I Finally Found Love

I Finally Found Love
31.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Mata yang semula terpejam, kini terbuka lebar. Hanya ada cahaya putih yang masuk ke dalam retina mata nya. Ameera mengerjap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.


Lenguhan Ameera membangunkan Shinta yang tertidur sembari terduduk di samping ranjang. Shinta langsung menekan tombol darurat.


"Air," ucap Ameera.


Shinta dengan sigap membantu Meera yang akan duduk dan mengambil air yang ada di atas meja kecil.


"Kau tidak apa-apa?" khawatir Shinta. Ameera menggeleng pelan dan mulai mengumpulkan serpihan-serpihan ingatan sebelum dia terbaring di ranjang rumah sakit.


"Apa yang Kamu rasakan?" tanya Shinta lagi.


Tak ada jawaban. Setelah beberapa saat, Ameera langsung terbangun seraya memejamkan mata dan memegang kepala nya yang terasa sedikit sakit.


Shinta menyentuh bahu sahabat nya itu dengan air muka yang khawatir. "Meera?" panggil nya.


Tangan Shinta di tepis pelan dan segera bangkit dari duduk nya. Shinta bingung dengan apa yang di lakukan sahabat nya itu.


Dengan langkah pelan Ameera keluar ruangan tak memperdulikan panggilan Shinta. Di pikiran nya adalah Amier, hanya Amier.


Shinta mengomel pada Ameera yang terus saja berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Gadis itu tidak menghentikan langkah nya dan terus saja berjalan. Tujuan nya adalah meja resepsionis.


Shinta mencekal lengan Meera. "Kau mau kemana?!" seru Shinta yang kehilangan kesabaran kerena Ameera tak kunjung mendengar apapun yang dia ucapkan.


"Ke resepsionis." Jawab lesu Ameera.


"Mau apa?" suara Shinta mulai melembut.


"Buat menanyakan dimana Amier." Jawab Ameera sambil berlalu.


"Amier ada di ICU." Ucap Shinta memberi tahu.


Ameera menghentikan langkah nya dan berbalik menatap sahabat nya itu dengan tatapan kaget, "dimana Kamu bilang?" tanya nya kemudian.


"E ,,, em, itu, itu--"


"Dimana?!" bentak Ameera. Shinta sempat kaget dengan sahabat nya yang lemah lembut jadi bar-bar seketika.


"Di ICU."


Tanpa menunggu lagi, Ameera langsung berlari menuju tempat dimana sang kekasih di rawat tanpa memperdulikan teriakan Shinta.


Tak jauh dari ruangan itu, Ameera memelankan langkah nya setelah melihat Annisa, Aditya dan Bian di depan ruangan ICU dengan wajah yang sendu dan juga lelah.


Asyifa dan yang lain nya di paksa untuk pulang oleh Annisa. Sebenar nya Asyifa enggan untuk pulang, namun dia harus mengurus keluarga kecil nya terutama si kecil yang tak boleh berlama-lama di lingkungan rumah sakit.


Ameera menghampiri calon mertua nya yang ada dalam pelukan Aditya. Kedatangan Ameera mengalihkan pandangan Annisa. Annisa yang melihat keberadaan Ameera pun langsung berdiri dan memeluk nya.


Mereka berdua kembali menangis. Shinta yang baru saja sampai pun melihat itu ikut merasakan sakit. Orang yang pernah dia cintai, ada di dalam ruangan dan tak tahu kapan akan sadar.


Dan di depan mata nya, ada sahabat nya yang menangis begitu pilu. Dia merasa kasihan. Tak lama dari meninggal nya ke-dua orang tua nya, Ameera baru bisa tersenyum saat ada laki-laki yang di cintai nya datang dengan menggenggam tangan nya dan menjadi sandaran dan tempat dia pulang.


Tapi kejadian ini seakan menarik paksa pisau yang tertancap di hati sahabat nya.


"Kita berdo'a semoga semua nya baik-baik saja dan Amier bisa kembali sehat seperti sedia kala." Annisa mencoba menguatkan calon menantu nya itu.


Meski dia tahu diri nya juga sangat menderita. Tapi di depan nya juga ada gadis yang harus dia rangkul dan juga dia kuatkan.


