I Finally Found Love

I Finally Found Love
67.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Ameera duduk diam menatap langit malam dengan pikiran yang kemana-mana. Dia tak menghiraukan angin malam yang semakin menusuk ke dalam tubuh.


Amier yang melihat sang istri tengah berdiam diri di balkon pun menghampiri dan menyelimuti Ameera kemudian memeluknya dan menciumi bahu terbuka Ameera.


"Mas," lenguh Ameera dan hanya di jawab dengan gumaman oleh Amier tanpa menghentikan cumbuannya.


"Jangan gini dong, geli tau."


Amier mendengar Ameera yang terlihat tidak semangat pun melepaskannya. Amier memiringkan kepalanya melihat Ameera. Ameera menghela nafas panjang.


"Kamu kenapa sih Dek?" tanya Amier.


Ameera menggeleng. "Nggak apa-apa kok Mas, Mas nggak tidur kah?"


"Bagaimana mau tidur kalau bidadari yang bisa membuat aku tidur nyenyak malah nggak di sisiku." Amier menggoda.


Ameera tersenyum dan mengusap wajah Amier terutama dagunya yang menjadi bagian yang sangat Ameera sukai.


Amier memegang tangan Ameera dan menciumi telapak tangan istrinya itu. Amier kembali memeluk Ameera dari belakang.


"Mas," panggil Ameera.


"Hum, ada apa?" tanya balik Amier.


"Mas, apa kamu akan meninggalkan aku jika sampai pada waktunya aku masih belum bisa memberikan kamu anak?" tanya Ameera tiba-tiba.


Jujur Amier kaget dengan apa yang di katakan oleh Ameera. Tapi dia mencoba untuk tetap kalem menghadapinya.


"Kenapa kamu ngomong gitu? Gini ya sayang, mau sekeras apapun kita mencoba, tapi Allah belum meridhoi dan memilih kita untuk jadi orang tua, maka nggak akan bisa. Aku nggak mau menduakan kamu sayang," jelas Amier masih dalam nada biasa.


Ameera terdiam, memang benar jika semua kehendak sang khalik, tapi bagi seorang wanita apalagi sudah menikah tentunya ingin mendapatkannya. Terkadang sangat menyakitkan untuknya, tapi dia bisa berbuat apa jika tidak sabar dan keyakinan yang dia pegang.


"Jangan ngomong kayak gitu lagi, aku nggak suka dan jangan sekali-kali berfikiran negatif yang mendorong aku buat nyakitin kamu. Aku nggak suka!" tegas Amier.


Ameera menghembuskan nafas berat lalu tersenyum. "Makasih Mas, dan maafkan aku."


"Sudah malam sekarang, nanti masuk angin. Ayo masuk," ajak Amier.


Ameera mengangguk menurut. Amier menggandeng tangan sang istri dan membawanya kedalam untuk beristirahat dari segala aktivitas yang melelahkan hati, pikiran dan juga raga untuk bisa menyambut hari esok yang dia yakini akan jauh lebih baik dari hari ini.


Di tempat lain, tepatnya di kamar Maryam. Wanita itu tengah dirundung kegelisahan, kata-kata yang terlontar dari Asyifa tadi sore membuat hatinya bimbang.


Kenapa begitu berat padahal itu sudah menjadi kewajibannya dan menjadi hak suaminya, tapi mengapa hatinya begitu takut. Takut jika saat waktunya tiba, dia tak lagi bersama sang suami tapi harta satu-satunya yang dia miliki sudah hilang.


Meski ada pemikiran untuk berpisah, tapi hatinya menolak untuk sebuah perpisahan.


"Aarrgghh! Ya Allah sulit banget buat memulai!" gerutu Maryam.


Maryam berdiri kemudian mondar-mandir memikirkan matang-matang keputusan apa yang akan dia ambil.


Setelah beberapa menit, dia meyakinkan diri dan menghela nafas panjang guna menenangkan detak jantungnya.


"Oke aku siap, huh!"


Maryam menghampiri sofa dan mengambil paperbag yang diberikan oleh Asyifa, dia mengambil isi dari paperbag itu dan merentangkan nya. Matanya melotot tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Ya Allah pakaian apa ini? Tipis banget!" keget Maryam.


