
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
AWAS KESANDUNG TYPO WKWKWK.
Tepat pukul tujuh malam, waktu di laksanakannya acara resepsi pernikahan Bian dan Maryam, baru tadi pagi mereka sudah di nyatakan 'sah' dengan ucapan ijab yang di wakilkan oleh paman Maryam dan qobul oleh Bian.
Di sini, kamar ini. Tempat dua insan beda gender ini terlihat begitu canggung. Bian sedari tadi bolak-balik ke kamar mandi, entah apa yang di lakukan oleh suami Maryam ini membuat orang yang melihat nya bingung.
Bagiamana tidak bingung, orang-orang akan gugup jika akan ijab qobul, tapi tidak dengan Bian. Yang nyatanya gugup saat ada di dalam kamar hanya berdua saja dengan sang istri.
Ya ampun, Bian tidak menyangka merubah status lajangnya menjadi seorang suami.
Sedangkan Maryam, dia hanya duduk diam menunduk tak berani menegur Bian yang melakukan hal konyol. Dia memainkan jari-jarinya untuk menghilangkan rasa gugup sembari menunggu panggilan dari sang mertua.
Apakah dia di kerjain? Seingat dia hal seperti ini tidak ada. Mengapa pas sudah di rias bukannya langsung ke pelaminan tapi malah di minta menunggu di kamar, dan parah lagi dia hanya berdua saja dengan Bian.
Dia kira sudah kenyang dengan kegugupan saat ijab qobul, tapi nyatanya tidak. Ini lebih menegangkan dari pada hal itu. Entahlah, apa semua benar adanya. Sedangkan dia menikah hanya karena hal yang menurutnya lucu.
Apakah menyesal saat ini belum terlambat? Maryam rasanya ingin berteriak.
Bian kembali keluar dari kamar mandi dan menghampiri Maryam. Dia duduk di depan istrinya itu dengan mengunkung lututnya.
Dia tatap Maryam hingga membuat siempunya menatap balik Bian. "Ada apa?" tanyanya dengan kening yang berkerut.
Bian mengambil nafas panjang sebelum dia membenarkan posisi duduknya menjadi tegak. "Nggak apa-apa, hanya melatih diri biar nggak gugup saja."
"Harus gitu kah?" tanya polos Maryam dan di angguki oleh Bian.
"Aneh," sahut Maryam seraya membuang muka.
"Kok aneh, menurut aku nggak aneh. Ya beginilah caraku." Bian menyahuti.
"Iya-iya, sudah nggak gugup kan, mending berdiri deh jangan duduk di depan aku macam ini. Aku merinding tau. Kamu macam orang cabul." Maryam berekspresi seperti orang geli.
Bian membulatkan matanya. "Kamu bilang orang cabul. Enak saja!" protes Bian.
"Memang benar kok," Maryam tak mau kalah.
Bian tak suka jika ada orang yang mengatai nya dengan sebutan cabul atau sebagainya yang mengarah pada tindak kriminal.
"Kalau cabul macam ini!" seru Bian seraya bangkit dari duduk nya dan memegang lengan Maryam kemudian mendorongnya ke belakang hingga Maryam terbaring di atas ranjang.
Maryam menjerit kaget. "Bian lepaskan!" protes Maryam.
"Katanya mau liat orang cabul kan. Nah gini," Bian mengunci tangan Maryam di atas kepala dengan satu tangan.
Jari tangan kanan Bian menyentuh kening, semakin turun ke bawah melewati hidung dan berakhir di bibir Maryam. Maryam sudah berteriak minta di lepaskan.
"Ssstt!" jari Bian menyentuh bibir Maryam untuk diam.
Maryam seketika terdiam dan mata mereka saling pandang dan mengunci satu sama lain. Maryam menatap Bian intens begitu pula dengan Bian.
Cukup lama mereka melakukan itu hingga suara deheman dari ambang pintu membuyarkan tatapan mata mereka.
"Masih ada acara lagi loh, mesra-mesraannya boleh di tunda dulu kan?" sindir Amier.
Bian langsung bangkit dari atas tubuh Maryam dan langsung berdiri tegak.
