
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
"Sayang, kamu sudah bangun!" seru Amier dengan hati yang berbunga.
Tak ada respon dari Ameera, wanita itu hanya terdiam tak mau bergerak sedikitpun. Amier mengerutkan keningnya merasa heran. Apa istrinya itu tak bahagia? Atau dia merasakan sakit lagi?
Amier segera melepaskan pelukannya dan menatap Ameera dengan seksama. "Kamu kenapa, Sayang?" Amier begitu khawatir.
Amier segera bangkit dan duduknya dan menoleh ke seluruh sudut untuk mencari dokter.
"Kamu tunggu disini ya, aku mau cari dokter dulu."
"Dokter!" seru Amier yang hendak berlari tapi tangannya di cegah Ameera.
Amier menoleh dan melihat Ameera menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak usah, aku cuma sebentar kok. Aku mau bilang, makasih sama kamu, Mas."
Suara Ameera terdengar begitu lemah. Amier merasakan hal yang tak beres dengan istrinya. Amier memegang kepala Ameera dan menatapnya begitu intens.
Ameera tersenyum. Dengan bibir pucat nya dia berkata pelan. "Sampai jumpa nanti ya, Mas. Aku tunggu kamu."
"Mak-maksud kamu apa, Sayang?" tanya bingung Amier.
Ameera hanya tersenyum dan perlahan tubuh Ameera menghilang seperti daun yang terhembus angin. Amier membulatkan matanya sempurna. Mulutnya terbuka tak percaya saat Ameera sudah tak lagi di hadapannya.
Mata Amier memandang sekitar dan bukan rumah sakit yang dia lihat, tapi padang rumput nan hijau. Amier berteriak memanggil nama istrinya tapi hanya gaungan suara yang memantul.
"Aaaaa.....!!!" teriak Amier frustasi.
*****
"Jangan, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, Sayang. Aku mohon," lirih Amier.
"Jangan!!" teriak Amier dan terbangun dari tidurnya.
Amier memegang kepalanya yang sedikit pening dan menggelengkan kepalanya untuk meredakan rasa pening itu. Dia meringis karena tangan kirinya yang kebas.
Di tatapnya tangannya sendiri dan ternyata telah terpasang infus. Dia sedikit linglung dan detik kemudian dia tersadar jika dia ada di rumah sakit.
"Ja-jadi itu semua hanya mimpi?" gumam Amier.
Ada sedikit kelegaan di hatinya. Tapi dia segera mencabut dengan paksa jarum infus yang menempel di kulitnya dan turun dari ranjang.
Dia berjalan dengan sedikit oleng dan menyentuh tembok untuk menjaga keseimbangan nya.
Di gelengkan kepalanya lagi untuk menghilangkan rasa pusingnya, lalu dia kembali berjalan menuju pintu.
Dia keluar dari kamar inap nya dan berjalan menyusuri koridor rumah sakit mencari ruangan sang istri.
Saat belum jauh dia melangkah, Malik kaget melihat adik iparnya berjalan sendiri dengan tangan yang masih meneteskan darah segar.
"Amier!" seru Malik memanggil dan menghampirinya dengan langkah cepat.
Amier berhenti dan menoleh. "Kak Malik?" gumamnya.
"Syukurlah kamu sudah sadar," lega Malik dan tersenyum.
"Dimana istriku?" tanya Amier pelan.
"Ameera?" tanya balik Malik dan di angguki Amier.
"Ameera ada di kamarnya," jawab enteng Malik dan tangannya menunjuk ke pintu yang ada di sebelah mereka.
Amier menoleh dan langsung membuka pintu kamar inap Ameera dengan tidak sabar.
Brakk!!
Suara pintu yang di buka Amier mengagetkan siapa saja yang ada di dalam kamar itu tak terkecuali anaknya yang tengah di gendong oleh Ameera.
Suara bayi itu menggema memecahkan keheningan yang terjadi sesaat. Mata Amier dan Ameera saling bertemu, keduanya memancarkan rasa rindu yang amat sangat mendalam.
Annisa sesungguhnya ingin berlari memeluk putranya tapi melihat mata Amier yang tak lepas dari istrinya pun dia urungkan dan memilih mengambil sang cucu yang masih dalam tangisnya.
Sesampainya di depan istrinya, dia langsung memeluk erat dan di balas pelukan hangat dari Ameera.
