
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
"Ameera ada Bi?" tanya nya tak sabar.
"Neng Ameera lagi ke rumah neng Shinta Den." Bibi mengerutkan alis nya melihat Amier yang gusar. "Aden nggak apa-apa?" tanya nya pura-pura tidak tahu.
"Nggak apa-apa Bi, ya sudah Aku ke rumah Shinta saja deh." Amier berpamitan dan segera pergi dari hadapan bibi.
Bibi tersenyum melihat kepergian Amier yang akan menyusul Ameera, majikan nya. Bibi merasa tenang, ada nya Amier di sisi anak majikan nya yang dia asuh sejak kecil itu, begitu merasa lega karena Ameera mendapatkan laki-laki yang sangat menyayangi nya.
Dia tahu Amier begitu menyayangi Ameera terlihat dari sikap nya itu. Bibi jadi ikut senang melihat nya. Orang tua Ameera sudah meninggal tiga bulan yang lalu karena kecelakaan. Dan hanya tinggal kakak nya saja yang kini ada di London untuk melanjutkan bisnis nya yang baru saja dia rintis dua tahun terakhir.
Dan hanya bibi lah yang menjadi pengasuh sekaligus pengganti orang tua Ameera.
Amier melajukan motornya dengan kekuatan penuh, karena rumah Shinta yang terbilang cukup jauh dari tempat tinggal Ameera. Dia hanya ingin cepat sampai dan bertemu dengan gadis itu.
Tak peduli dia baru saja pulang dan dengan kondisi tubuh yang lelah. Yang di pikirkan nya hanyalah bertemu dengan Ameera.
Setelah tiba di kediaman Shinta, dia turun dan meminta izin pada satpam rumah tersebut. Setelah di bolehkan masuk, Amier menaiki motornya kembali dan masuk ke pekarangan rumah Shinta.
Terlihat Ameera, sang kekasih. Yang sedang asik tertawa seperti tak ada beban. Amier melihat nya merasa lega, paling tidak kekasih nya itu tidak terlalu marah. Mungkin.
Amier mendekati dua gadis yang ada di teras sembari tertawa melihat layar laptop yang tak tahu apa yang mereka tonton. Mungkin kartun, pikir nya.
"Assalamualaikum?" sap Amier.
"Wa'alaikumusalam." Jawab serempak mereka. Shinta mengerjap tak percaya Amier ada di depan mata nya sekarang, bahkan di rumah nya. Sewaktu dia ajak ke rumah saat itu, Amier menolak keras.
"Tapi sekarang," Shinta menoleh pada sahabat nya. Dia tersenyum simpul, "benar juga. Ada Ameera di sini, dan tentunya karena gadis ini." Shinta membatin.
Ameera menatap Amier yang juga menatap nya. Pandangan mereka bertemu dengan ekspresi yang berbeda. Amier dengan pandangan menyesal dan bersalah, Ameera dengan pandangan yang kesal tapi juga ada kerinduan di masing-masing mata mereka.
"Ehem!" suara deheman dari Shinta membuyarkan tatapan mata mereka. Amier menetralkan suara nya dan Ameera membuang wajah ke samping.
"Kayak nya ada sesuatu yang harus Kalian bicarakan hingga Amier mendatangi Kamu Meera." Ujar Shinta dan beranjak berdiri.
"Aku tinggal masuk dulu yah, Kalian ngobrol saja." Shinta sedikit mengulas senyum dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Ameera menatap kepergian Shinta merasa tak enak hati pada gadis itu. Bagaimanapun, Shinta pernah menaruh hati pada tunangan nya itu. Dia jadi merasa bersalah.
"Meera?" panggil Amier dan bersimpuh di hadapan Ameera membuat gadis manis berhijab itu menoleh.
Tatapan nya sedikit kesal. Tapi Amier mencoba mencairkan kekesalan nya dengan terus saja tersenyum manis.
"Kenapa senyum-senyum?!" ketus Ameera.
Amier menaikan bahu dan menggeleng lalu tersenyum lagi. "Kau marah?" tanya nya kemudian.
