I Finally Found Love

I Finally Found Love
84.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Asma dengan nafas yang sedikit memburu itu menengok ke belakang saat sudah di depan dapur.


"Asem emang!" gerutu Asma.


"Apa yang kau lakukan?"


"Ya Allah!" pekik kaget Asma sembari mengelus dadanya.


"Kak Ni-zam," ucap Asma yang kaget dan juga bingung.


Gadis itu menatap Nizam dan kumpulan para sahabatnya secara bergantian, dia mengepalkan tangannya menahan emosi karena telah di kerjain oleh Amier.


Nizam mengerutkan keningnya. "Kamu kenapa?" tanyanya.


"Eh, iya, kenapa?" tanya balik Asma gugup.


"Ada yang ngerjain kah?" tebak Nizam.


Asma menutup bibirnya rapat dan menggeleng kuat. "Ti-tidak! Em, anu, Kak maaf aku, aku mau ke toilet." Nizam mengangguk dan memberi jalan untuk Asma.


"Permisi," pamitnya melewati Nizam.


Asma masuk ke dalam toilet sebelah dapur. Nizam duduk di kursi meja makan dekat dapur sembari meminum kopi yang telah di sediakan oleh asisten rumah tangga keluarga Al-Husein.


Sedangkan Asma yang ada di toilet, dia tak melakukan apapun. Dia hanya bolak-balik di depan wastafel sembari menenangkan detak jantungnya.


niat hati sebenarnya tidak ingin ke toilet hanya itu alasan yang dia buat untuk menghindari kegugupan saat Amir memanggil Nizam tapi sialnya dia malah bertemu dengan Nizam di dapur.


"Sial banget sih aku, astaga!" gerutu Asma merutuki kebodohannya.


Asma berdiam sebentar kemudian keluar. Saat membuka pintu, dan urungkan untuk keluar karena dia melihat Nizam yang masih di ada di dapur.


Dia kembali masuk. "Kenapa dia masih di sana sih?!" Asma jadi kesal sendiri.


Gadis itu menunggu kembali untuk beberapa saat, berkali-kali dia sedikit membuka pintu untuk memastikan keberadaan Nizam.


"Huft! Akhirnya pergi juga," lega Asma.


Asma membuka pintu perlahan dan keluar.


"Kau menghindari aku?" tanya Nizam mengagetkan Asma.


Asma memejamkan matanya erat. Nizam yang tadinya bersandar di dinding kamar mandi pun menegakkan tubuhnya dan semakin mendekati Asma.


Asma refleks mundur. Nizam mencondongkan wajahnya hingga Asma memundurkan kepalanya guna menghindari jarak yang begitu dekat.


Nizam tersenyum simpul melihat kegugupan Asma yang menurutnya begitu lucu di matanya.


"Kak," panggil Asma dan di sahuti dengan gumaman.


"Jaraknya terlalu dekat." Asma memperingati.


Nizam kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Asma seksama hingga membuat gadis itu salah tingkah.


"Maaf, aku permisi dulu." Asma pamit dan segera meninggalkan Nizam yang masih diam mematung dengan pandangan yang fokus padanya.


****


"Lama banget As?" tanya Mitha salah satu temannya yang menunggu di gazebo kolam renang sendiri.


Asma celingukan. "Yang lain pada kemana?" tanyanya.


"Yang lain sudah pada balik. Dan aku nunggu kamu ini mau pulang bareng nggak?" tanya Mitha.


"Iyalah, kan mobil aku lagi di bengkel." Asma mengingatkan.


Mitha mengangguk-anggukan kepalanya. "Ya sudah. ayo!" ajak Mitha.


Mereka berdua meninggalkan kolam renang dan menghampiri Ameera dan keluarganya untuk berpamitan.


"Eh, Asma nggak pulang sama Kakak Nizam kah?" ledek Amier.


Mitha terkekeh di ikuti lainnya. Sedangkan Asma jadi sedikit merona karena mengingat ledekan Amier sejam yang lalu saat di kolam renang.


"Iya kan, Kak Nizam."


"Tau ah!" kesal Asma kemudian menyingkirkan badan Amier yang menghalangi jalannya.


"Ngeselin!" gerutu Asma sebelum dia melangkah jauh.


