I Finally Found Love

I Finally Found Love
41.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


AWAS TYPO BERTEBARAN...


Ameera kembali ke tempat semula dengan wajah yang kesal, pikiran nya berkecamuk. Ada rasa senang, ada rasa kesal, juga ada rasa marah yang bercampur jadi satu di dalam hatinya.


Adiba yang baru saja melihat Ameera datang dan duduk dengan sedikit keras bertanya ada apa? Ameera hanya menggeleng dan tersenyum kemudian kembali mereka bercengkrama dengan seru nya.


Di lain tempat, masih dalam dapur Amier melihat di balik jendela kaca yang mengarah ke kolam renang.


Bahu nya ada yang menepuk membuat pemuda itu sedikit kaget. Amier menoleh dan ternyata itu adalah Bian.


Bian mensejajarkan berdirinya dengan Amier serta ikut menatap se-gerombolan gadis-gadis mengikuti arah pandang Amier.


"Apa kau kesal?" tanya Bian.


Ujung matanya melirik pada sang adik, Amier menoleh. "Tak tahu," jawabnya pasrah.


Bian tersenyum, "ceepatlah sembuh Dek, Kita enggak tau kedepan nya itu akan seperti apa?" setelah mengatakan itu Bian menepuk bahu Amier dan pergi meninggalkannya.


Amier menghembuskan nafas lelah, lagi-lagi kata itu yang kakaknya nya ucapkan.


💢💢💢💢


Setelah acara, Nizam dan juga Ameera pamit untuk pulang.


"Ameera pulang dulu ya Bun, makasih jamuan nya." Ujar Ameera seraya membalas pelukan Annisa


"Iya Sayang, hati-hati ya dan kamu Nizam jangan ngebut bawanya." Peringat Annisa dengan satu jari menunjuk ke arah Nizam.


Nizam hanya terkekeh. "Iya Tante, Tante tenang saja, Ameera akan selamat sampai tujuan tanpa lecet sedikitpun." Ujar Nizam sembari melirik Amier yang berdiri di ambang pintu dengan menyandarkan punggungnya.


Amier membuang pandangan nya ke arah lain, karena tak suka di tatap oleh Nizam. Nizam tersenyum miring.


Annisa melambaikan tangannya pada kakak-beradik itu. Setelah di rasa sudah tak terlihat, Annisa kembali ke dalam dan memegang lengan Amier saat melewati dan untuk mengajak nya masuk begitupun dengan keluarga yang lainnya.


Acara masih di lanjutkan dengan para ayah yang mengobrol santai di ruang keluarga. Sedangkan para ibu, sudah kembali ke kamar masing-masing, begitu pun anak-anak gadis nya.


Mereka tidak di bolehkan pulang oleh Annisa, dan mereka begitu menurut dengan titah nya. Rumah Annisa yang luas cukup untuk mereka menginap di sana.


Memang dulu nya tidak terlalu luas hanya beberapa kamar saja, tapi setelah menikah kembali dengan Aditya, rumah itu di perluas ke belakang menambah lebih bnyak kamar lagi.


💢💢💢💢


"Amier Kamu nggak boleh begitu dong, kenapa Kamu iseng banget sih!" seru seorang gadis.


Pemuda yang tak lain adalah Amier berlari mengejar sang gadis dengan tangan yang penuh dengan lumpur. Mereka saling kejar-mengejar dan saling melumuri lumpur di wajah lawan nya.


Mereka tertawa puas, begitu sederhana nya kebahagiaan itu. Di dalam tidurnya Amier begitu gusar dengan mimpi itu hingga keringat membasahi tubuh nya.


Amier tersentak kaget dan terbangun dari mimpi nya. Amier mengatur nafas yang tersengal-sengal seperti hal nya orang tenggelam.


Memory- nya terlintas kembali pada mimpi itu. Amir beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk mendinginkan badan yang terkena keringat dan juga hawa panas.


Di bawah guyuran air shower, Amir masih memikirkan siapa gadis yang ada pada mimpi nya itu, dia begitu bahagia begitupun dengan gadis itu. Suara nya mirip dengan Ameera.


