
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
"Kamu makan ya, perut kamu kosong loh, Yang," bujuk Amier.
Ameera dengan lemah menyingkirkan tangan Amier. "Nggak enak Mas," sahut Ameera lemah.
"Tapi kamu belum makan dari pagi loh, ayolah. Kasian perutnya."
"Nggak mau Mas," ucap Ameera lagi.
Amier menghela nafas panjang. Rasanya dia nyerah membujuk istrinya itu.
"Baiklah, kamu mau makan apa nanti aku masakin." Amier memberi penawaran.
Ameera menggeleng dan tak berapa lama, suara ketukan pintu mengalihkan pembicaraan mereka.
Mata Ameera berbinar, "itu pasti kak Maryam!" ucap Ameera senang.
Amier mengerutkan dahinya, "kamu ada janji apa sama kak Maryam?" tanya Amier yang penasaran.
"Ada deh, bantu aku duduk," ucap Ameera seraya memajukan tangannya.
Amier dengan sigap membantu Ameera untuk duduk, kemudian perempuan itu menurunkan kakinya dan memakai sendal rumah dan menghampiri pintu untuk membukanya.
Amier mengikuti langkah istrinya itu dan saat pintu terbuka Amier bingung.
"Tarraaa! pesanan kamu sudah datang, ayo cepat keluar!" semangat Maryam dengan menunjukkan kantong plastik dan menarik tangan Ameera.
"Eh, tunggu! Apa-apaan itu!?" seru Amier saat mereka sudah berjalan menjauh.
Mereka menghentikan langkah mereka dan berbalik. "Apa sih adik ipar?" tanya Maryam.
"Apaan itu Kak?" tanya Amier menunjuk pada kantong plastik yang dibawa oleh Maryam.
"Ini?" tunjuk Maryam mengangkat plastik yang ia tenteng.
"Ini bahan buat rujak, kenapa?" tanya polos Maryam.
Amier menutup matanya erat. "Kakak ipar, Ameera belum makan apa-apa dari pagi, aku nggak ijinin dia makan itu!" peringat Amier.
Maryam melirik Ameera, dan Ameera hanya menyengir menunjukkan giginya yang rapi. "Aku nggak mau makan, aku mau rujak aja," rajuk Ameera.
"Tapi kamu belum makan apa-apa, kamu makan dulu gih, kamu dilarang makan ini sebelum kamu makan. Ingat perjuangan kamu ya Dek, jangan menyepelekan hal sekecil apapun," peringat Maryam.
Ameera manyun. "Iya-iya, Mas, aku mau makan," ucap Ameera dengan manja namun masih dengan nada kesal karena keinginannya belum bisa dia wujudkan.
Amier tersenyum. "Ayo," ajak Amier.
"Tapi suapin ya," rengek Ameera.
Amier tersenyum lagi. "Tentu, apa sih yang nggak buat kamu Sayang," sahut Amier seraya mencuit hidung mancung Ameera.
Amier membawa Ameera ke meja makan. "Sekarang kamu duduk di sini," ucap Amier.
"Mau makan apa?"
"Apa saja yang penting bisa di makan." Ameera menyengir.
Amier mengambilkan makanan untuk Ameera. Ameera, dengan lahap menyantap apa yang di berikan oleh Amier. "Lahapnya," kekeh Amier.
Ameera hanya tersenyum senang sampai matanya menyipit. "Jadi, kalau mau makan harus di iming-imingi rujak dulu nih?" ledek Amier.
"Nggak juga, aku cuma mau makan itu. Dan kamu malah melarang aku," bibir Ameera manyun.
Amier mencuit bibir Ameera. "Bibir mau di cium kah?" gemas Amier. Ameera terkekeh.
"Ayo cepat habiskan." Amier memerintah.
Amier tak paham dengan namanya hormon ibu hamil yang berubah-ubah, bahkan hal seperti ini bisa terjadi. Astaga, ini baru trimester pertama, belum kedua dan ketiga.
Tapi di balik semua itu, Amier akan selalu siap menjadi suami siaga yang akan memanjakan sang istri dan menuruti semua kemauannya asalkan itu baik.
Dan dia yakin itu tidak sebanding dengan apa yang Ameera rasakan sekarang, dari mulai morning sickness, nafsu makan yang berkurang, tak nyaman saat tidur, itu terkadang membuat Amier merasa bersalah.
