I Finally Found Love

I Finally Found Love
33.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Dua Minggu sudah Amier di rawat setelah bangun nya dari koma. Dan dua Minggu juga Ameera tidak datang lagi menemui Amier.


Amier merenung melihat rintik hujan yang turun di sore hari ini, tapi bukan nya menikmati turun nya hujan, dia malah berkelana dalam pikiran nya. Dia merasa ada yang kosong di bagian hati nya entah karena apa dia tidak tahu itu apa.


Hari ini waktu nya dia untuk pulang. Dia begitu senang namun hati nya seperti ada yang kurang.


Annisa membuka pintu ruangan Amier sehingga membuat nya menoleh pada sang bunda. Amier tersenyum begitupun dengan Annisa.


"Sudah siap?" tanya nya. Amier mengangguk.


"Kita pulang sekarang?" Amier lagi-lagi mengangguk. Mereka keluar dari ruangan itu bersama.


Amier berjalan menggunakan tongkat karena dia tidak mau menggunakan kursi roda. "Bun?" panggil nya. "Hum?" Annisa menghentikan langkah nya kemudian menoleh ke samping tepat berdiri nya sang putra.


"Amier rasa ada sesuatu yang sepi akhir-akhir ini, kenapa yah Bun?" Annisa mengerutkan kening nya. "Kenapa memang nya?" sahut Annisa.


"Entah lah Bun, Amier rasa ada rasa sakit setelah Aku ngomong kasar sama gadis waktu itu. Apa sebelum nya Amier kenal dia yah Bun?"


Amier bukan nya tak ingin menanyakan hal ini dari awal, tapi dia ragu untuk bertanya hingga bayangan gadis yang menangis di depan nya waktu itu terus saja membayangi nya dalam kondisi tidur maupun saat diri nya dalam keadaan sadar.


Annisa tersenyum penuh arti, "biarkan Kamu mengingat dia dengan sendiri nya, bukan Bunda ataupun yang lain yang mengingatkan." Annisa mencoba tenang meski dia bahagia karena Amier mulai memikirkan Ameera.


Amier bungkam begitu saja, entah apa yang ada di kepala pemuda itu saat ini. Yang jelas dia bingung dengan jawaban sang bunda.


💢💢💢💢


"Kau yakin dengan keputusan Kamu Meera?" tanya Shinta pada sahabat nya itu.


Kini dua gadis cantik itu berada di sebuah taman di samping danau, menatap sinar jingga yang sebentar lagi akan menghilangkan sinar nya.


Kegundahan dalam hati Ameera membuat dia seakan ingin menyerah, tapi Annisa calon mertua nya itu selalu saja menyemangati untuk nya tidak gampang menyerah.


"Aku juga bingung Shin, kalau sedikit saja Amier ingat Aku mungkin hal seperti ini nggak akan terjadi--" Ameera menghela nafas panjang, "kalaupun ingat nanti nya, ntah akan


sampai kapan Aku harus menunggu."


"Tapi apa sebaik nya Kamu temui dia dulu, paling tidak dia tahu Kamu itu ada dan mungkin saja hal itu bisa membantu dia untuk mengingat Kamu. Aku yakin kok, nggak mungkin orang yang sangat mencintai seseorang itu akan sepenuh nya melupakan orang itu." Shinta mencoba meyakinkan.


"Hah! Tak tahu lah Shin." Ameera menghembuskan nafas lelah nya.


Tak ada lagi perbincangan, dua gadis itu larut dalam pikiran mereka masing-masing, hingga sinar jingga itu berubah menjadi gelap seraya lampu taman yang semakin mengeluarkan sinar nya.


"Balik yuk?" ajak Shinta seraya berdiri dari duduk nya. Ameera mendongak dan tersenyum, Ameera meraih uluran tangan Shinta dan ikut berdiri.


Namun sebelum dia melangkah, suara perut Ameera berbunyi nyaring menghancurkan keheningan di kala itu. Mereka saling menatap dan tertawa kemudian. "Sudah berapa lama cacing di perut Kamu nggak di kasih makan sampai-sampai pada demo seperti itu?" Shinta terkekeh.


