I Finally Found Love

I Finally Found Love
32.



SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.


Ameera memarkirkan mobilnya di tempat parkir rumah sakit. Dia turun dengan box makan siang nya yang telah dia bawa dari rumah.


Dengan ceria dia melangkah menuju ruangan Amier, bahkan dia menyapa suster dan ibu-ibu hamil serta anak-anak saat melewati poli KIA.


Gadis itu menaiki lift menuju lantai tiga dimana Amier di rawat. Sepanjang perjalanan menuju ruangan, Ameera merasa sedikit aneh dengan keadaan di sekitar nya, tapi dia tak terlalu memperdulikan hal itu.


Sesekali dia cek kembali box yang dia bawa itu. Dengan senyuman merekah nya, dia melangkah dengan riang. Saat kurang beberapa langkah dari ruangan, Ameera menjatuhkan box yang dia pegang itu.


"Apa ini? Kejutan apa lagi ini?" gumam nya dalam hati.


Annisa yang tengah menangis, menghampiri Ameera yang terlihat linglung. "Amier Meera, Amier, hu ,,, hu ,,,."


"A ,,, Amier kenapa Bun?" lirih nya.


"Kondisi Amier menurun." Kata-kata itu sukses menerjunkan air mata Ameera.


"Lalu sekarang gimana Bun?" tanya Ameera dengan menahan sesak di dada nya, suara nya mulai bergetar.


"Bunda nggak tau, Bunda takut Meera, Bunda takut." Annis menangis sesenggukan.


Ameera menuntun ibu dari kekasih nya itu untuk duduk. " Aku yakin Amier akan baik-baik saja kok Bun, Aku yakin." Meera mencoba menenangkan dan mencoba tegar.


Tapi, ketegaran dari seorang Ameera, runtuh begitu saja saat dokter keluar dan di serbu banyak pertanyaan dari keluarga. Dan gelengan dari dokter melemaskan Ameera.


💢💢💢💢


Malam ini Annisa menemani Amier, dia tertidur di sofa yang di siapkan khusus untuk nya di balik ruangan kaca dimana sang putra terbaring dengan alat bantu pernapasan nya.


Keadaan sudah sedikit membaik setelah dua hari dalam masa pemantauan yang intensif. Kini Annisa sedikit lebih tenang dan sedikit merasa lega. Paling tidak putra nya dalam keadaan yang baik-baik saja dan sangat berharap dengan ada nya keajaiban yang akan datang dari sang maha hidup untuk mengembalikan Amier ke dalam pelukan nya.


"Bunda?" samar-samar Annisa mendengar suara berat dari ruangan sepi itu.


Wanita paruh baya itu mengernyit untuk kembali mendengar memastikan jika dia tak salah dengan pendengaran nya. Dia terjengit kaget saat asal suara itu dari dalam ruang kaca tempat Amier tidur.


Dengan segera Annisa terduduk dan bangkit seraya tersenyum, harap-harap itu benar suara putra nya bukan halusinasi belaka.


"Bunda?" lirih nya lagi masih dengan mata terpejam.


Annisa menggenggam erat tangan putra nya dengan air mata yang membasahi pipi nya. "Iya Sayang, Bunda di sini Nak?" Annisa mencoba membuat sadar sang putra.


Tangan nya terus memencet tombol darurat, hingga para dokter yang menangani Amier pun berlarian datang ke ruangan.


Annisa mundur dan di minta untuk meninggalkan ruangan saat dokter mengambil tindakan. Annisa masih menangis.


Aditya yang baru datang merasa khawatir dan takut melihat istri nya itu menangis.


"Kamu kenapa?" tanya nya seraya memegang bahu sang istri.


"A ,,, Amier. Amier sadar. hiks! Tapi dia nggak mau membuka mata nya."


Aditya merangkul mencoba menenangkan.


Tak lama, dokter keluar dan senyum terpantri di bibir nya. Annisa segera melepaskan rangkulan Aditya dan menghampiri nya.


"Berita baik Bu. Ini sangat langka dalam kasus nya pasien, sungguh ini begitu ajaib." Ujar dokter itu.


💢💢💢💢


"Maafin Amier ya Bun, Amier nyusahin Bunda." Amier terlihat sedih.


