengan wajah yang merah.


Sedangkan Adiba, tentu nya dia biasa saja. Memang lah dia selalu begitu, sifat jelek nya belum hilang dan sekarang malah bertambah mengesalkan. Tapi, dia tahu batasan nya.


Dia tahu bagaimana Ameera, gadis berhati lembut yang bisa di luluh-kan. Dan dia percaya Amier bisa melakukan nya. Jadi dia seperti hal sepele dengan berbuat seperti ini.


Sedikit hiburan sebelum pernikahan terjadi, pikir nya.


"Ada apa ini Amier?" tanya Naura masih tak mengerti.


"Tante tanya saja sama anak gadis Tante yang nakal nya minta ampun ini!" jawab Amier yang sudah menurunkan nada bicara nya.


"Adiba?" panggil Naura beralih bertanya.


"Nggak ada apa-apa kok Mah. Adiba cuma main saja nggak lebih." Adiba menjelaskan, jangan lupakan senyuman manis yang dia berikan.


Naura menghembuskan nafas kasar. Dia rasa dia tahu apa yang terjadi sehingga membuat Amier marah dan keterlambatan Amier bersama Ameera, dia rasa hal itu berkaitan dengan nakal nya Adiba. Memang lah benar-benar putri nya itu.


Naura memicingkan mata nya melirik pada sang putri yang hanya menyengir polos. Naura menggelengkan kepalanya. Wanita yang sudah memasuki usia kepala empat itu pun menjewer telinga membuat gadis itu mengaduh.


"Iya maaf Ma, nggak gitu lagi, aduh! Sakit Mah!" seru Adiba yang memegangi telinga nya yang pedas dan me-merah.


Naura melepas jeweran nya. "Maaf Mah." Sahut nya.


"Kenapa sih Kamu nakal nya nggak ilang-ilang Diba?!" geram Naura.


"Ya maaf Ma, kan Diba cuman main-main doang." Adiba memanyunkan bibirnya lucu.


"Ya sudah sana masuk ambil yang kamu mau tunggu Mama di sini sebentar, jangan kemana-mana sebentar lagi Mama selesai!" peringat Naura.


"Siap komandan!" sahut Diba memberi hormat.


Amier melirik tajam pada saudara nya itu dan Adiba mengatupkan kedua tangan nya dan menunjukan gigi nya dengan tersenyum polos.


"Anak siapa sih Kamu?!" kesal Amier.


"Ya anak nya Mama...."


"Stop! Stop! Aku sudah tau jawabannya nggak usah di terusin."


Ucapan Adiba terpotong dengan kekesalan Amier, tapi kekesalan nya membuat Adiba terpingkal. Saat Adiba terpingkal, Amier merangkul leher gadis itu dan menjitak kepala nya.


Amier tak menghiraukan seruan Adiba yang kesakitan dan minta di lepaskan. Meski main-main, tetap saja ada rasa sakit di kepala nya.


"Mama tolongin Diba! Ada monster jelek!" teriak Diba meminta tolong.


"Apa-apaan minta tolong, nggak ada tolong-tolongan. Emang nya tenggelam minta tolong!"


"Amier lepasin Aku! Aaa... Mama!" Amier semakin genjar menjitak kepala Diba.


"Ehem!" dehem Naura. Amier dan Adiba berhenti berdebat.


Mata mereka melirik bersamaan dan terpaku. "Wow!" kagum Adiba melihat calon adik ipar nya.


Amier? Jangan tanyakan lagi. Dia bahkan tak berkedip. Kesempatan itu di gunakan oleh Adiba untuk melepaskan diri dari Amier.


"Awas copot itu mata!" ledek Diba. Amier tak menghiraukan apa kata Diba, dunia nya terhenti saat itu juga. Fokus nya hanya Ameera seorang.


"Bagaimana?" tanya Naura yang melihat Amier begitu kagum dengan penampilan Ameera saat ini.


"Perfeck." Ujar nya memuji.


"Apa kata Tante tadi, Kamu itu memang cantik. Jadi mau pakai apapun pasti sesuai sama Kamu." Ungkap Naura pada Ameera yang terlihat malu-malu.


Amier mendekat pada Meera tanpa mengalihkan pandangan nya. Sungguh menawan calon istri nya itu. Bahkan memakai kebaya yang sederhana yang belum sepenuhnya jadi itu pun sangat cantik.


Bagaimana jika sudah di pasang detail nya lagi nanti, pasti nya akan semakin manis lagi.


Bagaimana Amier tak jatuh cinta jika begini?


"Sudah-sudah, nanti keburu malam pulang nya. Yang penting sudah tahu ukuran nya dan semua akan beres dua hari sebelum hari H." Naura mengintrupsi.


Amier tersadar dari dunia nya. Dia tersenyum canggung pada sang tante.


Ameera kembali untuk melepas kebaya dan berganti pakaian. Hari ini hanya untuk ke-dua mempelai saja, dan untuk keluarga esok hari nya. Amier dan Ameera ingin mempersiapkan pernikahan nya sendiri, tidak seperti Asyifa dulu, yang segala nya di siapkan oleh Bima, dan kedua orang tua nya.


Ini semua adalah permintaan Ameera. Dia ingin mempersiapkan segala nya sendiri, mulai dari gedung resepsi sampai hal terkecil adalah adalah hasil nya. Untuk hal catering, bunda Annisa yang menangani.


Meskipun repot, tapi Ameera begitu menikmati kesibukan nya. Amier membiarkan hal itu, meski dia selalu cerewet pada kekasih nya untuk tidak terlalu capek. Tapi di balik semua itu, Amier tahu jika kesibukan gadis itu adalah cara nya mengalihkan kesedihan dari meninggal nya ke-dua orang tua nya yang belum lama ini.


Amier selalu menanamkan di dalam dirinya sendiri, tak akan pernah menyakiti Ameera yang sebentar lagi akan menjadi istri nya tersebut.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.