Pikiran itu berputar-putar di otak nya, apakah Ameera ada kaitannya dengan hal ini, kenapa dia tidak begitu ingat dengan apa yang terjadi.


Amier penasaran dan mengambil benda itu, terkejut namun tidak begitu karena dia sudah pernah melihatnya bahkan di barang pribadinya. Sebuah potret dirinya dengan Ameera.


Ya, itu adalah foto yang sama yang ada di kontak ponsel nya. Amier mengerutkan kening dan menatap lekat foto itu.


"Kenapa foto ini lagi?" gumam nya.


Amier menggelengkan kepala nya merasa sedikit pusing, sekelebat gambaran melintas di kepala nya. "Arrgghhh...!!!" teriak Amier.


Kepala nya mendadak sakit luar biasa, pemuda itu tersungkur dan memegang kepala nya karena sakit.


Dari luar kamar, Annisa yang mengetuk pintu Amier karena tak ada jawaban, maka wanita itu langsung masuk. Nampan yang berisi obat dan juga air putih pun terjatuh karena kaget.


Annisa berlari menghampiri Amier yang terduduk di sudut kamar dengan wajah yang cemas. Berkali-kali dia memanggil Amier dengan tangan yang mengguncang tubuh nya, Amier tetap saja memegang kepala nya dan tak menjawab apapun hanya erangan yang keluar dari mulut Amier.


Tak lama kemudian, Amier jatuh karena tak sanggup menahan nya. Annisa menjerit meminta tolong. Orang-orang yang ada di luar menghampiri dengan terburu-buru.


Mereka kaget dan segera menolong Amier. Aditya membopong tubuh anak tiri nya di bantu yang lain memindahkan Amier ke atas tempat tidur.


Annisa menangis, tak tega melihat putra nya seperti itu. Asyifa memeluk bunda nya guna menenangkan. Vita menelpon dokter yang menangani Amier, dan meminta untuk di larikan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Hanya Annisa, Aditya, Malik dan Reyyan saja yang mengantarkan Amier. Malik dengan kecepatan lebih dari rata-rata melajukan mobilnya.


Membutuhkan waktu lima belas menit mereka sampai di rumah sakit. Dan Amier langsung di larikan ke ruangan IGD.


Dengan cemas mereka menunggu di depan ruangan putih itu. Menunggu itu terasa sangat lama menurut mereka.


Dokter keluar dari ruangan dan menghampiri mereka. Annisa dengan cemas menunggu penjelasan.


"Apa di sini ada yang nama nya Ameera?" tanya dokter.


Mereka terlihat bingung, "memang nya kenapa Dok?" Malik penasaran.


"Pasien sedari tadi memanggil nama itu, apakah ada anggota keluarga yang bernama Ameera?" tanya nya sekali lagi.


"Ada Dok, tapi dia nggak ada di sini." Malik menyahuti.


"Lebih baik saudara Ameera tolong di bawa ke sini, mungkin saja saudara Ameera akan membantu pemulihan pasien," ujar dokter.


Malik bernafas lega, "datang juga hati ini." Malik terkekeh.


Mereka menoleh pada Malik, Malik hanya mengedik-kan bahu nya saja menanggapi.


💢💢💢💢


Keesokan hari nya, Ameera sudah ada di kamar rawat Amier. Gadis itu tertidur sembari terduduk karena kelelahan karena sedari semalam Ameera datang setelah di telpon oleh Malik. Dan kini jam menunjukkan pukul empat pagi.


Annisa sudah pulang karena permintaan Malik, dan sebagai gantinya Malik yang ikut menemani Ameera untuk menunggu Amier sadar. Dan laki-laki itu tertidur di sofa.


Tangan Amier mengusap lembut puncak kepala Ameera yang terbalut hijab. Mata nya sudah terbuka sedari tadi. Dan orang yang di lihat nya adalah Ameera.


Amier sedikit senyum melihat Ameera melenguh karena terganggu tidur nya. Karena terus saja mendapatkan gangguan, Ameera membuka mata nya. Dengan merenggangkan tubuh nya.


Mata Meera mengerjap, senyum nya mengembang. "Amier!!" seru nya.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.