Amier merasa puas dengan kejahilannya. Bagaimana tidak, di antara teman-teman Ameera dia yang paling suka menjahili istrinya.


Asma kemudian langsung masuk ke dalam mobil Mitha lengkap dengan gerutuannya.


"Ngeselin banget sih! Emang ya, Amier nggak di sana nggak di sini bikin kesel, sudah jadi bapak-bapak juga!" gerutu Asma.


"Hemm, sabar, sabar. Sabar Asma," ucap nya kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya dan membuka aplikasi WhatsApp untuk mengecek siapa saja yang menghubunginya. Karena selama acara berlangsung, notifikasi ponselnya dalam mode off.


Saat Asma tengah sibuk dengan ponselnya, pintu terbuka. "Cepatlah! Aku lagi kesel nih!" tanpa menoleh dia berucap.


Tapi tak ada tanggapan dari lawan bicaranya, mobil masih tak juga jalan. Asma menoleh dan matanya membulat sempurna karena kaget.


"Kenapa?" tanya polos Nizam.


Ya, orang yang masuk kedalam mobil itu bukanlah Mitha, tapi melainkan Nizam, kakak dari Ameera.


"Kak, Kak Nizam?!" pekik Asma kaget.


"Iya, kenapa?"


Asma menggeleng cepat. "Nggak apa-apa," jawabnya kemudian menunduk karena malu.


Nizam tersenyum simpul. Semakin di lihat, Asma semakin manis dan lucu sekarang, tidak seperti dulu yang selalu menanyakan kabar Nizam dari Ameera, dan juga sangat agresif.


Yang di lihat Nizam sekarang adalah Asma yang pemalu, meski kadang gadis itu masih saja muncul sifat jahilnya, tapi hal itu malah membuat Nizam rindu pada perangai gadis itu.


Nizam mulai melajukan mobilnya. Hanya ada keheningan di antara mereka. Asma masih dengan jantung yang berdebar, Nizam yang sedikit bingung harus memulai obrolan dari mana.


"Ayah dan Mama kami di rumah?" tanya Nizam mencoba menghilangkan keheningan.


Asma mengangguk mengiyakan. Nizam mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Kembali lagi keheningan yang merajai di antara mereka.


Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah Asma. "Terimakasih," ucap Asma sungkan.


Nizam mengangguk dan hendak ikut turun. "Kak Nizam mau ngapain?" tanya Asma.


Nizam melanjutkan membuka seatbelt- nya dan keluar. "Aku mau nemuin Ayah dan Mama kamu." Nizam berujar dan meninggalkan Asma yang masih mematung.


"Asma, ayo!" ajak Nizam.


Asma terperanjat. "Eh, iya." Asma linglung.


"Nggak mau mau masuk kah?" tanya laki-laki itu.


Asma tersadar dan ikut masuk Nizam. "Assalamualaikum," sapa keduanya hampir bersamaan.


Mama Asma menjawab dan mempersilahkan Nizam untuk duduk. "Temannya Asma?" tanya Mama Asma.


Nizam tersenyum dan mengangguk dengan sopan. "Terimakasih sudah anterin anak Tante ya," ucap Mama.


"Ya sudah, Ma. Aku ke kamar dulu dan buat minum." Asma pamit.


Setelah kepergian Asma, Nizam kembali berbicara dengan mama Asma. Tak membutuhkan waktu lama untuk Nizam bisa akrab dengannya.


"Oh iya, Ayah Asma kemana ya Tan?" tanya Nizam sopan.


"Ada, dia di kebun belakang, nanti Tante panggil dulu ya," ucapnya kemudian beranjak dari duduknya untuk memanggil sang suami.


Sembari menunggu, mata Nizam menjelajah setiap sudut ruang tamu itu. Dan senyumannya terukir saat melihat foto masa kecil Asma yang begitu lucu. Kemudian mata Nizam tertuju pada satu foto yang menarik perhatiannya.


Dia berdiri dan menghampiri foto tersebut. "Manisnya," gumam Nizam dengan mata yang fokus menatap foto berbingkai itu.


Suara deheman dari belakang sedikit mengagetkan Nizam. Nizam tersenyum kaku karena ketahuan menatap foto yang tak lain adalah foto Asma.


"Sore, Pak." Nizam menghampiri dan menyalami dengan sopan.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.