
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Ameera duduk di toilet duduk sambil memegang alat tes kehamilan. Jantungnya berdegup sangat kencang menunggu hasil dari apa yang akan dia lihat.
Sudah delapan bulan ini Ameera dan Amier melakukan konsultasi untuk bisa mendapatkan momongan, meski dokter menyatakan kecil kemungkinan untuk bisa mengandung, tapi mereka tidak menyerah.
Ameera sempat putus asa karena begitu melelahkan dan juga bosan dengan obat-obatan yang ia konsumsi yang begitu banyak. Tapi Amier sebagai suaminya selalu memberikan semangat dan mendukung mental dan fisik Ameera.
Dan hari ini, pagi ini, Ameera dengan cemas menunggu hasil dari apa yang dia ikhtiar-kan, berharap semoga benda itu menunjukkan dua garis yang membuat dia bisa menjadi seorang ibu.
Setelah di rasa waktu yang di butuhkan cukup, mata Ameera yang tertutup perlahan terbuka satu, dan mengintip. Air matanya luruh membasahi pipi mulusnya dengan sangat lancar. Dia tak tahu harus berekspresi seperti apa?
Biarkan dia menangis untuk hari ini. Biarkan dia menangis bahagia melihat alat tes kehamilan dari puluhan alat itu akhirnya menunjukkan dua garis dengan jelas.
Dia dekap benda panjang pipih itu dengan penuh kasih sayang dan penuh syukur. Dia bahagia. Dia sangat bahagia sekarang.
"Ameera Sayang, buka pintunya! Kenapa kamu lama sekali? Kamu nggak apa-apa kan!?" seru Amier dari luar kamar mandi.
Ameera mengusap air matanya dia tersenyum, kemudian merapikan pakaiannya yang sempat berantakan. Lalu dia membuka pintu kamar mandi itu untuk menemui suaminya.
"Kamu nggak kenapa-napa kan?" tanya Amier cemas seraya menatap ke seluruh tubuh sang istri. Amier bernafas lega karena dia tidak menemukan luka atau apapun itu.
"Kenapa kamu lama sekali di kamar mandi, apa kamu ketiduran lagi?" tanya Amier.
"Ameera tersenyum dan mengusap lembut pipi Amier. "Tidak, aku tidak tidur lagi hanya saja, hanya saja--"
"Hanya saja?" ulang Amier penasaran dengan kata selanjutnya.
Ameera menggeleng kepalanya cepat. "Ayo cepat mandi," ucap Ameera.
Amier menghela nafas. "Ya sudahlah," pasrah nya.
Setelah melihat suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi, tak berapa lama Amier keluar lagi sembari berteriak memanggil nama Ameera.
Amier menghampiri Ameera yang tengah menyiapkan baju yang akan di kenakan sang suami. "Sayang, apa ini benar?!" mata Amier berbinar.
Ameera berekspresi biasa saja pura-pura tidak tahu apa yang di maksudkan. Amier mengangkat benda pipih yang dia temukan di atas meja porselen.
"Ini," Amier memperlihatkan benda itu.
"Kamu lihat ini? Apa ini benar? Apa ini bener Sayang, katakan jika ini benar?!"
Ameera menangis, matanya tak bisa membendung air bening itu lagi. Dia mengangguk mengiyakan. "Iya, itu benar." Ameera mengangguk.
Amier bersujud syukur atas apa yang dia dengar, kemudian dia memeluk istrinya dengan bahagia dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.
Amier menurunkan Ameera dan kembali memeluknya. "Terimakasih Sayang, terimakasih." Amier mencium kening istrinya itu berkali-kali.
Ameera tak bisa berkata apa-apa, mulutnya kaku, hanya kalimat takbir yang bisa dia lantunkan dalam hati dengan keajaiban yang dia dapatkan hari ini.
Memorinya kembali lagi ke beberapa bulan yang lalu saat dirinya berdebat dengan suaminya itu yang menurutnya begitu sengit.
🕳️🕳️🕳️🕳️
Ameera berdiri diam tanpa kata melihat suaminya itu dalam keadaan marah. Ucapan yang keluar dari mulut Ameera membuat Amier begitu kesal.
