I Finally Found Love

I Finally Found Love
40.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Semua nya berkumpul tak terkecuali Amier yang sedari tadi di kamar nya saja. Macam anak perawan yang tengah di pingit.


Annisa melihat anak bujang nya terus tak bersemangat pun mengusap lembut puncak kepala nya. Mengingatkan jika banyak keluarga yang tengah berkumpul, tidak sopan jika berdiam diri tak berbaur.


"Jika Kamu bahagia dan teringat seseorang arti nya Kamu mencintai orang itu, jika Kamu bersedih dan teringat seseorang arti nya dia mencintaimu."


"Jadi dia mencintaiku?" tanya Amier.


Annisa tersenyum dan mengangkat bahu nya. "Entah, menurut Kamu bagaimana?"


"Aku nanya Bunda kok Bunda tanya balik Amier sih?" Amier menggerutu kesal, Annisa hanya yang ditanggapi dengan senyuman.


"Sabar Sayang, semua ada waktunya. Bunda harap kamu segera pulih karena ada hati yang perlu kamu pastikan dan ada orang yang perlu kamu beri kepastian." Annisa kembali menasehati sang putra.


"Teruslah berusaha jangan menyerah tapi jangan pula memaksakan."


Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Annisa, sang Bunda, dia masih bingung dengan arah dari pembicaraan itu.


Annisa yang melihat Amier terdiam seperti memikirkan sesuatu, hanya tersenyum. "Ayo Kita gabung sama yang lain nya. Dan sebentar lagi juga Ameera sama Nizam akan datang."


Amier beranjak dari berbaring nya dan ikut bergabung dengan yang lain nya. Sungguh pemandangan yang sangat di nantikan. Sangat membuat siapa saja ingin ikut serta dalam keluarga itu.


Sangat harmonis, penuh dengan cinta dan kasih sayang sesama. Tak membedakan dari satu ke yang lain nya. Semua sama tak ada yang beda.


💢💢💢💢


ChaCha menghampiri Amier yang tengah duduk di tikar dengan daging panggang di depan nya.


Kebiasaan dari keluarga mereka memang selalu seperti ini jika sudah berkumpul. Meski sering bahkan sangat sering mereka melakukan nya, tapi tidak membuat semua nya bosan ataupun absen dalam setiap pertemuan.


"Kak Amier?" panggil ChaCha.


Amier mendongak dan tersenyum, "kenapa?" tanya nya. ChaCha menjadi salah tingkah melihat senyuman Amier. Meski dia sudah biasa melihat nya, tapi masih tetap membuat nya malu.


"Mau tanya boleh?" ChaCha meremas ujung baju nya karena gugup. Entah lah, setiap berdekatan dengan Amier, selalu saja membuat gadis itu salah tingkah.


Amier mengangguk dengan mulut penuh. "A ... aku--"


"Sebentar Cha," ucapan ChaCha terpotong Amier yang melihat datang nya Ameera bersama dengan laki-laki yang tak lain adalah Nizam.


ChaCha menoleh mengikuti arah pandang Amier. Gadis itu menghela nafas panjang. Amier mengeratkan pegangannya pada garpu hingga garpu tersebut sedikit bengkok.


"Ya Allah Kak Amier!" pekik ChaCha kaget saat melihat sendok Amier yang bengkok. Amier tersadar dan langsung melepaskan genggaman nya.


"Yah kok jadi gini?" Amier bingung sendiri.


ChaCha tertawa tertahan melihat kebingungan Amier. "Emang bener kata om Malik." Ujar nya.


Amier menoleh, "bener apa nya?" tanya nya bingung.


ChaCha hanya menggeleng saja. Ameera menghampiri kedua nya dan menyapa. Amier membuang wajah nya ke sembarang arah.


"Kata nya wanita muslimah, tapi kelakuan kayak nggak ada akhlak!" gerutu Amier lirih namun masih terdengar oleh Ameera dan ChaCha.


"Kamu ngomong sama siapa Amier?" tanya Ameera.


"Nggak!" ketus Amier. ChaCha menahan tawa nya supaya tidak terdengar, namun tetap saja tawa nya masih saja terdengar oleh Amier.


"Ngeledek ya Cha?" Amier sedikit geram. ChaCha hanya menggeleng saja.