Sebuah lingerie berwarna hitam adalah barang tersebut. "Kak Syifa kayaknya mau ngerjain aku deh!" gerutu Maryam.


"Ini mah sama aja nggak pake baju!"


Meski dia tak asing dengan barang tersebut, tapi tetap saja membuatnya merinding.


Maryam berbalik dan dengan sigap menyembunyikan barang tersebut di balik punggungnya.


Bian semakin penasaran karena dia tahu jika paperbag itu di berikan oleh Syifa, kakaknya.


"Coba lihat?" pinta Bian penasaran.


Maryam menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ini hanya... hanya... hanya aksesoris hijab! Iya, hanya aksesoris." Maryam berusaha memberi alasan.


Bian mengerutkan alisnya. "Benarkah?" tanya Bian dan di angguki Maryam dengan cepat.


"Oh, ya sudah. Aku keluar dulu." Bian hendak keluar, tapi langkahnya terhenti saat Maryam memanggilnya pelan.


Bian berbalik dan menatap istrinya itu dengan sedikit bingung. "Ada apa?" tanyanya kemudian.


"Emm, apa-apa kamu akan meninggalkan aku jika tidak memberikan hak kamu sebagai suami seutuhnya?" tanya Maryam gagap.


Pertanyaan dari mulut Maryam membuat Bian bingung beberapa saat, tapi seperkian detik kemudian Bian paham dengan apa yang di maksud Maryam.


Bian menghampiri istrinya dan memegang lengannya. "Aku tidak akan meninggalkan kamu hanya karena itu, karena aku hanya mau kamu ikhlas bukan karena terpaksa. Dan jika kamu yang menginginkan berpisah, aku bisa apa?" jelas Bian yang tatapannya menjadi sendu dan terlihat sedih.


Maryam menyadari itu, dan sedikit tersenyum. Entah mengapa mendengar hal itu membuat Maryam mengerti satu hal. Dan dia menemukan jawaban dari pertanyaannya sekarang.


"Ya sudah, aku ke kamar dulu." Bian melepaskan pegangannya dan membalikkan badannya.


Tapi beberapa langkah Bian berjalan, Maryam kembali memanggil namanya.


"Apa ada lagi yang ingin kau katakan?"


"Emm, bolehkah kamu menunggu aku di kamar kamu sepuluh menit saja?" tanya Maryam.


Bian jadi semakin bingung. "Ada apa?" tanyanya.


"Tunggu saja dan jangan banyak protes!" kesal Maryam yang kepalang malu dengan Bian selalu bertanya.


Bian terkekeh. "Oke-oke, aku tunggu." Bian meninggalkan kamar Maryam.


Maryam bernafas lega dan langsung menutup pintu kamarnya setelah Bian keluar dua langkah. Bian menoleh dan tersenyum penuh arti.


Maryam menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba menggebu-gebu. Dia menghela nafas panjang dan masuk ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri.


Sedangkan di kamar lain, Bian sedang dalam mode senyum dan membalas pesan dari Syifa. Dia terus saja tertawa membaca chat yang menurutnya begitu lucu.


"Ada-ada saja sih kak," gumam Bian.


Sejurus dengan itu, pintu kamarnya terbuka dengan menampilkan Maryam dengan balutan kimono handuk. Tapi siapa yang tahu jika di balik pakaian tebal itu Maryam memakai pakaian yang sangat tipis, bahkan bisa di samakan dengan tidak memakai baju.


Bian menunggu apa yang akan di lakukan Maryam selanjutnya, dengan tatapan yang begitu menuntut membuat Maryam seakan ingin kabur dan kembali ke kamarnya lagi.


Nafas Maryam semakin memburu, tangannya gemetaran detak jantungnya sangat ribut.


"Ayolah Maryam, kamu sudah memulai dan juga sudah sampai sini. Akan memalukan kalau kamu balik lagi ke kamar!" lirih Maryam dalam hati seraya memejamkan mata.


Bian yang melihat itu pun menghampiri Maryam dan berdiri di hadapannya.


"Tarik nafas, buang, tarik nafas, buang," Maryam mengatur nafasnya sendiri dengan masih memejamkan mata.


Maryam membuka matanya pelan dan berteriak kaget dan mundur hingga hampir terjatuh. Dan Bian langsung menangkap tubuh istrinya itu.


Ea ea ea😂🙈


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.