Bukan nya menjawab, Ameera malah membuang wajah nya ke arah lain. Amier terkekeh, manis sekali jika calon istri nya itu.
"Maafin Aku yah, Aku tau Aku salah dan sebagai gantinya Aku mau ngasih Kamu sesuatu." Sambung nya.
Masih tak ada respon yang berarti dari Ameera. "Aku akan bawa Kamu ke boutique sekarang dan pulang dari itu Aku akan bawa Kamu ke galeri lukis. Kau mau?" tawar Amier.
Ameera melirik meski sedikit. "Ayo lah Meera, Aku sudah bilang sama tante Naura kalau Kita kesana nya telat, dan kata tante Naura itu nggak masalah." Amier mencoba membujuk Ameera.
Amier membuang nafas kasar. "Ya sudah ini penawaran terakhir, ini pasti Kamu mau." Amier terus mencoba.
Ameera menoleh menunggu jawaban Amier. "Aku bawa Kamu ke Ciara setelah ke boutique , bagaimana?" mata Ameera berbinar mendengar nama bocah berumur hampir empat tahun itu.
Ameera mengangguk cepat. Amier terkekeh. "Benarkan Kamu tertarik, ya sudah ayo Kita berangkat keburu malam." Ajak Amier.
Mereka berdiri bersamaan. "Kamu bawa mobil kan?" Amier melihat mobil milik Ameera yang terparkir di garasi rumah Shinta.
Ameera mengangguk. " Ya sudah Kamu bawa mobil nya, Aku bawa motor nanti Kita ketemu di boutique tante Naura," lagi-lagi Ameera mengangguk.
"Aku pamit ke Shinta dulu." Izin nya dan melangkah ke dalam.
Tak di sadari mereka, ternyata Shinta telah mendengar percakapan di antara kedua nya. Saat mendengar Ameera akan masuk dan pamit, Shinta buru-buru berlari ke dapur. Berakting seakan tak tahu apa-apa.
"Shinta?!" panggil Meera seraya mendekati.
Shinta menoleh dan tersenyum. "Iya, ada apa?" jawab nya dengan tangan yang memegang buah.
"Aku pulang sekarang yah, Aku ada urusan. Dan makasih sudah mau nemenin Aku." Ameera pamit, Shinta mengangguk dan mereka saling berpelukan.
Shinta mengantar Meera ke depan. Amier yang sedang menelpon seseorang mengetahui kedatangan dua gadis itu pun menutup telepon nya. "Sudah?" tanya nya kemudian.
Ameera mengangguk dan menoleh pada sahabat yang ada di samping nya itu. "Shin, Aku pergi dulu yah?" pamit nya.
Shinta mengangguk, senyuman nya tak pudar meski canggung. "Shin, Kita pamit yah dan makasih." Amier mengintrupsi. Sedikit senyum dia berikan membuat Shinta terpaku sejenak. Tak menyangka cowok sedingin Amier mau tersenyum kepada nya hanya karena menemani calon nya dan juga berstatus sahabat nya itu.
Astaga, Shinta tak percaya ini. Dia ingin senyuman itu tapi begitu mahal, tapi hanya melakukan hal sepele seperti ini bisa dengan mudah nya dia mendapatkan itu. Luar biasa untuk Shinta.
"Ya sudah, ayo?" ajak Amier.
Mereka menaiki kendaraan mereka masing-masing seperti yang di sepakati tadi.
"Sebegitu mudah nya senyuman Kamu hanya karena Ameera, Mier?" monolog nya menatap kepergian kedua nya.
Shinta menghembuskan nafas berat, apalah daya nya dia hanya sekedar teman, teman? huft! Sedikit rasa sakit tapi memang harus mengikhlaskan bukan?
Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang, bukan hanya hubungan cinta semata yang dia pikirkan, tapi hubungan persahabatan nya tak ingin dia hancurkan. Melihat sahabat nya yang bahagia, tentu nya dia akan bahagia.
Lagi pula, dia bukan lah orang yang pertama yang hadir di hati Amier, jangankan hati, di hidup nya pun belum lama. Tak seperti Ameera yang lebih dulu datang, Shinta rasa dia perlu mencari pengganti nya.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.