💢💢💢💢


Hanya ada suara mesin pendeteksi jantung dan tangisan lirih di dalam ruangan terang dengan bau obat-obatan yang begitu menyeruak masuk ke indra penciuman.


Ameera menatap wajah tenang sang kekasih yang terbaring lemah. Hanya nafas yang terdengar di telinga gadis itu.


"Kapan Kamu sadar? Ini sudah dua Minggu loh, Kamu nggak kangen sama Aku kah? Nggak kangen sama bunda?" monolog nya.


"Kamu lagi mimpi apa sih, betah banget?" sambung nya dengan sedikit terisak.


Sudah dua Minggu Amier terbaring tanpa ada perkembangan yang berarti. Entah sampai kapan pemuda itu membuka mata nya, dia seakan sangat nyaman dengan tidur nya.


Tak tahu ada banyak orang yang menyayangi nya yang menunggu kapan mata itu terbuka.


Ameera memainkan perut Amier yang tertutup baju steril rumah sakit. "Aku kangen tau, Aku kangen cerewet nya Kamu buat ngelarang Aku makan pedas, Aku kangen Kamu ngejailin Aku, Aku kangen keisengan Kamu."


"Kamu nggak mau menikah sama Aku kah sampai Kamu sakit begini?"


"Kalau Kamu membuka mata Kamu, Aku janji nggak nangis lagi kalau Aku nemuin Kamu." Ameera mengusap air mata nya dan menaikkan tangan dengan jari membantuk huruf V.


"Aku janji Akan nurut nggak makan pedas lagi, asal Kamu bangun Mier, hiks ,,, hiks."


Ameera menekuk kedua tangan nya dan menenggelamkan wajahnya di atas nya. Dia nggak tahu lagi apa yang harus dia katakan.


💢💢💢💢


Ameera sibuk berkutat di dapur membuat makanan untuk mertua nya. Hari ini dia jauh lebih ceria karena janji nya tidak menangis lagi saat menemui Amier nanti nya.


Hingga dia melatih wajah itu untuk selalu tersenyum. Shinta menatap aneh pada sahabat nya, dia senang saat Ameera tak lagi menangis, namun sedikit ngeri saat Ameera senyum-senyum sendiri sembari tangan nya tak henti bergerak dengan spatula nya.


Shinta membuang sisa apel yang dia makan dan menghampiri Ameera. Memegang kening gadis itu seraya mengatakan, "nggak demam." Ameera menepis tangan Shinta.


"Apaan sih Shin, Aku tuh nggak demam!" gerutu Ameera.


"Hehe! Nggak apa-apa, cuma heran saja sih kenapa Kamu selalu senyum-senyum seperti itu." Shinta memberi alasan.


"Emang Kamu mau nya Aku nangis terus!" sungut hadis berhijab itu sembari menghentakkan kakinya.


"Minggir!" kesal Ameera. Dan Shinta hanya terkekeh.


Dia memeluk Ameera dari belakang dengan gemas. Dia bahagia saat sahabat nya itu bisa kembali tersenyum lagi.


"Begitu dong, jangan menangis terus, Aku yakin Amier nggak akan suka kalau Kamu nangis terus menerus."


"Iya, oh yah. Aku mau ke rumah sakit setelah ganti baju, Kamu mau ikut nggak?" tawar Ameera.


Shinta memanyunkan bibirnya lucu,dia mendengus kesal." Aku harus ketemu sama dosen rese itu buat bimbingan. Dan Kamu tau, dia itu sangat menyebalkan." Shinta mengadu.


Ameera terkekeh. "Awas nanti Kamu bisa jatuh cinta sama dosen yang kata nya rese itu loh." Ameera meledek membuat Shinta mencebikkan bibir nya.


"Sudah Aku mau bersiap-siap. Dan Kamu, hati-hati di jalan. Bye!" ucap Ameera meninggalkan Shinta seraya melambaikan tangan dan naik ke lantai dua untuk mengganti baju nya.


"He! Kamu mengusirku!" seru Shinta.


"Iya! Sana pergi!" teriak Ameera dengan tawa nya.


Shinta tersenyum, mengambil ponsel dan tas selempang nya dan berlalu pergi dari rumah Ameera.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.