
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
HATI-HATI TYPO BERTEBARAN 😂.
Ameera duduk di kursi taman, mata nya tak lepas dari ponsel di tangan nya. Dia datang bersama Amier, Amier sedang membeli minuman dan meninggalkan Ameera sendiri.
Sudah lebih dari dua minggu ini Ameera dan Amier jalan bersama, tujuan nya hanya satu yaitu untuk mengingatkan Amier kembali tentang kenangan nya waktu sebelum kecelakaan.
Ameera sangat bersyukur, paling tidak Amier tidak memusuhi nya seperti beberapa minggu yang lalu.
Amier kembali dengan membawa satu kantong plastik cemilan dan dua es krim di kedua tangan nya. Pemuda jangkung itu menyodorkan nya pada Ameera dan di terima dengan senang oleh gadis itu.
"Terimakasih." Ucap nya kemudian meletakkan es krim tersebut di samping dia duduk.
"Lagi apa?" tanya Amier seraya duduk di samping Ameera.
Ameera melirik sekilas dan tersenyum. "Ini Shinta, lucu deh Mier, kan cerita nya dia punya dosen pembimbing, nah ternyata si dosen itu di jodohin sama si Shinta itu." Ameera tertawa geli.
Bagaimana tidak, Shinta pernah cerita jika dosen itu amat sangat menyebalkan dan bersumpah tidak akan jatuh cinta ataupun suka sama si dosen, tapi lihatlah sekarang dia malah sudah mau di tunangkan dengan si dosen.
"Beneran deh ini lucu, Aku jadi penasaran sama cerita nya dia. Dan nanti anterin ke rumah Shinta ya habis ini." Pinta Ameera.
Amier mengangguk. "Makan dulu es krim nya nanti keburu cair."
Ameera mengangguk dan mengambil es krim tersebut lalu menyuapkan sesendok ke dalam mulutnya. Satu suap, dua suap, Ameera tak merasakan apapun. Tapi suapan ke tiga Ameera hampir tersedak saat sesuatu yang ikut masuk ke dalam mulut nya.
Ameera mengambil benda tersebut dan seketika air mata menetes dari pelupuk mata nya. Amier tersenyum. "Pakailah."
Ameera masih memandang benda kecil berbentuk lingkaran dengan berlian di atas nya. Ameera tak menyangka jika Amier akan melakukan hal yang romantis seperti orang yang akan melamar seorang gadis yang di cintai dengan membuat kejutan seperti ini.
Ameera kemudian memakai benda yang tak lain adalah cincin. "Cantik." Ameera masih meneteskan air mata.
"Kita nikah yuk?" ajak Amier.
Sontak Ameera yang tadi nya menunduk jadi mendongak karena perkataan itu. Ameera tak membuka mulut nya, hanya tatapan dengan penuh tanya yang dia berikan.
Amier yang melempar pandangan nya ke depan. "Aku memang belum sepenuh nya mengingat, tapi Aku yakin jika memang sebelum nya Kita ada hubungan," pemuda itu menoleh. "Aku mau Kita halal dan Kamu menjadi orang yang selalu di sampingku sampai kapanpun."
Ameera mengangguk dengan uraian air mata yang lebih deras lagi. "Tapi--"
"Tapi apa? Kamu nggak percaya sama Aku? Memang sih, Aku memang nggak ingat sepenuh nya. Tapi Aku yakin bahwa Kamulah yang ada di dalam hati Aku." Sambung Amier.
"Bisakah Kamu menemaniku dalam mengembalikan ingatanku?" tanya Amier sekali lagi.
Ameera mengangguk kembali. "Alhamdulillah." Amier ikut tersenyum mendengar jawaban pasti dari Ameera. Gadis yang selalu membuat Amier penasaran, dan selalu menyita waktu nya untuk memikirkan nya.
"Kita pulang sekarang?" tanya Amier dan di angguki oleh Ameera.
💢💢💢💢
Seperti yang di minta Ameera, Amier mengantar Ameera untuk ke rumah Shinta.
"Mau Aku jemput nanti?" Amier bertanya sesaat menghentikan mobilnya di depan halaman rumah Shinta.
"Tidak usah, nanti Aku mau menginap di sini. Mendingan Kamu pulang saja ya?"
