I Finally Found Love

I Finally Found Love
59.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


"Mas," panggil Ameera manja.


"Hum," balas Amier.


Ameera berdecak kesal. "Mas!" seru Ameera.


"Apa sih sayang," sahut Amier kembali tapi tidak menoleh. Dia sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya.


"Ngadep sini dong," ucap Ameera lagi.


Amier melirik dan kembali fokus pada laptopnya.


Ameera memejamkan mata menahan kesal. "Mas jelek!" sungut Ameera menghentakkan kakinya dan keluar dari kamar meninggalkan Amier.


Amier yang mendengar suara pintu tertutup pun mendongak. "Ya Allah, bidadariku ngambek," monolog Amier.


Amier bangkit dari duduknya dan menyusul Ameera. Sedangkan Ameera sedang tertawa dengan Annisa.


Amier membuang nafas panjang. "Kirain ngambek," gumam Amier dengan tangan bertolak pinggang.


Amier menghampiri mereka dan ikut duduk di sofa seberang mereka duduk.


"Lagi pada apa?" tanya Amier.


Annisa dan Ameera menghentikan tawanya dan mendongak menatap Amier. Annisa terkekeh, obyek yang jadi bahan obrolan mereka ada di depan matanya.


"Ini loh, ini foto-foto waktu kamu masih bayi, lucu banget ya," jawab Annisa yang menunjukkan foto-foto Amier.


"Iyalah, Amier kan memang paling tampan. Iya kan Bun," bangga Amier.


Annisa mengangguk. "Tapi tadi ada yang bilang Amier jelek loh Bun," sindir Amier dengan melirik istrinya.


Annisa yang melihat lirikan Amier pun menoleh pada Ameera. Annisa mengerutkan alisnya. "Kenapa?" tanyanya yang melihat Ameera bermuka masam.


Ameera tak menjawab, dia malah berdiri. "Ameera ke kamar dulu ya Bun, Ameera ngantuk." Ujarnya.


Annisa mengangguk. "Tidurlah, lagi pula sudah malam." Annisa mengizinkan.


Ameera tersenyum pada Annisa dan melirik sinis pada sang suami, Amier meringis ngeri.


Annisa yang melihat ada sesuatu diantara mereka pun bertanya pada putranya. "Ada apa?" tanya Annisa.


"Nggak tau Bun, cuman tadi dia minta aku liatin dia, tapi kan aku lagi sibuk kan ya Bun, lagi ngurus laporan bengkel makanya aku cuma ngelirik doang," adu Amier.


"Masa sih, coba deh kamu ingat-ingat ada sesuatu hal yang berbeda kah di istri kamu?" tanya Annisa.


Amier mengingat-ingat apa yang berbeda dari sang istri. Setelah lama berfikir, Amier membulatkan matanya.


"Bun, kayaknya aku tau deh," ujar Amier.


"Sudah ingat?" tanya Annisa dan di angguki oleh Amier.


"Ya sudah tunggu apa lagi, susul istri kamu," desak Annisa.


"Kamu tau kan, hal sekecil apapun bagi wanita itu adalah penting, apalagi itu khusus untuk suaminya. Kalau suaminya nggak mau lihat dia, dia akan kecewa," nasihat Anisa.


Amier mengangguk dan beranjak dari duduknya untuk menyusul sang istri, Annisa menggelengkan kepala.


Sedangkan di dalam kamar, Ameera berbaring miring, Amier yang melihat istrinya itupun menghampirinya.


Amier memutari ranjang dan berjongkok di depan Ameera dan menatap wajah cantik istrinya yang tenang, tapi wajahnya masih mengisyaratkan kekesalan.


"Maafin aku sayang, aku yang nggak peka," ucap Amier seraya menyingkirkan anak rambut yang menutupi pipi.


Amier beranjak dari posisinya dan hendak pergi, namun tangannya dicekal oleh Ameera.


Amier menoleh, "kau belum tidur?" tanyanya.


"Nggak bisa tidur," manja Ameera.


"Kenapa?"


"Ih Mas nggak ngerti banget sih! Emangnya aku bisa tidur kalau nggak peluk Mas!" kesal Ameera.


"Tau ah!" Ameera menghentakan tangan Amier.


Amier duduk dan dengan sigap Ameera menggeser posisinya, terulur tangan Amier mengusap sayang pucuk kepala Ameera.