"Entahlah. Mungkin karena beberapa hari ini Aku makan dengan tidak baik." Akunya.


"Baiklah, sebelum pulang Kita ke restoran dekat sini biar cacing Kamu nggak demo lagi." Kekeh Shinta di ikuti Ameera.


💢💢💢💢


Bian mendudukkan diri nya di samping Amier yang tengah mengunyah sepotong roti. Bian menyomot roti yang ada di piring depan Amier.


"Kebiasaan deh, padahal sudah ada jatah nya!" gerutu Amier dengan mulut penuh.


Bian hanya menyengir polos tanpa dosa. " Kamu mau kemana Bi?" tanya Annisa seraya menuangkan jus di gelas depan Bian.


"Aku mau ke makam Mama, Aku pengin berkunjung ke sana." Bian menjawab dengan senyuman.


Annisa ikut tersenyum dan mengangguk. "Hati-hati di jalan." Peringat nya dan di angguki oleh Bian.


"Ya sudah Aku berangkat dulu yah Bun, bye Dedek gemes," Bian mengusak rambut Amier hingga tatanan rambut nya menjadi berantakan.


Annisa hampir tertawa. Dan Amier, jangan di tanya. Bian mengaduh karena terkena lemparan sendok dari Amier, Bian menoleh seraya tertawa terbahak melihat kekesalan Amier.


"Cepet baik, ada orang yang kangen pengin ketemu tapi takut!" seru Bian sambil lalu.


"Maksud nya apa yah Bun?" tanya Amier bingung tanpa mengalihkan perhatian nya pada Bian yang kian tak terlihat.


"Jangan di paksakan, Bunda yakin dia akan sabar menunggu," ucapan sang bunda semakin membuat Amier kebingungan. Annisa yang melihat kebingungan Amier pun terkekeh.


"Habiskan makanan Kamu lalu minum obat nya." Perintah Annisa.


Amier mengangguk dan kembali mengunyah roti yang tinggal tersisa setengah.


💢💢💢💢


Bian menghentikan motor besar nya di parkiran sebuah area pemakaman yang tak lain adalah makan Yasmin, mama nya.


Lelaki tampan dengan lesung pipit yang terlihat meski tanpa senyum itu pun melangkah masuk ke dalam makam setelah menyapa tukang parkir yang mengenal nya.


Bian menyusuri jalan setapak menuju sebuah gundukan tanah di antara gundukan tanah yang lain nya. Setelah menemukan apa yang jadi tujuan nya, Bian duduk bersimpuh dia samping pusara mama nya.


"Assalamualaikum ma, Bian datang. Bian kangen sama mama." Bian tersenyum, meski tak dapat di pungkiri jika Bian sedih, tapi dia tetap tersenyum karena tak ingin melihat mama nya itu ikut bersedih.


Bian mengobrol layak nya seperti sang mama ada di depan nya duduk mendengarkan apa yang dia ceritakan. Ini lah sisi lain dari Bian, meski terlihat kuat, tapi hati nya lemah seketika jika sudah di hadapan mama nya.


Lama sangat Bian mencurahkan isi hati nya, dan sewaktu dia beranjak berdiri, ada suara yang menggangu indera pendengaran nya. Dia sontak mengedarkan pandangannya ke segala arah, takut-takut bukan manusia yang bersuara.


"Nggak mungkin makhluk astral kan, ini masih pagi?" gumam nya lirih. Setelah menemukan sumber suara yang terdengar dari balik pohon, Bian menghampiri dengan jalan pelan karena penasaran.


Suara perempuan yang tak asing di telinga nya menangis tersedu. "Maryam?" gumam Bian dengan mengerutkan keningnya.


Lima belas menit waktu yang Bian habiskan untuk mendengarkan, bisa di bilang menguping. Akhirnya Maryam meninggalkan makam tersebut. Bian keluar dari persembunyiannya untuk memastikan siapa yang di tangis Maryam begitu tersedu.


"Anita?" lirih Bian dengan menatap batu nisan yang ada di depan nya.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.