Amier mengangguk. "Hati-hati, jika ada apa-apa hubungi Aku."
Setelah berpamitan, Ameera keluar dari mobil dan melambaikan tangan saat Amier kembali melajukan mobil nya.
Ameera memasuki rumah Shinta dan langsung mendapat pelukan manja dari Shinta. "Kalau sudah seperti ini pasti ada sesuatu nya." Ameera menatap curiga.
Shinta menyengir. "Tau saja. Eemmm... Ameera?" dengan nada manja Shinta memanggil Ameera seraya mengayunkan tangan sahabat nya itu.
"Boleh bantuin Aku buat ngomong sama Mommy Aku nggak?" mohon Shinta dengan tatapan puppy eyes- nya.
Ameera tersenyum terpaksa. "Yes!!" seru Shinta.
"Terimakasih my best friend !" Shinta memeluk erat Ameera.
"Tapi Aku nggak mau ikutin kemauan Kamu." Sahut Ameera. Senyuman yang tadi nya mengembang di bibir manis Shinta pun luntur seketika.
Shinta menjauhkan diri nya pada Ameera untuk bertatap muka. "Kok gitu sih?!" kesal Shinta.
Ameera menggaruk kepala nya bingung menjelaskan. "Mommy yang minta Ameera buat nggak ikut campur!" suara melengking dari mommy Shinta menyahuti.
Shinta menoleh dan memasang wajah jutek nya. "Mommy nggak ngerti mau nya anak nya!" kesal Shinta dengan menghentakkan kakinya seperti anak kecil.
"Mommy nggak mau tau ya Shin, Kamu sudah waktu nya menikah dan Mommy juga nggak sembarang pilih suami buat Kamu dan menjadikan nya mantu," sangkal Mommy Shinta.
Shinta menghampiri sang mommy dan berkelayut manja. "Mommy tega banget sih, kan Momm**y tau kalau Shinta masih kuliah. Dan juga Aku nggak kenal sama dia Mom !" Shinta makin kesal.
"Nanti juga kenal, Mommy nggak bisa stay di sini terus, kasihan Daddy Kamu sendirian di sana. Dan Mommy khawatir kalau Kamu kenapa-kenapa karena nggak ada yang jagain. Kalau menikah kan Mommy jadi tenang." Petuah nya.
"Kan Shinta bisa sama Ameera Mom?" Shinta tak mau kalah.
"Sebentar lagi Ameera mau menikah dalam waktu dekat ini." Ujar sang Mommy membuat Shinta menatap balik Ameera.
Ameera yang di tatap seperti itu pun hanya bisa menyengir dan menunjukan tangan yang tertera cincin yang melingkar di jari nya.
Shinta melotot dan kembali menghampiri Ameera lalu menggenggam tangan gadis itu. Shinta terlihat tak percaya. "Ini seriusan?!" tanya Shinta.
Ameera mengangguk mengiyakan. "Aaa... Ameera! Selamat ya!" seru Shinta tak kalah bahagia dan memeluk nya erat.
💢💢💢💢
Di kediaman Annisa, Amier berjalan dangan senyam-senyum sendiri tidak jelas. Hal itu tentu membuat sang Bunda mengernyit heran.
Amier menjatuhkan diri ke sofa masih dengan senyuman nya. Annisa yang melihat anak bujang nya yang terlihat aneh pun menghampiri dan langsung duduk di samping Amier kemudian menyentuh kening memastikan suhu.
"Tidak panas?" gumam Annisa bingung.
Amier yang di perlakukan seperti itu pun berdecak dan menyingkirkan tangan sang bunda. "Amier nggak demam Bun," kata Amier.
"Lalu kenapa senyum-senyim seperti itu?" tanyain wanita paruh baya itu.
"Amier habis melamar Ameera Bun." Ujar nya lengkap dengan senyuman manis ala Amier.
Annisa sedikit terkejut tapi dia senang karena sang putra akhir nya bisa memutuskan apa yang memang harus di putuskan.
Annisa yakin jika Amier akan pelan-pelan mengingat semua nya dengan ada nya Ameera di samping nya. Dan juga menghilangkan interaksi tidak halal nya sang putra. Annisa merasa lega.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.