
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Tak jauh berbeda dari kediaman Asyifa dan Malik, di rumah Bian pun sudah melakukan hal yang sama yaitu memasak.
Bian pagi-pagi sekali sudah berkutat di dapur selepas menunaikan shalat subuh dan berbelanja di pasar tradisional. Dan juga laki-laki itu tak pernah kehilangan senyumnya.
Bian merasa sangat bahagia pagi ini, bahkan selama dia memproses makanan yang dia buat dengan tangan terampil nya pun senyuman itu tak pudar. sedangkan Maryam masih tertidur pulas setelah menunaikan shalat subuh.
Setelah semua sudah siap, Bian menatanya dengan cantik di atas meja. Laki-laki itu menoleh pada dinding yang terdapat jam yang menunjukkan jam 08.00 Waktu yang cukup siang untuk dirinyq, dan sang istri masih belum juga keluar dari kamar.
Bian melepaskan apronnya dan berjalan menuju kamar. Dia menggeleng lalu tersenyum melihat sang istri yang tertidur begitu pulas, laki-laki itu mendekatinya dan mengusap lembut pipi Maryam.
"Bangun yuk, sudah siang. Kita sarapan dulu," ucap Bian berbisik di telinga Maryam.
Maryam yang terasa terusik pun mendorong wajah Bian kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi sang suami mencari posisi yang enak untuk dia kembali lagi berkelana di alam mimpi.
Bian terkekeh kemudian kembali mendekatkan wajahnya ke telinga Maryam dan berbisik lagi. "Percaya atau tidak, jika kamu nggak bangun sekarang aku jamin kamu nggak akan bisa turun dari ranjang ini dengan mudah!" ancam Bian pelan.
Maryam yang mengantuk itu pun membuka matanya perlahan dan membalikkan badannya menghadap sang suami. "Aku masih ngantuk tau Bi," gumam Maryam.
"Nanti dilanjut lagi tidurnya, sekarang waktunya bangun dan makan biar kamu ada tenaganya," ucap Bian lagi.
Maryam tak membantah, tapi dia malahan merentangkan tangannya meminta Bian untuk menggendongnya seperti layaknya seorang anak kecil.
Bian tertawa kecil merasa gemas dengan tingkah sang istri, tak biasanya seperti ini tapi dia suka dengan perubahan istrinya itu yang begitu manis.
Bian dengan sigap menggendong Maryam di depan seperti dia menggendong Ciara. "Kamu berat tau," ledek Bian.
Maryam tak marah, dia malah mengeratkan pelukannya pada leher Bian dan sedikit mengulas senyum.
Setelah sampai di meja makan, di dudukannya Maryam di atas meja. Di situ Bian mengungkung Maryam diantara kedua tangannya. Kemudian dicium kening Maryam, turun ke hidung dan terakhir bibirnya. Saat mencium bibir sang istri, dia lakukan berulang-ulang seperti halnya candu yang tidak bisa dia hentikan.
"Ayolah bangun kita makan dulu." Bian kembali mengajak.
Maryam hanya mengangguk, Bian kembali tersenyum. Maryam duduk di kursi di ikuti oleh Bian.
Bian akan melayani Maryam, tapi tangannya di cegah oleh Maryam dan di ambil alih sendok nasinya dari tangan Bian, kemudian Maryam mengambilkan nasi untuk Bian.
"Terima kasih ya," ucapnya setelah makanan sudah tersaji di piringnya.
Maryam mengangguk dan langsung menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.
"Terima kasih," ucap Bian lagi.
Mendengar ucapan terima kasih dari Bian lagi, Maryam kemudian mengehentikan suapannya, "kenapa berterima kasih lagi?" tanyanya.
"Terima kasih telah hadir di dalam hidupku dan menjadi bagian dari kisah hidupku," ucap Bian tersenyum namun pandangannya begitu sendu kemudian pandangannya menunduk.
Maryam yang melihat suaminya itu terlihat sedih mengulurkan tangan dan mengusap pipinya. Bian kembali melihat sang istri dan tersenyum lalu mencium telapak tangan Maryam.
"Kalau mertuanya kayak bunda Nissa, aku jamin tidak apa-apa," kekeh Maryam.
