
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Perawat memanggil Shinta untuk masuk kedalam ruangan dokter. Shinta menoleh pada suaminya, Vano. Dia mengangguk meyakinkan bahwa dia tidak sendiri.
Shinta menghela nafas panjang menetralkan detak jantungnya dan menyiapkan mental untuk mengetahui pernyataan dokter nanti.
Shinta dan Vano memasuki ruangan dokter tersebut dengan jantung yang berdetak kencang. Sinta dan suaminya duduk di depan meja dokter itu setelah di persilahkan.
"Bagaimana dok?" tanya Shinta gugup.
Dokter menatap Shinta dan Bano bergantian lalu tersenyum. "Selamat ya Nyonya, Tuan, kalian akan menjadi orang tua." Ucap dokter.
Shinta melengkungkan bibirnya begitu juga dengan Vano yang begitu sangat bahagia dengan apa yang dia dengar.
"Be-benarkah?" gagap Shinta.
Dokter mengangguk, Vano memeluk Shinta merasa bahagia dan berkali-kali menciumi pucuk kepalanya.
"Selamat ya Pak, Buk, jaga kesehatan selalu."
Setelah menemui dokter, Sinta dan Vano pergi ke rumah Annisa untuk berbagi sukacitanya kepada Ameera, di sepanjang jalan Shinta terus saja mengusap lembut perut ratanya dan senyuman selalu terukir indah pada wajah cantiknya
Vano sesekali melirik dia tersenyum bahagia melihat sang istri yang bahagia.
Di usapnya lembut pucuk kepala Shinta dan Shiita menoleh lalu tersenyum.
"Bahagia banget kayaknya?" ucap Vano menyindir.
Shinta hanya tersenyum, dia tahu jika sang suami menyindir dirinya yang ketakutan sebelum mendengar hasil dari dokter, tapi saat mendengar dokter mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung saat ini,entah mengapa dia sangat bahagia.
Dia seperti mengemban amanah yang begitu besar dan sangat dia sukai. Kini di dalam perutnya tumbuh nyawa lain dan itu adalah buah hatinya.
Sesampainya di rumah Annisa, Shinta dengan segera turun meninggalkan suaminya sendiri di dalam mobil. Vano hanya menghela nafas pasrah.
"Kalau sudah pengen ketemu pasti ditinggal, dasar istri tercinta ku!" ucap Vano terkekeh.
Shinta dengan terburu-buru mengetuk pintu dan tak berapa lama pintu terbuka dan menampilkan Ameera sahabatnya itu
Ameera tersenyum melihat kedatangan Shinta dan tanpa basa-basi Shinta langsung menubruk tubuh Ameera dengan bahagianya.
Ameera sempat bingung. Ada apa gerangan dengan sahabatnya itu. "Kamu kenapa Shin?" tanyanya heran.
"Aku punya kabar yang membahagiakan, kau mau dengar?" girang Shinta.
Ameera tersenyum dan mengangguk, "apa?" tanyanya kemudian.
Shinta menarik tangan Ameera dan meletakkan pada perut ratanya dengan senyuman yang tak luntur tentunya.
Ameera sejenak berpikir merasa heran kenapa tangannya di tempelkan pada perut sahabatnya itu, dan beberapa detik kemudian Ameera melototkan matanya dan dengan mulut yang terbuka menatap Shinta.
Shinta mengangguk cepat. "Iya, tebakanmu benar," kata Shinta sumringah seakan tahu yang di tebak Ameera.
Ameera menutup mulutnya tidak percaya, ternyata Allah lebih dahulu memberikan buah hati untuk Shinta dan Vano.
Meski ada terbesit rasa sedih yang ia rasakan ketika mendengar hal itu, tapi sejujurnya dia amat sangatlah bahagia karena sahabatnya itu sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Ya sudah ayo masuk," ajak Ameera.
Shinta mengangguk dan menggandeng tangan Ameera bergelayut manja.
"Aku ditinggal nih? Wah tega nih!" rajuk Vano di belakang mereka. Mereka menghentikan langkahnya dan menoleh bersamaan.
Shinta melepaskan tangan Ameera dan berganti menggandeng Vano.
Di lihat semua keluarga sedang makan siang, Ameera mempersilahkan Shinta dan Vano untuk duduk. Mereka ikut makan hasil dari perang dapur antara tiga laki-laki yang tak lain adalah Amier Malik dan Bian tentunya.