💢💢💢💢
Seperti biasanya, dengan tim yang solid dan kekompakan mereka membuat acara berjalan dengan lancar dan meriah, apalagi dengan acara dadakan seperti nyanyian dari Amier, Malik, dan Aditya yang tak mau kalah.
Acara resepsi pernikahan tak seperti ekspetasi orang kebanyakan, yang elegan, hikmat, dan sebagainya.
Siapa yang menyangka, kumpulan para pebisnis sukses dan tersohor mempunyai sifat kecuekan pada saat kumpul bersama.
Cuek di bilang tak elegan lagi, cuek jika di cemooh dengan sikap kekanakan mereka. Mereka yang tahu ke-gokilan keluarga besar dari Al-Husein dan kerabatnya tentu tak heran.
Karena hampir di semua acara keluarga pasti akan ada hal yang menarik dan unik yang mereka tampilkan. Seperti saat ini, dengan di iringi musik yang romantis semua keluarga ikut berdansa bersama dengan mempelai.
Bian dan Maryam merasa malu saat mereka berdiri di kerumunan para tamu undangan yang menanti dansa romantis mereka.
Bian mengulurkan tangannya dan tersenyum canggung. Maryam dengan ragu menggenggam tangan Bian dan mereka mendapatkan tepukan tangan yang sangat meriah dari para tamu.
"Kamu bisa dansa kan?" ucap Bian lirih bahkan hanya Maryam yang mendengar.
Maryam mengangguk. "Aku bisa, tapi aku malu." Maryam sedikit menunduk.
"Tak apa, anggap saja mereka itu patung." Bian memberi semangat.
Maryam terkekeh. "Bisakah begitu?" kata Maryam dan langsung di angguki Bian sembari tersenyum simpul.
"Woi cepetan woi! Kelamaan keburu bubar!" seru Amier usil.
Bian menempelkan jarinya ke bibir menyuruh Amier diam. Tapi Amier tetaplah Amier, dia tak akan berhenti sebelum keinginannya terpenuhi.
"Bisa kita mulai sekarang? Dedek comel cerewet banget soalnya." Bian sedikit berbisik, Maryam mengangguk.
"Cepetan lah kak," desak Amier.
"Iya bawel!" seru Bian sewot dan di tanggapi hanya dengan tawa oleh Amier.
Sebuah dansa romantis yang di tunjukan kedua mempelai di ikuti oleh Amier yang juga mengulurkan tangannya pada sang istri.
"Mau mencobanya?" tanya Malik pada Syifa.
"Tapi--" Syifa melirik Ciara yang sedang duduk.
"Ciara mau seperti itu juga Bun, sama kakak Salim." Ciara merengek.
"Emang putri kita paling mengerti, tau saja orangtua nya mau mesra-mesraan." Malik menyahut, Asyifa terkekeh.
"Ayo dek," ajak Salim menggandeng tangan adik kecilnya.
Ciara dengan senang menyambut uluran tangan sang kakak dan menarik kakaknya untuk mendekati Bian dan Maryam untuk ikut berdansa.
"Om, aku mau ikutan!" Ciara berseru.
Bian menghentikan pergerakannya dan menyambut bocah kecil itu. "Mau kah tuan putri Ciara berdansa dengan Om Bian yang tampan ini?" Bian membungkuk seraya mengulurkan tangannya.
Ciara menggeleng. "No-no-no," Ciara menggerakkan jarinya kanan dan kiri. "Ciara mau sama kak Salmi saja." Sambungnya.
"Sesuai pinta tuan putri," ucap Bian menyahuti.
Keluarga Al-Husein dan para tamu sangat menikmati pesta tersebut hingga larut malam.
💢💢💢💢
Setelah acar selesai, kedua mempelai kembali ke kamar mereka. Kamar yang tadinya hanya polos saja kini sudah sangat cantik dengan hiasan bunga mawar merah dan putih yang tersusun rapi dan begitu wangi di indera penciuman.
Maryam sampai tak bisa mengucapkan apa-apa saking terpesonanya dengan kamar yang ia masuki itu.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.