I Finally Found Love

I Finally Found Love
37.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


"Apa kabar kamu?" Bian menyapa. Hati nya ikut tercubit dengan pemandangan di depan nya.


"Kita baru ketemu dua kali, tapi saat ketiga kali nya malah kamu ada di dalam sana." Bian tersenyum miris.


Saat Bian sedang mengobrol, seorang gadis yang tak lain adalah Maryam mengagetkan pemuda itu. "Siapa Kamu?" tanya nya.


"Pak Bian?" sapa Maryam. Bian menoleh ke belakang dengan tatapan yang datar. "Pak Bian ngapain di sini?" sambung nya.


Bian berdiri dan menatap Maryam dengan tatapan yang tak bisa di baca. Maryam jadi ngeri melihat nya.


Lama-kelamaan Maryam yang di tatap seperti itu pun menjadi tak nyaman. Di berdehem untuk menyadarkan Bian dari dunia nya.


"Maaf, Pak Bian ada di sini mau apa yah?" Maryam mengernyit heran melihat tatapan Bian yang tidak beralih dari diri nya.


"Ini orang kesambet Aku rasa." Maryam bergumam dalam hati.


"Pak?!" Maryam mencoba mengeraskan suara nya. Bian seketika tersadar. Pemuda itu mengalihkan pandangan nya ke sembarang arah.


"Kau ngapain di sini?" Bian balik bertanya.


"Loh, harus nya Saya yang tanya, ngapain Pak Bian di samping makam kakak Saya?" Maryam sedikit tersulut emosi. Bagaimana tidak, dia bertanya sedari tadi bukan nya menjawab malah balik bertanya.


"Saya sedang mengunjungi teman Saya." Bian menjawab dengan datar.


"Maksud Bapak? Yang di maksud teman Bapak itu ini kah?" tanya Maryam seraya telunjuk nya menunjuk pada pusara sang kakak.


Bian mengangguk mengiyakan. Maryam semakin bingung. Karena setahu nya sang kakak tidak pernah bercerita tentang hal ini. Dia tahu semua teman kakak nya, tapi tidak dengan pemuda yang satu ini.


"Maaf Pak, Saya rasa Bapak salah tempat, setahu Saya kak Anita nggak pernah ada cerita tentang Pak Bian. Dan Saya sangat tahu siapa saja teman kakak Saya, dan tidak sembarang orang bisa berteman dengan kakak Saya." Jelas Maryam panjang lebar.


Bian hanya menjadi pendengar yang baik saja ketika gadis di depan nya itu mengomel, ralat, Memberi tahu.


"Benarkah? Aku rasa Kakak Kami tidak memberitahu segala tentang hal itu." Bian tersenyum miring.


Maryam hanya terdiam saja. "Sudah, Saya permisi dulu. Saya ada urusan lain." Bian berjalan melewati Maryam, tapi selangkah di belakang Maryam, dia berhenti.


"Oh iya, mungkin Kamu akan sering menemui Aku." Setelah mengatakan itu Bian meninggalkan Maryam.


Maryam masih mencerna apa yang di katakan oleh Bian. Apa maksud dari kata-kata nya dia tidak paham.


"Orang aneh." Maryam bergumam dan mengabaikan.


💢💢💢💢


Di sebuah supermarket, Amier dan Ameera sedang berdebat. Objek yang mereka ributkan sebenar nya sangat sederhana, tapi ego mereka itu yang tidak mau mengalah satu sama lain.


"Aku bilang yang ini saja. Kami ngeyel banget sih!" kesal Amier menatap tajam.


Tajam nya mata Amier tidak akan bisa membuat Ameera ketakutan. Gadis itu malah balik menatap nya tajam.


"Bunda biasa nya pake yang ini Amier!" Ameera tak mau kalah.


"Siapa yang Kamu panggil bunda? Kamu itu ngeyel banget sih di bilangin. Aku yang lebih tau apa yang jadi favorit bunda!"


"Aduh Amier, Kamu nggak percayaan banget sih." Ameera menghentekkan kaki nya.


"Astaghfirullah ini cewek!"


"Pasangan baru nggak boleh berantem loh," Seorang perempuan yang tengah mengambil barang mengintrupsi perdebatan kedua nya.