"Siapa yang cemburu? Yang ada Aku geli liat orang yang begitu!" Amier dengan suara yang sedikit meninggi membuat Ameera tersentak.


Mata nya mulai berkaca-kaca mendengar bentakan Amier. Amier yang tadi nya membuang muka, menoleh karena tak ada suara dari lawan bicara nya.


Mata Amier mengerjap beberapa kali melihat mata Ameera yang berkaca. Amier jadi merasa bersalah. Mungkin terlalu kasar dia mengatakan itu untuk Ameera.


Amier berdiri hendak menghibur Ameera dan akan meminta maaf, tapi niat nya ter-urungkan karena Nizam yang lebih dulu merangkul pundak Ameera.


Nizam membawa Ameera ke dalam pelukan nya. Amier menggenggam tangan nya erat. Sedangkan ChaCha yang melihat itu pun hanya bisa diam karena bingung harus mengatakan apa.


"Geng! Ayo kumpul sini!" seru Malik membuyarkan ketegangan itu.


Nizam menatap sinis. Meski tahu jika Amier cemburu, tapi tetap saja dia tak terima melihat adik kesayangan nya di buat menangis seperti itu walaupun Amier tak sadar.


Mereka duduk lesehan dan menikmati hidangan. Seperti biasa nya, makan malam penuh dengan canda tawa di antara mereka.


Tapi tidak dengan Amier, dia terus saja terfokus pada gadis di seberang meja tepat pada duduk nya.


Tangan nya sibuk, namun mata tak teralihkan. Walaupun Ameera tahu, dia bersikap cuek dengan hal itu karena masih sebal dengan Amier.


Dan bnyak nya orang yang memberi kode pada Amier untuk tidak terlalu fokus dengan Ameera, tetap saja pemuda itu tak melepaskan pandangan nya.


Acara makan malam selesai, mereka duduk santai dan bercengkrama seperti biasanya melepas rindu diantara mereka.


ChaCha, Ameera, Adiba, Alia duduk di gazebo kolam renang. Layaknya para gadis yang berkumpul, mereka sangat asyik menceritakan apa saja di dunia mereka.


Berbagi cerita dan mengakrabkan satu sama lain. Ameera pamit untuk ke toilet sebentar, gadis itu berjalan melewati dapur sebelum sampai di toilet.


Setelah menuntaskan hajatnya, Ameera hendak kembali pada teman-temannya. Namun saat melewati dapur, tangannya tertarik oleh seseorang. Sontak hal itu membuat Ameera kaget.


Mulutnya di bekap oleh tangan besar. Mata Amira melotot melihat siapa yang ada di depannya itu. dengan gerakan satu jari yang ditempelkan pada bibir, orang itu memberi isyarat untuk tidak berteriak.


Ameera mengangguk. Setelah itu seseorang itu melepaskan bekapan nya. "Amier!" pekik Ameera kaget dan juga kesal.


Tidak ada jawaban dari Amier, pemuda itu hanya terdiam dan menatap wajah cantik dari Ameera. Entah apa yang ada di pikiran Amier. Ameera membuang wajahnya ke sembarang arah.


"Katakanlah?" ucap Ameera tanpa menoleh.


"Jangan dekat-dekat dengan Nizam!" peringat Amier.


Mendengar itu tentu saja Ameera menoleh menatap tidak percaya dan mengerjap beberapa kali.


"Apa katamu?" tanya Ameera memastikan.


Sejenak Amier memejamkan mata kemudian berkata, "jangan dekat-dekat dengan Nizam!" kata Amir dengan penuh penekanan.


Ameera tersenyum miring meledek, lucu sekali tunangan nya ini. "Kalau Aku nggak mau kenapa?!" kata Ameera kesal.


"Pokoknya Kamu harus jauh-jauh dari Nizam! Aku nggak suka!" Amier sedikit menaikan nada bicara nya.


"Memangnya Kamu siapa?!"


"Aku ... Aku...." Amier bingung harus menjawab apa.


Ameera mendengus. "Tak bisa jawab bukan?!" setelah mengatakan itu, Ameera meninggalkan Amier sendiri dalam kebingungan.


Amier terdiam. Memikirkan apa yang sebenar nya terjadi pada diri nya. Kenapa dia begitu tak suka jika Ameera dekat-dekat dengan laki-laki lain.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.