"Maafin aku ya," ucap Amier


Ameera mengangguk, segampang itu lah membujuk seseorang Ameera, hanya kata cinta dari Amier dan kata maaf yang tulus darinya bisa memadamkan api amarah dari seorang Ameera.


Permasalahan yang awalnya hanya karena baju yang dikenakan oleh Ameera yang sempat menjadi besar kini tengah selesai hanya dengan kata maaf dari Amier.


"Jadi mau tidur dipeluk nih?" goda Amier, dengan manisnya Ameera mengangguk.


"Ya Allah gemes banget sih istriku ini," Amier mencubit hidung sang istri dengan gemasnya.


"Cepetan aku sudah ngantuk," rengek Ameera.


"Enggak ada upahnya nih," goda Amier lagi.


"Jangan sekarang boleh nggak? Aku beneran ngantuk," mohon Ameera.


Amier tersenyum dan mengangguk kemudian dia membaringkan tubuhnya di samping sang istri lalu memeluknya, kebiasaan dari Ameera adalah mengusap-usapkan hidungnya di dada bidang sang suami yang membuat Amier kegelian.


"Sudah tidurlah jangan seperti itu," ucap Amier.


Tapi tetap saja Ameera tidak memperdulikannya yang dia tahu, yang dia suka itu akan dia lakukan.


"Mau nanya dong," Ameera memulai pembicaraannya lagi.


"Sudah tidurlah sudah malam," ujar Amier yang memejamkan matanya.


"Jawab dulu pertanyaan aku," ucap Ameera lagi.


"Ya sudah, apa pertanyaannya?" sahut Amier lembut.


"Kenapa sih kamu selalu mengalah sama aku? Padahal kamu tau aku suka aneh kalau marah," aku Ameera.


"Tau pun kalau marah suka aneh," ledek Amier.


Dada Amir dipukul oleh Ameera. "Ledek terus," sungut Ameera.


"Kalau kau tanya itu, maka ini jawabanku, cinta takkan mampu menyakiti cintanya, dan cinta tidak akan membuat cintanya sakit, seperti aku yang nggak mampu membuat kamu sakit apa lagi membuat kamu mengalirkan air mata dan aku nggak mau itu terjadi," ujar Amier.


"Iya kah?"


"Tentu saja, dia akan rela terluka demi cintanya meski nyawa adalah taruhannya," jelas Amier,


Wanita itu semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami.


"Maafin aku yang suka kekanakan ya," sesal Ameera.


"Tidak apa-apa, justru aku suka apa adanya kamu. Kamu tidak harus menjadi sempurna karena aku yang akan menyempurnakan kamu,"


"Aku nggak sesabar Siti Hajar, aku tak setangguh Siti Masitoh, aku juga enggak setaqwa Zainab, tapi aku ingin mencoba untuk menjadi istri yang sempurna seperti Siti Khodijah."


"Kamu memang nggak seperti mereka, tapi aku yakin kamu seperti Siti Fatimah yang menjaga cinta itu tetap utuh hanya untukku."


"Aamiin," sahut Ameera.


"Sudah, yuk tidur," ajak Amier dan di angguki sang istri. Mereka terlelap dalam mimpi yang indah.


💢💢💢💢


Pagi hari seperti biasanya, Maryam menyiapkan sarapan. Tapi Bian tidak menyentuhnya sama sekali, alasannya tetap sama bertemu dengan klien, ini sudah satu minggu lamanya mereka menjalani rumah tangga yang lebih dingin dari sebelumnya.


Maryam rasanya ingin marah tapi dipikir kembali apakah dia pantas mengingat hubungannya dengan Bian hanya sebatas kontrak, memang Bian sudah menyatakan cintanya secara gamblang di depan Annisa, mertuanya.


Tapi Maryam masih ragu dengan apa yang diucapkan Bian, mungkin saja Bian mengatakan hal itu hanya di depan Annisa.


Rasa cemburu sudah menghinggapi hati Maryam, pernah sekali saat Maryam sedang di restoran, dia melihat Bian yang tengah tertawa dengan bahagianya bersama wanita lain. Hatinya panas tapi dia tidak bisa berbuat apapun.


Mungkin dia sudah bisa membuka hatinya, tapi belum bisa mengungkapkan hal yang sebenarnya


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.