Ameera tersenyum canggung dan Amier mengalihkan pandangan nya ke sembarang arah.


Seseorang yang tidak lain adalah seorang wanita itu terkekeh melihat tingkah kedua nya. "Sekarang berantem besok baikan lusa cemburu dan seterusnya jadi cinta." Sambung nya.


Ameera mengangguk malu. Amier menyerahkan troli belanjaan kepada Ameera dan pergi dari tempat nya berdiri.


Ameera menatap punggung Amier yang kian menjauh lalu Ameera melirik perempuan itu yang masih tersenyum pada nya. Ameera ikut tersenyum meski masih dalam kecanggungan.


💢💢💢💢


"Ngeselin banget sih itu cewek!" gerutu Amier sembari berjalan entah kemana.


Amier bertolak pinggang dengan nafas yang memburu karena kesal. "Lagian bunda kenapa minta Aku yang nemenin sih, padahal keluarga kan banyak yang berkumpul. Dan kenapa pula Aku mau. Aarrgghh!" kesal nya.


"Jadi laper. Itu cewek Aku tinggal bentar nggak apa-apa kali yah." Amier celingukan mencari tempat makan.


Setelah melihat tempat yang ingin dia singgahi, pemuda itu pun menghampiri nya dan duduk di salah satu meja paling pojok dekat jendela kaca.


Dia memesan makanan. Dan akan menikmati, tapi saat ingin menyuapkan sesendok makanan nya, dia terhenti dan meletakkan nya kembali di piring nya.


Dia mengambil ponsel. "Gadis itu kayak nya belum makan juga deh." Amier mengotak-atik ponsel nya.


"Oh iya, Aku kayak nya nggak punya nomor nya deh." Amier bergumam lalu memencet menu kontak di ponsel nya.


Dahi nya berkerut melihat satu nama di panggilan favorit nya, dia penasaran dengan nama tersebut dan memencet panggilan.


Mata Amier membulat dan kaget. Pemuda itu menjauhkan ponsel nya dan melihat foto kontak tersebut. Diri nya dan Ameera. Itu adalah gambar diri nya dan Ameera.


Amier tersentak saat suara yang mengagetkan nya dari seberang sana. "Aku tunggu di rumah makan SR sekarang." Setelah mengatakan hal itu, Amier menutup telepon nya.


Otak nya masih berfikir dengan apa yang terjadi sekarang. Apa maksud dari ini dia tidak tahu.


Lima belas menit kemudian Ameera datang dengan troli belanjaan nya. Gadis itu meletakkan troli belanjaan nya di depan rumah makan tersebut.


Ameera masuk ke dalam dan tersenyum saat melihat pemuda yang di cintai nya. Gadis itu mendekati meja Amier. Amier masih dalam dunia nya sendiri tak menyadari kedatangan Ameera.


"Amier?" sapa Ameera. Amier mendongak dan melihat senyuman Ameera yang begitu tulus. Entah mengapa senyuman itu begitu membuat nya tenang dan dia menyukai nya 'sekarang'.


Amier berdehem dan menyuruh Ameera untuk duduk. "Mana belanjaan nya?" tanya Amier seraya melihat sekeliling Ameera.


"Oh, itu Aku taruh di depan." Ameera menunjuk ke luar rumah makan.


Amier mengangguk. "Mau makan apa?" tanya nya kemudian.


Ameera melambaikan tangan nya memanggil pelayan dan memesan apa yang dia inginkan.


Pergerakan Ameera tak luput dari pengamatan Amier. Dia masih saja penasaran dengan apa yang terjadi.


Setelah makanan datang, mereka menikmati nya. Amier terus saja melirik dan mengamati. Sesekali juga Ameera memergoki Amier yang tengah menatap nya. Meski terlihat aneh tapi Ameera tetap tersenyum.


"Kenapa natap Aku begitu?" tanya Ameera kebingungan.


Amier menggeleng. Setelah nya hanya ada suara dari pelanggan yang lain saja. Ameera bingung untuk berbicara ataupun bertanya. Rasa nya begitu canggung saat ini. Dan Amier, dia masih ragu untuk bertanya.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.