
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Keesokan harinya setelah pertemuannya kemarin dengan Maryam, si calon istri. Bian kini menjemput Maryam dan sang ibu untuk dia bawa ke boutique tantenya yang sudah di booking.
Bian menghentikan mobilnya di depan pekarangan rumah Maryam. Bian turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah Maryam.
"Eh sudah datang, silahkan masuk Nak," sambut ibu mempersilahkan Bian untuk masuk setelah membuka pintu.
"Maryam, Bian sudah datang Nak!" serunya memanggil anak gadisnya itu.
"Sebentar Bu!" seru Maryam dari dalam kamar.
"Aduh, kenapa cepet banget sih datengnya!" gerutu Maryam.
Perempuan itu sedang bolak-balik mengganti pakaian nya. Tapi sedari tadi tidak ada yang cocok dengan keinginannya.
Ceklek.
Suara pintu terbuka dan masuklah ibu Maryam dan kaget dengan apa yang di lakukan oleh putrinya.
"Ya Allah, kamu ngapain!?" kaget ibu.
"Ganti baju lah Bu, apalagi," sahut Maryam.
"Iya-iya Ibu tau, kamu itu ganti baju tapi--" ibu Maryam menggelengkan kepalanya.
"Apa ini Nak? Berantakin semua baju kamu, emangnya mau dipakai semua kah itu? Kita hanya ke boutique loh." Sambungnya.
Maryam hanya menyengir polos. "Habisnya aku bingung mau pakai yang mana Bu, ya jadi gini deh." Maryam cemberut.
Ibu menghela nafas panjang lalu menggelengkan kepalanya. "Sudah, kamu pakai apapun juga cantik kok, ayo Bian sudah nungguin lama," ucap ibu sebelum berlalu pergi.
Maryam mengangguk dan membenarkan tatanan hijabnya lalu mengambil tas yang sudah ia siapkan di atas ranjang.
"Aku siap," ucap Maryam.
Bian yang sedang asik mengobrol dengan ibu pun menoleh dan tertegun melihat penampilan Maryam. "Cantik," ucapnya tanpa sadar.
Maryam ikut tertegun mendengar ucapan Bian. Kemudian suara deheman dari sang ibu menyadarkan mereka.
"Ayo kita berangkat," ucap ibu seraya bangkit dari duduknya.
Bian jadi salah tingkah dan mengikuti ibu yang sudah lebih dulu keluar. Maryam memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Ya Allah, ribut banget jantung aku," gumam Maryam yang tangannya masih memegang dadanya.
Maryam ikut keluar dan masuk kedalam mobil setelah mengunci pintu.
Sepanjang perjalanan, Bian terus melirik ke samping yang mana Maryam tengah duduk dengan asik memainkan ponselnya.
"Asik banget sih sampai lupa sama kita, gak sadar kah ada yang memperhatikan," ucap ibu menyindir Bian.
Bian yang tahu arah pembicaraan calon ibu mertuanya pun langsung kembali melihat ke depan.
Begitupun dengan Maryam yang mendengar itu pun tertegun. Dia merasa hal itu di tunjukan pada dirinya, tentunya pada dirinya karena yang sedari tadi sibuk memainkan ponsel adalah dia sendiri.
Maryam menoleh, "enggak lho Bu, ini ada teman Maryam yang nawarin kerjaan baru, jadi ya Maryam lagi tanya-tanya gitu, gajinya lumayan," jawab Maryam sumringah.
Maryam terdiam, dia melirik Bian yang terdiam sedari tadi. "Maryam sudah bilang kok sama Pak Bian kalau Maryam masih mau bekerja setelah menikah nanti," jelas Maryam dengan tatapan yang tak teralihkan pada Bian, tapi detik kemudian dia menunduk dalam.
Bian melirik Maryam, "sudah bilang sama saya kalau Bu, mungkin itu akan membuat dia tidak bosan," ucap Bian mencoba membantu.
Ibu menghela nafas kasar, "ya sudahlah, terserah kalian saja yang penting kalian akur dan tidak ada masalah Ibu manut saja," pasrah ibu.
Maryam jadi merasa bersalah pada Bian. Matanya yang semula menunduk itu menoleh ke samping memperhatikan wajah Bian yang masih biasa saja tanpa ekspresi.
Orang yang melihat Bian tanpa ekspresi seperti itu akan mengira Bian baik-baik saja dan tidak ada masalah, tapi siapa yang tahu di dalam hatinya dia ingin sekali protes atas apa yang jadi keputusan Maryam, tapi dia sadar tujuan dari pernikahan ini tidak lebih dan tidak bukan berkedok membantu saja.
Bian Ingin menertawakan dirinya sendiri, dia tidak tahu akan jadi apa kedepannya rumah tangga yang akan mereka jalani. Apakah akan seperti sinetron-sinetron di TV atau seperti novel romantis yang akan menjadi cerita manis?
Hah, Bian sepertinya terlalu banyak berpikir dan mungkin sudah terkontaminasi dengan buku novel yang suka Adiba baca.
Entahlah dia juga tidak tahu, apapun yang terjadi nantinya dia siap menanggung resikonya dan kemungkinan terburuk dari sebuah pernikahan adalah perceraian yang mungkin akan terjadi sewaktu-waktu di saat Maryam bosan dan sudah menemukan cinta sejatinya nantinya.
"Ya Allah, begitu miris kah suratan perjalanan hidupku sehingga aku harus mengorbankan kebahagiaanku untuk kebahagiaan orang lain," lirih Bian.
💢💢💢💢
Lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di boutique. tak banyak keluarga yang berkumpul hanya ada Annisa, Syifa, Ameera dan juga si kecil Ciara.
Bian merasa menjadi paling tampan sendiri dikelilingi bidadari yang cantik-cantik.
"Om Bian," panggil Ciara.
Bian yang tengah duduk dan memainkan ponselnya pun mendongak menatap keponakannya itu.
"Om Bian laki-laki sendiri, Om Bian tidak malu kah?" tanya Ciara dengan polosnya.
Bian tersenyum. "Tidak, Om tidak malu kan ada Ciara," jawab Bian.
"Kan Ciara perempuan bukan laki-laki Om," jawab Ciara cemberut.
Bian terkekeh. Ciara tahu apa yang di maksudkan Bian, karena kedua kakaknya adalah laki-laki dan juga om nya pun juga laki-laki, dia adalah gadis kecil sendiri di rumah.
"Iya, Om tau Ciara itu perempuan," Bian mencoba berdamai.
"Minta sama Bunda gih, minta adik perempuan," ucap Bian berbisik di telinga Ciara.
"Bunda, Ciara mau adik perempuan!" ucap Ciara berseru setelah mendapat bisikan dari Bian.
Asyifa yang sedang ikut sibuk mencocokkan gaun pada Maryam pun menoleh dan menatap tajam Bian yang tengah terkekeh.
Bian menutup mulutnya dan tertawa tertahan. Dua jarinya terangkat membentuk huruf V.
Maryam terkekeh melihat dua kakak dan adik itu berargumen.
"Kamu itu ya!" kesal Asyifa.
Annisa hanya menggeleng saja. "Anak-anak itu," gumam Annisa lirih.
Setelah semua selesai di cocokan, mereka pulang. Niat hati Bian ingin mengajak Maryam ke apartemen yang akan mereka tinggali setelah menikah nanti, tapi kedua belah pihak keluarga melarang mereka mengingat seminggu lagi akan menikah, pamali katanya.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.