I Finally Found Love

I Finally Found Love
54.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


AWAS TYPO BERTEBARAN 😂.


Ponsel Maryam bergetar menandakan pesan masuk.


"Aku tunggu kamu di parkiran jam istirahat."


Ity adalah isi pesan yang tak lain dari Bian. Maryam menghela nafas panjang. "Kenapa Mar?" tanya rekan kerjanya.


Maryam menoleh dan menggeleng sambil tersenyum. "Nggak apa-apa kok," ucapnya.


"Ada apa dia ingin ketemuan sama aku," gumam Maryam bingung.


"Tapi dipikir-pikir, apa aku cemburu? Kenapa rasanya aku tak rela jika Bian dekat dengan wanita lain," gumamnya lagi.


"Ah, sudahlah!" seru Maryam tanpa sadar.


Semua orang yang ada di lokasi itu pun menoleh padanya. Maryam menyengir polos sambil menganggukkan kepalanya sopan.


💢💢💢💢


Jam istirahat telah tiba, seperti yang sudah di janjikan, Maryam menghampiri Bian di tempat parkir. Maryam yang melihat Bian di dalam mobil pun langsung masuk.


"Ada apa?" tanyanya sedikit ada nada ketus.


Bian tersenyum. "Kau kenapa?" tanya Bian.


"Enggak apa-apa," sahut Maryam masih dengan nada ketus.


"Kamu nggak cemburu kan aku jalan sama client ," tebak Bian.


"Enggak kok, siapa yang cemburu. Nggak cemburu biasa saja," jawab Maryam cepat seraya membuang muka menatap keluar jendela.


Bian menahan senyumnya, entahlah kenapa dia merasa bahagia melihat Maryam yang seperti ini.


"Ya sudah, aku minta maaf," ucap Bian.


Maryam yang tadinya melihat keluar jendela pun menoleh.


"Kenapa harus minta maaf?" tanya Maryam bingung.


"Ya nggak apa-apa, cuma mengklarifikasi saja, takutnya ada yang jadi bad mood kan seharian," sindir Bian.


"Dibilang aku nggak cemburu, ya nggak cemburu!" ketus Maryam.


"Aku nggak bilang kamu cemburu tadi perasaan, wah.. jangan-jangan benar ya kamu cemburu ya?" Bian terkekeh.


"Tau ah! Cepet bilang kamu nyuruh aku ke sini mau ngapain?" tanya Maryam.


Bian mengambil paperbag di kursi belakang dan menyerahkannya pada Maryam. "Ini untukmu, aku tadi ketemu client di mall dan aku lihat barang ini, jadi aku belikan untuk kamu. Aku rasa ini cocok untuk kamu," ucap Bian.


Maryam membuka paper bag itu dan tertegun. Matanya melirik pada Bian dan Bian tersenyum.


"Kau suka?" tanya Bian. Maryam mengangguk malu-malu.


"Terima kasih," ucap maryam, Bian mengangguk.


"Ya sudah masuk gih," perintah Bian.


"Kamu ngusir aku?!" kata maryam tidak terima.


Bian jadi gelagapan, "bu-bukan, bukan itu maksudku, sebentar lagi kan mau habis jam istirahatnya, nanti kamu nggak makan."


Maryam menghela nafas panjang, "okelah," pasrah Maryam.


"Kamu lagi PMS ya?" tanya Bian menatap wajah Maryam yang kesal.


"Iya," ketusnya.


Bian mengangguk. "Pantesan," gumamnya.


"Pantes kenapa?" sahut Maryam.


Maryam mengangguk dan membuka pintu mobil lalu keluar. "Terimakasih buat yang ini." Maryam mengangkat paper bag- nya.


Setelah melihat Maryam sudah tak terlihat mata lagi, Bian menyalakan mesin dan mulai meninggalkan parkiran.


Sedangkan sepanjang jalan, Maryam terus tersenyum. Mood gadis itu kembali lagi setelah bertemu dengan Bian. Apalagi mendapatkan klarifikasi dari calon suaminya itu.


💢💢💢💢


Keesokan harinya, Maryam tak lagi berangkat kerja karena pihak hotel memberikan libur khusus. Maryam juga heran kenapa dia begitu bebas, sedangkan dia adalah karyawan baru.


Usut punya usut, hotel tempat dia kerja adalah milik dari teman Bian. Ya ampun, Maryam semakin minder di buatnya.


