I Finally Found Love

I Finally Found Love
83.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Sudah satu Minggu ini Ameera dan bayi mungilnya pulang, dan hari ini juga mereka mengadakan aqiqah untuk anak pertama mereka.


Ameera tengah berdiri di depan kaca dan memilah-milah pakaian mana yang akan dia pakai. Sebenarnya sudah dari tiga hari yang lalu pakaian yang seragam dengan suami sudah jadi, tapi saat dia akan memakainya, pakaian itu sudah tidak muat.


"Ya Allah, nikmat banget." Ameera bergumam.


Dia menengok putrinya yang sedang mengoceh. Dan Ameera menghampirinya. "Nggak apa-apa kok, Sayang. Bunda suka badan Bunda melar, nggak apa-apa." Ameera berbicara sendiri.


Amier yang ternyata sudah di belakang Ameera dan mendengar itupun tertawa tertahan. Lucu sekali istrinya itu.


"Sabar ya, Sayang." Amier semakin mendekat.


Ameera menoleh dan tertawa canggung. Amier terkekeh dan menyerahkan paper bag pada istrinya itu. Ameera menerima dan mengerutkan keningnya. "Apa ini, Mas?" tanyanya.


"Buka saja, aku yakin itu yang kamu butuhkan saat ini." Amier memberi tahu.


Ameera mengangguk dan membukanya. Mata wanita itu berbinar, benar katanya itu adalah yang dia butuhkan sekarang.


"Makasih ya, Mas." Ameera memeluk suaminya.


Amier membalas pelukannya dan mengacak rambut Ameera lalu melirik putri kecilnya yang terlihat tersenyum. Amier mengerlingkan matanya dan di respon ocehan oleh putri cantiknya itu.


"Ya sudah, kamu ganti baju dulu. Sudah pada kumpul di luar," ucap Amier dan merenggangkan pelukannya.


Ameera mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Amier berjalan mendekati boks bayi dan mengangkat putrinya yang dia beri nama ALEENA BARIYYAH MUHADZDZABAH. Yang artinya, perempuan dengan sifat yang lembut dan terpuji akhlaknya.


"Cantiknya Ayah mau gendong kah?" ucap Amier kemudian mengangkat tubuh mungil malaikat cantiknya itu.


Dia menggendongnya dan duduk di single sofa lalu mengajaknya bercanda. Tak lama, Ameera keluar dari kamar mandi dan meminta pendapat Amier.


Amier mendongak dan menggerakkan jarinya memberi simbol oke. "Perfect," ucap Amier tersenyum senang.


Ameera ikut tersenyum dan kembali merapikan dandanannya. Setelah selesai, Ameera mengambil alih bergantian menggendong putri mereka dan gantian Amier mengganti pakaian yang senada dengan istrinya.


"Yang mau di cukur, yang anteng ya cantik?" ujar Ameera menimang Aleena.


"Sudah, ayo." Amier mengajak istrinya untuk keluar menemui keluarga besarnya.


Mereka berjalan keluar dan menemui keluarga besar yang sudah berkumpul. Raut wajah bahagia mereka terpancar melihat tokoh utama mereka hari ini.


Semua berkumpul tak terkecuali Nizam, kakak Ameera. Meski sempat geram dengan hilangnya sang adik waktu itu, tapi setelah mendengar penjelasan dari Amier saat dia berkunjung kemarin, Nizam merasa bahwa ada benarnya, tapi tetap saja dia begitu tak terima jika adik semata wayangnya di buat menangis seperti waktu itu.


"Yang mau di cukur anteng banget sih?" sapa Shinta yang begitu gas dengan anak sahabatnya itu.


"Iya Tante, oh iya makasih ya Tante sudah mau hadiri aqiqah aku," sahut Ameera dengan nada layaknya anak kecil.


"Oh iya, anak kami kemana?" tanya Ameera celingukan.


"Oh, dia lagi main sama Afnan," jawab Shinta menunjuk sang putra yang tengah main bersama anak Maryam.


Ameera mengarahkan pandangannya pada arah yang sama. "Kayaknya Raka pengin punya adek, deh Shin," gurau Meera.


Shinta melototkan matanya. "Dia masih kecil ya, aku nggak mau kalau dia jadi kurang perhatian." Shinta menyahuti dengan serius.