Amier tahu niat istrinya itu baik, tapi dia tidak bisa. Dia tidak bisa menyakiti perasaan Ameera.
Amier menatap tajam sang istri kemudian melepaskan pegangannya. Amier duduk guna menetralkan emosi.
Ameera menangis hingga suaranya hampir tak terdengar. Amier mendekati Ameera kemudian memeluknya. "Tolong jangan paksa aku," ucap Amier.
"Tapi Mas--"
"Sayyid Fathimah Az-Zahra saja nggak mau di duakan oleh sayyidina Ali, bagaimana dengan kamu Sayang? Apa kamu kuat lihat aku jalan bahkan duduk dan tidur sama perempuan lain selain kamu!? Aku nggak akan sanggup menyakiti hati kamu. Lisan kamu boleh mengatakan itu, tapi hati--" Amier menggantung perkataannya dan menunjuk dada istrinya.
"Tapi Sayyid Fathimah Az-Zahra tidak melarangnya Mas, aku--"
"Memang beliau nggak melarangnya adanya poligami , tapi aku nggak mau. Aku bisa adil dalam hal nafkah lahir, tapi aku belum bisa adil dalam nafkah batin. Dan perlu kamu ingat, aku nggak yakin jika kamu akan kuat."
"Hanya demi keturunan kamu menyerahkan aku sama perempuan lain, dokter hanya makhluk. Dan yang punya keputusan hanya Allah. Dan mereka mengatakan bukan tidak mungkin. Ada kemungkinan meski tipis kemungkinan itu, aku akan tetap dengan pendirian aku!" tegas Amier.
Amier duduk di ranjang lagi dengan wajah yang masam, Air mata Ameera mengalir deras tanpa bisa dia bendung.
Sebenarnya ada rasa lega di hati Ameera karena melihat suaminya begitu setia, tapi dia merasa kasihan pada suaminya yang harus menjalani hidup dengannya tanpa kepastian.
"Mas, hiks... hiks...."
Amier mengulurkan tangannya meminta Ameera untuk mendekat. "Kemarilah," ucap Amier dan Ameera mendekat menerima uluran itu.
"Aku rasa kamu butuh istirahat Sayang, hati dan pikiran kamu terlalu lelah," ucap Amier.
Amier bangkit dari duduknya dan menggendong Ameera untuk ia baringkan. Amier ikut berbaring di samping Ameera. Tangan Amier menutup mata Ameera. "Kamu istirahat ya," ucapnya kemudian.
Ameera mengangguk, air matanya masih mengalir di balik telapak tangan Amier. Amier melihat sang istri seperti itu pun ikut merasakan sakit di hatinya.
Lama-kelamaan Ameera pun tertidur dengan nafas yang sudah teratur meski kadang ada suara sesegukan. Amier yang hanya menatap wajah teduh istrinya yang tertidur pun ikut memejamkan matanya.
🕳️🕳️🕳️🕳️
Amier keluar kamar dan sepanjang berjalan sembari menggendong Ameera, ia berseru memanggil sang bunda. Annisa yang mendengar itu pun sedikit berlari menghampiri.
"Ada apa Nak?" tanya Annisa.
Amier menurunkan Ameera dan menunjukkan alat tes kehamilan dari Ameera. Annisa melihat dua garis yang sangat jelas pun menutup mulutnya tak percaya dan bahagia.
"Aku akan jadi ayah, Bun!" seru Amier senang dan memeluk Annisa.
Amier menangis bahagia di pelukan sang Bunda. Annisa ikut menangis merasakan kebahagiaan mereka. Ameera terharu dengan respon yang di berikan oleh Amier.
"Kalian cepat ke dokter untuk memastikan. Semoga kabar baik benar adanya. Cepatlah!" perintah Annisa.
Amier mengangguk dan melepaskan pelukannya. "Baiklah, aku mandi dulu ya." Amier pamit.
"Sayang, kamu juga siap-siap pergi ke rumah sakit sekarang." Amier memerintah istrinya.
Mereka pun masuk kembali ke kamar untuk bersiap. Annisa melihat itu pun tersenyum bahagia dan mengusap air matanya yang masih keluar.
"Lindungi mereka ya Allah, semoga kau tiupkan nyawa di rahim anakku untuk mereka jaga," doa Annisa tulus.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.