
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Benar dugaannya. Amier kini berdiri di depan pohon mangga rumah lama Maryam. Tak hanya Amier saja, ada juga Bian.
Ameera menghubungi Maryam untuk datang ke rumah lamanya yang sekarang sudah di kontrakan. Dua wanita hamil itu duduk di teras dan memandangi dua laki-laki yang mana para suaminya.
Sambil ngemil mereka menikmati kegalauan kedua laki-laki tersebut. Bagaimana tidak galau, dua orang laki-laki itu bingung harus melakukan apa karena sudah lupa cara manjatnya.
Kok bisa? Ya tentu bisa, sewaktu mereka kecil memang sangat suka manjat pohon tetangga dan sangat jahil memetik buah yang sudah besar ataupun yang masih berbunga.
Dan hasilnya akan membuat yang punya pohon marah dan mengambil sapu untuk mengusir mereka.
Karena panik, mereka jadi kehilangan keseimbangan yang membuat Amier dan Bian yang berada di atas pohon pun terjatuh. Dan sialnya, Amier terjatuh di tumpukan sampah dan Bian di tanah yang tandus yang menyebabkan tangan kirinya patah dan harus di rawat lebih dari tiga bulan.
Hal itu membuat Amier ketakutan dan tidak lagi mendekati benda hidup yang namanya pohon mangga. Dan hal itu berlanjut hingga sekarang.
Dan apa sekarang? Mereka malah di hadapkan oleh pohon yang membawa mereka kembali pada masa itu. Amier menoleh pada Bian yang juga melakukan hal yang sama.
"Gimana nih?" tanya Amier bingung.
"Ya mau gimana lagi, harus panjatlah. Mereka nggak mau kalau pake pengait." Bian ikut bingung.
"Ya Allah, anak kamu ngerjain dah keknya Kak," ucap Amier.
"Gitu-gitu keponakan kamu. Dan anak kamu juga tuh yang duluan minta. Mana ngajak anak aku pula!" gerutu Bian.
Amier bukannya marah malah ketawa merasa lucu dengan jawaban kakaknya. "Kita merasa di kerjain ya, Kak?" Amier tak habis pikir.
Bian ikut tertawa kecil. "Kayaknya puas banget sama penderitaan kita," sahut Bian.
"Ngapain ngobrol? Cepetan lah Mas!" seru Ameera memotong diskusi mereka.
Keduanya menoleh dan menatap jengah istri masing-masing yang terlihat cuek dan menikmati waktu mereka.
"Bismillah saja lah, Kak." Amier menyenggol lengan Bian masih dengan tatapannya pada sang istri yang terlihat puas.
Bian mengangguk. "Ayo saja lah, kita sudah dewasa pastinya nggak akan apa-apa." Bian mencoba meyakinkan diri sendiri.
Mereka membalikkan badan mereka dan mengambil ancang-ancang untuk mulai memanjat pohon mangga tersebut.
Bian mulai menaiki punggung Amier sebagai pijakan untuk naik ke pohon. "Pegangin dong, Dek!" seru Bian saat akan naik pohon.
"Bawel banget sih! Sudah naik saja ngapa sih repot banget mau naik doang!" kesal Amier.
"Pake nanya lagi udah tau alasannya!" sungut Bian ikut kesal.
Amier memegangi kaki Bian yang berdiri tegak di atas bahunya. Maryam dan Ameera menatap jengah mereka. Para istri tak tahu menahu tentang kejadian masa lampau suami mereka masing-masing.
Jadi mereka merasa biasa saja saat melihat suaminya memanjat pohon mangga itu. Bahkan sesekali mereka tertawa melihat kekonyolan Bian dan Amier.
Tak berapa lama setelah dengan usaha yang cukup keras akhirnya bisa menaiki pohon itu itu dan menduduki batang pohon yang kokoh.
"Huft! Akhirnya." Bian merasa lega saat sudah di atas, kemudian merasa ngeri saat melihat kebawah.
Bian menelan ludah dan langsung menghadap ke atas untuk menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang karena merasa ngeri.