Ameera terkekeh. "Iya, aku tau kok." Ameera menanggapi.


"Cicit Opa," sapa kakek Amier yang mendekat dengan menggunakan kursi roda.


Mereka berdua menoleh. Ameera mendekati kakeknya dan menyalami begitu juga dengan Shinta.


"Opa sehat?" tanya Ameera.


Opa tersenyum senang, meski wajahnya banyak keriput, tapi laki-laki tua itu masih terlihat segar meski harus menggunakan kursi roda.


"Sehat terus ya, Opa. Biar bisa lihat aku berjalan," sahut Ameera masih dengan nada anak kecil.


"Ayo-ayo, acara segera di mulai," panggil EO yang men-handle acara.


Mereka duduk di ruang tengah yang sudah di penuhi anak-anak yatim, ibu-ibu pengajian, para sahabat, dan juga tetangga. Begitu ramai di rumah utama Al-Husein hingga sampai ke luar rumah.


Ada alasan mengapa Annisa dan keluarga tidak menggunakan tempat seperti gedung yang di tawarkan, mereka memilih rumah dengan alasan yang sangat sederhana.


Mereka hanya ingin setiap momen pertama ada di rumah. Hanya itu.


Acara berjalan dengan lancar dan hikmat. Kelahiran anggota baru ini sangat sepesial, karena itu murni dari keturunan Al-Husein.


Meski tak pernah membedakan, tapi kelahiran Aleena tetap menjadi momen yang sepesial untuk Opa nya, dia begitu bahagia karena di usianya yang sudah tidak muda lagi masih melihat rupa dari keturunannya.


💢💢💢💢


Aleena di ambil alih oleh Amier untuk dia timang dan membiarkan Ameera untuk berkumpul dengan temannya.


"Oh iya, aku masih penasaran deh kenapa Amier bisa pingsan sampai tiga hari lamanya, betah banget ya," celetuk Shinta yang masih penasaran.


Ameera tertawa kecil. Teman-teman Ameera juga datang dan mereka kini berada di gazebo kolam renang sambil bersantai.


"Jawab dong," paksa Shinta dengan tak sabar.


"Lagian, kamu kenapa bisa ingat yang itu sih, nggak ada pertanyaan lain kah?" heran Ameera.


Shinta menggaruk kepalanya yang tak gatal sembari tersenyum canggung. "Kami kan tau sendiri kalau aku orangnya suka penasaran." Shinta berkilah.


"Jadi awalnya itu, aku kan sadar dari tidur aku waktu itu kan, nah kebetulan Amier lagi tidur, denger aku manggil-manggil orang dia jadi bangun dan kaget.


"Dia langsung berlari terus kesandung meja. Ya gitu deh. Aku juga nggak tau bisa pingsan selama itu," heran Ameera. Mereka tertawa kecil.


"Mungkin dia ketemu sama cewek cantik di mimpinya," celetuk teman Ameera dengan tawa tertahan.


"Sembarangan!" kesal Ameera tapi tertawa juga.


"Yang, si cantik haus kayaknya," ujar Amier yang mendekati Ameera dan yang lainnya.


Ameera mendongak dan bangkit dari duduknya lalu mengambil alih Aleena.


"Aku tinggal ke dalam dulu ya," ucap Ameera pada teman-temannya.


Amier merangkul pundak sang istri dan pergi, tapi baru beberapa langkah mereka berjalan, salah satu teman dari Ameera membuat Amier menghendaki langkahnya dan menoleh.


"Yang jadi suami siaga," sindirnya.


"Pengin ya?" ucap Amier dengan nada meledek.


"Nanti juga nyusul!" sahutnya dengan nada sedikit kesal.


"Jangan kelamaan, keburu kak Nizam di gaet sama bule loh," ledek Amier lagi.


Asma nama gadis itu terlihat begitu kesindir, Ameera dan yang lain terkekeh mendengar itu.


"Apa perlu aku bantuin? Dari pada katanya mau usaha sendiri tapi nggak ada pergerakan," nada bicara Amier begitu menyebalkan di telinga Asma.


Mata Amier mengarah ke belakang Asma. "Kak Nizam!" seru Amier memanggil, wajah Asma terlihat gugup dan kemudian dia bangkit dari duduknya, pamit untuk ke toilet.


Dan hal itu membuat mereka tertawa.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.