
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Hari demi hari Ameera di sibukkan dengan segala keperluan pernikahan. Dan pada hari ini tepat satu setengah bulan waktu yang di siapkan untuk melengkapi segala keperluan mereka.
Dan hari ini waktu nya untuk para perempuan memanjakan diri untuk merawat tubuh mereka. Persiapan untuk calon pengantin dan juga para wanita seluruh keluarga besar Al-Husein dan Shinta juga ikut di dalam nya.
Dia yang akan mendampingi Ameera. Sedih sih ada, tapi lebih banyak dia bahagia nya dari pada rasa sedih yang dia rasakan. Bahagia akhir nya sahabat satu-satunya itu akan menikah dengan lelaki yang di cintai dari semasa remaja.
Satu salon kecantikan terbesar tak jauh dari tempat tinggal Ameera di booking sehari hanya untuk keluarga mereka. Luar biasa bukan? Kekuatan orang kaya memang luar biasa.
Dari Ameera sebagai calon mempelai, bunda Annisa, Syifa, Keluarga Al-Husein dari Naura, Salsa, Adiba, Alia, bahkan para menantu pun ikut serta.
"Deg-degan nggak?" tanya Shinta pada sahabat nya itu saat di ruang spa.
"Kalau nggak deg-degan mati Shin." Ameera menjawab asal dan itu sukses membuat dia mengerang sakit karena mendapatkan kepokan di lengan mulus nya.
"Aw! Sakit Shinta." Ameera mengaduh dan memegangi lengan yang terkena tepokan hingga memerah.
"Ya Kamu bikin kesel!" gerutu Shinta.
Ameera menyengir polos. "Habis nya pertanyaan nya aneh, siapa yang nggak deg-degan mau marriage yang di lakukan hanya sekali seumur hidup. Aku yakin hampir semua gadis akan merasakan hal itu." Jelas nya.
Shinta manggut-manggut. "Eh, kalau sudah marriage jangan lupain Aku yah." Ujar Shinta yang suara nya terdengar sedih.
Ameera hanya satu dan tak ada lagi teman yang dia punya. Lebih tepat nya hanya Ameera yang bisa berteman dengan nya. Dia terlalu introvert untuk urusan teman dan hal pribadi nya.
Ameera mengerti apa yang di ucapkan Shinta sahabat nya, dia mengulurkan tangannya. Shinta mengerjap tak mengerti. Telapak tangan Ameera bergerak meminta tangan Shinta. Shinta tersenyum dan menggenggam tangan gadis, yang sebentar lagi akan menjadi istri pemuda yang sempat dia suka.
"Apapun yang terjadi, Kita akan selalu jadi sahabat. Dan jika Kamu ada kesulitan, Kamu bisa cerita seperti biasanya.
Shinta tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih." Ucap nya terharu.
Mereka memejamkan mata mereka menikmati pijatan dari sang terapis. Mereka begitu menikmati waktu mereka. Setelah mempersiapkan segala nya, Shinta ikut andil dalam membantu untuk bagian kecil-kecil saja.
💢💢💢💢
Amier menatap pusara sang ayah dengan sendu, dua hari lagi pernikahan nya, tapi ayah nya tak lagi di sisi nya. Dia tidak bisa melawan takdir, ayah nya sudah tenang di sana.
Amier duduk bersimpuh dan mengusap batu nisan bertuliskan nama ayah yang dia cintai. Dia tersenyum sakit, bukan salah takdir, tapi memang sudah di garis kan
Dia tak bisa berbuat apa-apa selain doa' yang bisa menghubungkan diri nya dengan sang ayah.
"Assalamualaikum ayah, Amier datang mau bercerita." Ujar pemuda jangkung itu.
Biarkan dia di katakan cengeng atau apapun itu dia tak peduli. Memang lah kenyataan nya seperti itu, dia memang tak sekuat seperti orang lain lihat jika sudah di depan pusara sang ayah.
Amier tersentak saat seseorang menepuk pundak nya. Amier buru-buru mengusap air mata nya. "Ada apa jagoan?" ucap Aditya, lelaki yang tak lain ayah tiri nya itu ikut bersimpuh di samping Amier.
Tak ada jawaban dari Amier. "Kau itu laki-laki, sedih boleh tapi jangan berlarut-larut," nasihat nya.
Amier tenggelam dalam pikiran nya dan Aditya yang menatap pusara Zidan membuat suasana menjadi hening, hanya hembusan angin yang menerpa wajah mereka.
"Kau tidak ikut menjemput bunda dan calon istri mu?" Aditya memecahkan keheningan.
Amier mendengus sembari tersenyum miring. "Kalau bisa Aku sudah kesan Om, tapi bunda akan marah jika Aku bertemu sama Ameera. Om tau sendiri kan kalau pengantin nggak boleh ketemu sebelum sah?" ujar Amier.
Aditya terkekeh. "Benar juga, hah! Sebentar lagi Kamu akan menikah dan meninggalkan rumah. Pasti akan kembali sepi." Aditya berubah menjadi sendu.
"Pindah hanya beberapa petak saja Om, bukan lah jauh dari rumah bunda. Dan kita bisa bolak-balik ke rumah bunda setiap saat. Bahkan bisa saja numpang makan di sana." Amier mengingatkan.
Aditya terkekeh. "Benar juga apa yang Kami bilang." Aditya menanggapi.
"Ya sudah, ayo pulang. Calon pengantin nggak boleh lama-lama di luar rumah?" ajak Aditya. Amier mengangguk dan beranjak dari bersimpuh nya.
Menatap sekali lagi pusara sang ayah dan berbalik menyusul Aditya yang lebih dulu melangkah pergi.
"Aku duluan yah Om." Amier pamit setelah menaiki motor nya.
Aditya mengangguk dan tersenyum, Amier memakai helm nya dan mulai melajukan motor besar nya meninggalkan Aditya.
Aditya merogoh saku nya dan tersenyum, nama sang istri tercantum di sana. Dan baru saja dia menempelkan benda pipih itu di telinga, dia langsung menjauhkan ponsel nya itu.
"Iya Sayang, iya bentar lagi Aku sampai. Ini sudah setengah jalan kok." Aditya menjelaskan pada sang istri yang mengomel di seberang sana.
Saat tak jauh keluar dari area pemakaman, tiba-tiba Aditya menghentikan mobil nya di karenakan ada nya kecelakaan di depan jalan yang dia lalui.
Banyak warga yang menolong pengendara motor tersebut, tunggu, pengendara motor?
Aditya membulatkan mata nya. Pikiran buruk sempat terlintas.
Dengan cepat Aditya melepaskan seltbelt- nya guna mengecek siapa yang mengalami kecelakaan tersebut. Dia berdo'a supaya pikiran jelek yang sempat terlintas itu tak pernah kejadian.
Tapi sebelum dia melihat nya, si korban sudah di bawa dengan menggunakan mobil salah satu warga yang lewat.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.