Bian ikut terkekeh "Iya, bunda Annisa memang sangat baik, bahkan dia yang terbaik," sambung Bian.
Maryam tertegun mendengar ucapan Bian, dia tahu sangat berat menjadi Bian. Konflik yang dulu dialami sang suami begitu pelik dan rumit, yang mengharuskan dan memaksa seorang anak kecil harus berpikiran dewasa.
Dari cerita yang dia dengar, Bunda Annisa adalah orang yang menolong Bian disaat terpuruk sewaktu dulu. Mungkin jika Maryam diposisi Bian, dia tidak akan sekuat Bian.
Tapi Maryam bersyukur, bahkan sangat bersyukur sekarang sudah dipasangkan dengan Bian. Meski hubungan mereka dulunya tidak baik dan bisa di bilang hanya memanfaatkannya untuk menolong keadaannya waktu itu, tapi sekarang dia sangat bersyukur telah dijodohkan dengan suaminya yang sekarang duduk di sampingnya itu.
"Aku juga mau minta maaf," ucap Maryam.
Dia menurunkan tangannya dan menunduk sedih karena sudah bersikap kurang ajar seperti itu kepada sang suami. Bian memegang dagu sang istri dan mengangkatnya untuk menatapnya.
"Jangan meminta maaf seperti itu, kamu nggak salah, malah aku bersyukur karena kamu yang menjadi istriku sekarang. Dan juga kalau aku pikirkan lagi, kakakmu itu adalah jembatan untuk menjadikan kamu sebagai istriku," ucap Bian tersenyum.
Menyebut nama kakaknya, wajah Maryam berubah menjadi sendu. Dia masih sangat kehilangan sosok kakak di hidupnya.
Bian yang melihat perubahan ekspresi wajah Maryam pun mengusak pelan kepala Maryam hingga rambutnya berantakan.
"Ih! Jangan di berantakin dong!" rengek Maryam.
"Habisnya kamu mikirin apa sih, biarkan kakak kamu tenang di sana dengan melihat kamu bahagia dan tersenyum terus menerus." Bian mencoba menghibur.
"Oh iya, apa kabar ibu di kampung? Beliau sehat kan?" tanya Bian tiba-tiba dan di angguki Maryam.
"Bagaimana lepas sarapan kita ziarah ke makam kakak dan lanjut jenguk ibu. Dan sekalian liburan disana, kan kalau pikiran relaks siapa tau ada sesuatu yang bergerak nanti di sini," ucap Bian mengusap perut Maryam lembut.
Maryam yang menyadari itu pun bersemu merah. "Itu baru semalam terjadi, mana mungkin bisa langsung jadi!" kesal Maryam tapi dengan ekspresi malu.
Bian terkekeh dan lagi-lagi mencuit hidung Maryam. "Sudah, ayo makan. Kalau nggak makan nanti kamu sakit." Bian menyudahi perbincangan mereka yang mungkin jika di lanjutkan akan ngalor-ngidul nggak jelas.
💢💢💢💢
Maryam memeluk erat Bian di atas motor besarnya. Bian sesekali memegang tangan Maryam yang melingkar di perutnya sambil tersenyum.
Sepanjang perjalanan menuju area pemakaman, mereka begitu romantis hingga membuat pengguna jalan yang lain ikut bahagia dan senyum-senyum sendiri, apalagi saat Bian menghentikan motornya di saat lampu merah.
Orang yang mengenal Bian mereka hanya tersenyum melihat kemesraan antara suami istri itu. Tapi yang tidak kenal dengan Bian, mereka menatap dengan tatapan sinis, karena menurut mereka sangat tidak pantas hal itu di tunjukkan di depan umum.
Tapi aneh juga jika tidak kenal dengan salah satu pengusaha muda sukses yang namanya ada di deretan orang-orang terkenal dan di sejajarkan dengan Bima dan Aditya.
Tapi Bian tidak peduli, karena dia bukanlah melakukan kejahatan ataupun hal yang buruk. Mereka sudah sah. Mereka bukanlah berbuat hal yang tidak senonoh. Yang penting mereka bahagia itu cukup, tidak peduli orang akan berkata apa.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