"Sudah Kak cepat itu ambil buahnya." Amier mengarahkan telunjuknya pada mangga terdekat Bian.
Bian menggapai satu mangga dan mengambil kantong plastik yang ada di saku celananya kemudian memasukkan buah itu dan dia sangkut kan ke batang yang sudah tak berdaun.
Satu persatu dia petik dan memasukkan ke plastik, saat akan penuh, tiba-tiba Maryam menjerit dengan keras.
"Ah!" pekik Maryam merasakan sakit.
"Kak Maryam!" seru Amier menghampiri.
"Maryam!" seru Bian panik dan bingung.
Ameera dan Amier panik melihat Maryam yang kesakitan. "Kak, kamu nggak apa-apa?" tanya Amier khawatir.
"Aww," ringis Maryam.
"Ka-kayaknya mau melahirkan deh Kak Maryam nya!" seru Ameera ikut panik.
Mereka sama-sama panik karena tidak ada orang tua yang mengarahkan dan tidak tahu harus berbuat apa.
Amier melirik Bian yang masih di atas pohon dengan ekspresi yang bingung. "Kak Bian turun!" serunya gemas.
Bian menoleh. "Gimana cara turunnya?!" bingung Bian.
"Loncat saja loncat!" perintah Amier.
"Nggak bisa Amier!" serunya.
Maryam semakin berteriak dan ada air di tempat dia duduk. Ameera jadi semakin panik melihat itu. "Mas ada air ketuban, Mas! Mas!" panggil Meera menepuk kencang bahu Amier dengan mata yang masih melihat tempat Maryam duduk.
Amier menoleh dan terkejut. "Kak Bian air ketuban Kak Maryam keluar!" Amier semakin gemas pada Bian yang masih saja tidak berani turun.
Bian yang mendengar itu pun semakin panik dan takut. Sedetik kemudian suara jatuh begitu nyaring di indera pendengaran mereka.
Bian terjatuh, tapi dengan segera dia bangkit dan menghampiri sang istri yang masih kesakitan. Bian dengan sigap menggendong Maryam dan membawanya ke mobil.
Amier mengambil tas dan ponsel mereka kemudian menggandeng Ameera untuk mengikuti Bian.
Amier mengambil alih kemudi dan Ameera duduk di sampingnya. Sedangkan Bian menenangkan Maryam yang masih dalam dekapannya.
"Cepetan, Dek!" pinta Bian, suaranya terdengar gemetar.
"Sabar ya sayang, sabar. Sebentar lagi sampai." Bian mencoba menenangkan meski tak bisa di pungkiri jika dia sangat panik.
"Sakit, Bi." Maryam mengeluh.
"Sabar, sayang. Amier cepatlah!"
Setelah tiba di rumah sakit, Maryam di larikan langsung ke ruang bersalin, karena sebelumnya sudah di hubungi dokter yang merawat Maryam selama kehamilannya.
Tangan Bian tak lepas dari genggaman Maryam dan ikut masuk kedalam ruang bersalin, sedangkan Amier dan Meera menunggu di kursi tunggu.
"Mas, hubungi bunda dan ibunya kak Maryam. Mas." Ameera mengingatkan.
Amier baru teringat dan langsung mengambil ponsel untuk menghubungi Annisa dan juga ibu Maryam.
Setelah menelpon, Amier duduk di samping istrinya dan menggenggam tangannya erat. Ameera mengernyit karena genggaman sang suami yang semakin erat.
"Kamu kenapa. Mas?" tanyanya.
Amier menoleh dengan ekspresi yang tak bisa di baca. "Aku khawatir, Yang. Gimana nanti kalau kamu melahirkan? Pasti sakit." Amier meracau.
Ameera tertawa kecil. "Semua calon ibu pasti kuat, Mas. Apalagi buat buah hati mereka. Bahkan bisa mengorbankan nyawa mereka sendiri." Ameera mencoba menjelaskan.
"Kita doa'kan saja kak Maryam di berikan kekuatan dan kesehatan dan juga baby- nya sehat selamat." Ameera berujar lagi.
"Aamiin," doa Amier dan Ameera bersamaan.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.