Tapi, dia percaya jika istrinya itu sanggup. Dan dia semakin percaya bahwa derajat wanita lebih tinggi dari seorang laki-laki salah satunya adalah ini, apa lagi seorang ibu. Dia jadi makin sayang pada Bunda dan istrinya.
Setelah menghabiskan makanan nya, Ameera dan Amier membereskan bekas makannya dan menyusul Maryam yang telah duduk manis di teras belakang bersama Bian, Annisa, dan juga Aditya.
Syifa tak datang ke rumah Bundanya karena ada pertemuan antar wali murid di sekolah si kembar.
"Sini duduk," ucap Maryam menepuk tempat duduk di sampingnya.
Ameera ikut duduk di samping Maryam yang tengah mengupas mangga, Ameera ikut mengambil pisau yang ada di depannya untuk mengupas juga.
"Kak," panggil Ameera dan di jawab gumaman oleh Maryam.
"Dedek bayi nya udah gerak-gerak belum?" tanya Ameera penasaran.
Maryam tertawa kecil. "Sudahlah Dek," jawabnya.
"Rasanya gimana?" tanyanya lagi.
"Rasanya... luar biasa," sahut Maryam tersenyum bahagia karena mengingat awal pergerakan sang buah hati untuk pertama kalinya.
"Wah! Aku jadi nggak sabar." Ameera tersenyum bahagia dan mengusap sayang perutnya yang masih rata.
"Tenang, sebentar lagi juga bisa merasakan. Semoga selalu sehat ya Dek," sahut Maryam.
"Aamiin, kita selalu sehat dan lahirnya nanti lancar." Ameera ikut mendoakan.
Mereka menikmati siang mereka dengan penuh canda tawa, orang-orang yang melihat keluarga mereka mungkin akan berfikir jika mereka tidak pernah ada beban hidup.
Mereka hanya melihat dari luar saja, tapi tidak tahu jika mereka juga ada masalah seperti keluarga yang lainnya. Tapi mereka bisa menyikapi setiap permasalahan dengan kepala dingin dan saling membantu. Saling melengkapi dan tak terbawa emosi. Mereka buat masalah itu sebagai salah satu jalan terikatnya hubungan antar mereka.
💢💢💢💢
Di rumah Asyifa, dua bocah tampan putra kembar dari Malik dan Asyifa tengah bertengkar merebutkan siapa yang paling di sayang oleh bundanya.
Mereka saling tak mau kalah satu sama lain. Sudah dari pulang sekolah mereka berdebat. Entah siapa yang mulai pun Asyifa tak tahu.
"Kalian itu kenapa sih, nggak biasanya begini?" tanya heran Syifa.
Kedua anaknya itu saling melipat tangan dan berbalik saling memunggungi. Syifa memijat pangkal hidungnya merasa pusing.
"Baikan ayo, nggak baik saudara berantem begitu," nasihat Asyifa.
"Bunda jawab dulu siapa yang paling Bunda sayang," ucap Salman.
Asyifa mengeruk dahinya makin bingung. "Maksud kalian apa? Bunda sayang semuanya lah, masa Bunda bedain." Asyifa heran.
Salim berdiri di ikuti Salman. "Pokoknya Bunda harus milih siapa!" ketus Salim dan meninggalkan Syifa ke kamar masing-masing karena kamar keduanya terpisah.
Asyifa menggelengkan kepalanya tapi terkekeh. "Dasar bocah kembar, marah saja imut gitu."
"Bun, sini deh." Ciara akhirnya membuka mulut setelah puas melihat pertengkaran kedua kakak kembarnya itu.
Asyifa duduk di samping Ciara. "Kenapa?" tanyanya.
"Tadi pas di sekolah kakak, ada temen kakak yang bilang kalau bunda pasti paling sayang sama kak Salman, dan mereka juga meledek kak Salim kalau nggak di sayang gara-gara bunda berikan uang buat jajan yang nggak sama." Ciara menjelaskan duduk permasalahannya.
Asyifa tercengang. Apa-apaan ini, masalah seperti ini bisa buat anaknya bertengkar. Ya ampun, Syifa tak habis pikir. Apa yang membuat mereka berfikir seperti itu.
Masalah kecil seperti itu malah akan memecah keluarga.
Asyifa tersenyum. "Baiklah, Bunda akan bicara sama kakak kamu, dan sekarang Ciara mandi ya sudah sore soalnya."
Ciara mengangguk. Syifa kembali memijat pangkal hidungnya. "Ada-ada saja."
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.