Mereka saling menangis. Amier tak peduli jika di katakan lelaki cengeng, dia hanya peduli perasaan yang tak bisa di katakan dengan kata-kata hingga hanya air mata yang jadi ungkapan nya sekarang.
Amier merenggangkan pelukannya dan menatap mata basah Ameera seksama. "Kamu nggak apa-apa kan?" tanyanya masih dengan nada khawatir.
Ameera mengangguk dalam tangisnya. Amier kembali memeluk Ameera erat.
"Ekhem! Tolong ya, adegan mesra-mesraan nya di pending sementara, ada ponakan kalian yang lagi nonton sekarang." Malik mengintruksi.
Mereka melepaskan pelukannya. Baru sadar jika dia antara mereka ada banyak orang. Ameera merona karena malu. Dan Amier cuek saja karena dia tak melakukan hal yang salah menurutnya.
Ameera melirik punggung tangan Amier dan kaget. Dia raih tangan itu dan mulai mengomel. "Kamu harusnya nggak lakuin hal konyol kayak gini! Kalau kamu kenapa-napa gimana?!" omel Ameera.
Amier bukannya menanggapi omelan istrinya, dia malah tersenyum lebar mendengar kebawelannya.
"Kok di tanyain malah senyum-senyum begitu sih!" marah Meera.
Amier tertawa dan semakin membuat Ameera heran, tak hanya Ameera, orang-orang yang ada di tempat itu pun merasa aneh.
"Pingsan tiga hari buat otaknya geser aku rasa," gumam Malik sembarangan.
Asyifa memukul lengan suaminya gemas. "Mulut kamu itu ya. Mas!"
Malik mengusap lengannya yang tersa panas. "Kenapa sama mulut aku? Oh, kamu pengin di cium ya, sini-sini aku cium," ucap Malik memegangi lengan Asyifa hendak mencium. Tapi di tahan oleh telapak tangan Syifa.
"Jangan macam-macam ya, Mas!"
"Kan kamu yang mau di cium?"
"Mana ada, aku nggak bilang gitu kok!"
Suara deheman menghentikan pertengkaran manis mereka. "Sudahlah, kalian sama saj nggak ada bedanya," ucap Annisa tak habis pikir.
Asyifa dan Malik menoleh ke sumber suara dan menyengir polos merasa malu akan tingkah mereka. Dan pada akhirnya Malik memeluk Syifa dari belakang.
💢💢💢💢
Amier terus saja tersenyum sembari tangannya terus memainkannya jari-jari Ameera.
"Kamu kenapa sih senyum-senyum terus?" tanya heran Ameera.
Amier menggeleng. "Aku cuma bahagia," ucapnya.
"Jangan tinggalkan aku lagi, please," mohon Amier. Ingatan nya kembali saat dia tengah di hamparan rumput yang luas waktu itu.
Ameera menunduk. "Maafin aku ya, Mas. Gara-gara aku, kamu jadi kecapean dan pingsan sampe tiga hari," sesal Ameera.
"Dan juga, maafin aku ya Sayang. Aku sudah nggak jujur sama kamu, aku hanya ingin membuat kamu nyaman dengan kehamilan kamu, tapi malah aku yang coba buat kamu kabur." Amier menyesal.
Ameera memegang pipi Amier dan tersenyum. "Aku tau jika kamu lakuin ini buat kebaikan aku, tapi aku mohon. Kedepannya jangan ada lagi rahasia di antara kita." Ameera mulai sendu.
"Aku juga minta maaf, aku telah egois dan main tinggalin kamu saja, dan aku rasa anak kita nggak mau jauh sama Ayahnya, sampai-sampai pas sudah duduk di kabin pesawat malah turun lagi." Ameera terkekeh dengan penjelasan nya sendiri.
Amier ikut tertawa kecil. "Anak kita memang the best. Tau kalau Ayahnya nggak bisa hidup tanpa kalian berdua." Sahut Amier.
"Tidurlah, sudah malam." Ucap Amier.
Ameera mengangguk dan sedikit bergeser kemudian menepuk tempat di sebelahnya. "Naiklah," ucapnya kemudian.
Ayah satu anak itu menaiki ranjang dan memeluk istrinya dengan hangat sebelum mereka berdua terlelap menyambut mimpi indah mereka.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.
INI KALO ADEGAN MACAM INI ENAKNYA PAKE BACKSOUND TERE LIYE DARI VEER ZARAA NIH 😂
OKELAH, SELALU DUKUNG YA. MUDAH-MUDAHAN KALIAN SELALU SYUKAA😆😆😆