Mereka semua makan dengan lahapnya. Memang lah masakan dari tangan mereka tidak di ragukan lagi. Dan lihatlah Shinta yang sudah dua kali nambah saking sedapnya masakan itu.
"Apa kau masih mau?" tanya Vano.
Shinta menggeleng. "Nanti saja di rumah. Ini sudah dua kali nambah soalnya." Shinta sedikit berbisik, tapi tetap saja masih terdengar mereka.
"Kalau mau nambah lagi nggak apa-apa loh Shin, nanti kak Malik masakin lagi kalau masih kurang." Malik tersenyum.
Shinta nyengir kuda. "Maaf ya kak, aku nggak tau kalau aku bisa suka banget sama rendang, padahal aku paling nggak suka sama makanan bersantan." Shinta kembali menyengir.
"Oh, ya sudah nanti kalau Shinta mau kakak bikinin," ucap Malik lagi.
Mata Shinta berbinar. "Benarkah? Wah-wah, terima kasih, kakak baik banget!" girang Shinta.
"Kayaknya ini bawaan bayi deh," sahut Vano menimpali.
Semua mata tertuju pada Vano dan Shinta yang tengah tersenyum malu.
"Wah, kamu lagi hamil?" tanya Syifa dengan senyum yang mengembang.
Shinta mengangguk cepat. Malik, Bian dan Asyifa tersenyum ikut bahagia. Semuanya ikut bahagia tapi ada yang berbeda pada ekspresi wajah Ameera dan Maryam, kemudian diikuti Amier yang menatap sang istri. Dia tahu bagaimana hati istrinya saat ini.
Annisa ikut mengarahkan pandangannya ke Ameera dia tahu apa yang sekarang mereka dengar menyentil hati seorang Ameera yang pada kenyataannya masih belum mendapatkan kabar yang baikbadanya nyawa di dalam rahimnya.
Tak jauh berbeda dengan Maryam, dia tersenyum tapi hatinya tidak. Hatinya resah karena sampai sekarang dia belum juga menyerahkan sepenuhnya pada Bian, sang suami.
Bian melirik sang istri dengan perasaan yang tidak bisa terbaca, seketika pandangan keduanya bertemu. Beberapa detik mereka saling memandang kemudian mereka mengalihkan pandangan mereka masing-masing.
💢💢💢💢
Setelah makan siang itu, mereka berkumpul di taman belakang sembari bersantai dan mengisi waktu luang mereka dengan bercanda dan mengobrol satu sama lain.
Para suami berkumpul dalam satu teras dengan posisi melingkar tapi tidak ada Aditya. Laki-laki paruh baya itu tengah bertolak ke Australia guna meninjau perusahaan yang ada di sana. Dan para istri duduk di teras bagian lain dengan cobek dan buah-buahan di depan mereka.
Hari ini mereka mengikuti Shinta yang tengah mengidam ingin memakan rujak buatan tangan Ameera. Sebegitu dekatnya mereka sampai calon anaknya saja ingin makan rujak buatan Ameera.
Shinta berkali-kali mencolek sambal yang ada di cobek dengan ekspresi yang begitu menikmati. Ameera menggeleng sambil tersenyum.
"Nanti kalau anak kamu lahir lengketnya sama aku pasti nih," ucap Ameera.
"Oh tentu, Tantenya ini memang akan jadi seorang yang nggak bisa lepas dari anakku nanti," sahut Shinta terkekeh.
Ameera menggeleng. "Jangan terlalu banyak, meski pengin tapi harus ada kontrolnya, dan ngga boleh ngikutin nafsu ya." Ameera memberi petuah.
Shinta mengangkat tangannya menempelkan pada kening layaknya orang memberi hormat.
"Aku akan menuruti apa yang di katakan oleh Tante Meera." Shinta bergaya macam seorang bawahan pada atasannya.
Mereka terkekeh. "Jaga kesehatan terus ya, kalau ada apa-apa cepet hubungi kita. Bunda tau orang tua kamu nggak menetap di sini, tapi kamu masih punya kita. Dan kita akan saling bantu." Annisa mengusap lembut lengan Shinta.
Shinta tersenyum dan mengangguk paham.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.