"Hah!" berkali-kali Maryam menghela nafas panjang membuat sang ibu yang tengah memotong sayuran pun menatap heran putrinya.


"Kamu kenapa sih Nak?" tanyanya.


"Ibu ngerasa kita itu merepotkan keluarga tante Annisa nggak sih Bu?" tanya Maryam setelah terdiam beberapa saat.


Ibu Maryam menghentikan aktivitasnya lalu menatap sang putri. "Ibu juga awalnya merasa seperti itu, tapi Annisa meminta sama Ibu buat lakuin ini. Katanya dia tau masalah antara Bian dan almarhum kakak kamu. Entah dari siapa dia tau, bahkan ibu saja tidak tau." Ibu menjelaskan.


Maryam terdiam. Dia tahu cerita antara Bian dan almarhum sang kakak dari Bian. Tapi tidak menyangka Annisa tahu segalanya melebihi dia dan sang ibu.


Hati Maryam jadi tidak enak. Bian mencintai kakaknya tapi dia yang akan menikah dengan Bian. Ya Tuhan, apakah ini yang di namakan takdir. Kenapa begitu menyesakkan.


"Tapi Maryam, Ibu lihat Bian sudah mulai menyukaimu," ucap ibu.


"Ibu sok tau," sangkal Maryam.


"Ya Ibu pernah muda ya sayang, Ibu tau bagaimana tatapan seorang yang tulus dan mana yang hanya nafsu, soalnya dari yang Ibu lihat, Bian itu tulus sama kamu," sambung ibu.


"Hah... semoga saja Bu," sahut Maryam pasrah.


💢💢💢💢


Sudah dua hari Bian tak boleh pergi kemanapun, jika dia tak menurut tentunya akan ada gemuruh di rumah tentunya, dan Aditya akan jadi sasaran empuk untuk Annisa meluapkan emosinya.


Dan Aditya meminta Bian untuk tidak lagi kerja untuk sementara dan tugas yang biasa di handle oleh Bian di alihkan ke karyawannya.


"Bosannya," gumam Bian yang duduk di meja makan dengan dagu yang ia tempelkan di atas meja.


Asyifa mengusap punggung Bian. "Sabar ya pak Direktur, semua akan berlalu." Asyifa mencoba menghibur.


Bian memutar bola matanya malas lalu menegakkan duduknya. "Nggak bisa kah aku kerja dari rumah gitu, kan aku bosan kalau begini caranya." Bian menggerutu.


"Nggak apa-apa kak, mending kita main game saja dari pada ngeluh terus." Amier ikut menyahuti.


"Lagian kakak heran deh sama kamu Bi, dulu saja males banget masuk kantor sampe ngerengek nggak mau." Asyifa menyindir.


Bian menyengir. "Nggak tau, mungkin sudah nyaman." Bian memberi alasan.


"Masa sih? Bukan karena ada perempuan yang di sukai kan?" tebak Syifa.


"Ya enggak lah, kan sudah ada Maryam, ngapain nyari lagi?!" jawab Bian cepat.


Bian refleks melotot menutup mulutnya rapat. Suara tawa dari Asyifa dan Amier menggema di ruang makan.


"Kaka sengaja ya!?" seru Bian kesal.


Syifa tak berhenti tertawa begitupun Amier. Puas rasanya Syifa mengerjai adiknya itu.


"Bun! Bian sudah jatuh cinta sama Maryam!" seru Asyifa pada Nisa yang kebetulan lewat.


"Benarkah?" Annisa terlihat bahagia. "Wah, selamat ya Nak, semoga nanti rumah tangga kalian penuh berkah dan cinta serta kasih sayang yang berlimpah." Annisa mendoakan.


"Nah, Bunda sekarang sudah nggak usah khawatir lagi. Soalnya anak bujang Bunda yang sebentar lagi nggak bujang lagi sudah membuka hatinya." Asyifa memberi tahu.


Annisa mengangguk mengiyakan. "Iya, Bunda seneng banget dengernya." Annisa begitu bahagia mendengar Bian telah menemukan tambatan hatinya.


Bian yang jadi topik utama dalam perbincangan mereka pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari berfikir. "Benarkah aku telah jatuh cinta sama Maryam?" Bian tersenyum sendiri merasa hal ini adalah hal yang konyol.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.