"Sssttt! Nggak boleh ngomong begitu, Bunda malah yang berterima kasih soal nya Amier masih mau kembali lagi sama Bunda." Annisa terus saja menciumi tangan Amier.


Bian, Aditya, Asyifa, dan juga Malik ikut tersenyum melihat senyum Annisa kembali mengembang. Amier sudah di tempatkan di ruang rawat biasa setelah melewati pemeriksaan secara menyeluruh dan kini Amier juga sudah tak lagi menggunakan ventilator.


Saat sedang asyik nya berbincang, suara pintu yang terbuka dengan sedikit kasar pun mengagetkan mereka. Muncul lah Ameera dengan nafas yang memburu dan senyuman yang mengembang setelah melihat sosok Amier yang telah membuka mata nya.


Dengan segera Ameera menghampiri, Annisa dan yang lain tersenyum melihat Ameera. Tapi tidak dengan Amier, dia terlihat bingung dengan ada nya Ameera.


"Kamu sudah sadar?" tanya nya senang. Amier hanya mengangguk lemah. Amier menarik lengan Annisa.


Annisa yang tengah menatap Ameera pun menoleh. "Ada apa Sayang?" tanya nya kemudian.


Amier menggerakkan tangan nya pada Annisa untuk memberi kode supaya bunda nya itu mendekat. "Dia itu siapa yah Bun?" Amier bertanya seraya mata nya sesekali melirik Ameera. Gadis itu yang melihat tunangan nya melirik ke arah nya pun sangat senang.


Annisa mengernyit bingung. "Kamu nggak kenal sama dia?" heran sang bunda. Dan Amier menggeleng dengan polos nya.


Annisa memandang sang suami dan ketiga anak nya yang juga menatap nya. Seakan tahu, Malik segera memanggil dokter.


Ameera ingin menggapai lengan Amier, namun pemuda itu menampik tangan Ameera dengan kasar. Ameera menatap sendu tangan nya yang di tolak Amier itu.


"Siapa Kamu?!" tanya Amier tak suka. Meera begitu kaget, belum hilang keterkejutan Ameera. Ucapan Ameir selanjutnya membuat hati gadis cantik berhijab itu terluka. "Jangan main sentuh sembarangan yah!" sambung nya.


"Amier?" lirih Meera. "Pergi Kamu! Siapa Kamu main masuk sembarangan!" meski suara Amier tak begitu lantang, tapi begitu menyakitkan.


"Amier, Amier nggak kenal sama Ameera?" tak kalah kaget, Asyifa ikut menanyakan nya.


"Nggak," jawab singkat Amier.


Asyifa bungkam, jangan katakan bahwa adik nya itu kehilangan ingatan nya tentang Ameera. Tapi kenapa? Jika dia hilang ingatan, kenapa keluarga nya dia ingat. Dan kenap hanya Ameera yang dia tak ingat. Padahal gadis itu sangat dia cintai, pikiran Asyifa berkelana kemana-mana.


"Tunggu apa lagi? Pergi!" Ameera tersentak, pipi yang sudah mengering kembali basah oleh air mata.


Ameera menutup mulut nya menahan suara nya lalu pergi dengan berlari. "Ameera sayang!" panggil Annisa.


Ameera menubruk Malik yang datang bersama dokter, hampir saja tersungkur jika Malik tidak menahan bahu gadis itu.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Malik. Ameera menggeleng.


Dokter pamit untuk masuk terlebih dahulu. Malik menuntun Meera untuk duduk. Annisa menghampiri Ameera dan juga Malik di kursi tunggu.


Annisa mendudukkan dirinya di samping calon menantu nya itu. Tangan lembut nya mengusap air mata Meera seraya memeluk tubuh yang bergetar itu.


Ameera menangis menumpahkan segala rasa sakit nya lewat air mata itu.


Malik yang melihat pun merasa kasihan. Dia tahu bagaimana rasa nya orang yang di cintai tidak mengenali kita. Dan dia tahu betul bagaimana rasa nya.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.


MAAF YAH, RL LAGI SIBUK BANGET JADI BARU BISA UP SEKARANG, DAN MARI KITA NIKMATI ALUR NYA, BAGAIMANA ENDING NYA NANTI KITA LIHAT BARENG-BARENG OKE😂🤫.