
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Dua bulan sudah Maryam dan Bian menjalani kehidupan berumahtangga, namun hanya sekedar tinggal satu atap, saling sapa, memasakkan untuk pasangan. Hanya itu saja.
Mereka masih aman karena belum ada orang yang mengetahui bagaimana kehidupan pernikahan mereka. Tapi, tetap saja. Tidak ada orang yang menyembunyikan bangkai terlalu lama, dan benar apa kata pepatah itu.
Hari ini, mereka berdua di hadapkan di tengah-tengah para anggota keluarga. Dan tentunya dengan rasa kecewa, Annisa menatap mereka. Dia menyesal bahkan sangat menyesal.
Dia merasa tidak memahami anak dan menantunya itu. Dia hanya ingin yang terbaik tapi tak memikirkan resikonya. Dan kenapa juga anak dan menantunya itu bisa punya ide gila yang ujung-ujungnya membohongi seluruh keluarga.
Bian menggenggam tangan Annisa dengan rasa sesal karena membuat bundanya itu kecewa. Dia menerima perjodohan ini karena dia mau membuat Annisa bahagia, tapi nyatanya dia salah.
Karena keputusannya itu, dia jadi membuat sang bunda kecewa. Bian memang mencintai Maryam, tapi dia tak tahu bagaimana perasaan Maryam terhadapnya. Selama dua bulan ini dia menjalani kehidupan rumahtangganya seperti hal nya tetangga sesama tetangga.
"Bun, maafin Bian ya Bun," mohon Bian.
"Kenapa Bian nggak ngomong dari awal kalau kalian tak bisa bersama, kenapa harus membohongi diri sendiri hanya untuk membuat Bunda senang, Bunda mau kamu dapat yang terbaik, tapi malah Bunda buat kamu menderita dengan menikahkan kamu sama Maryam yang tak mencintaimu." Annisa sesekali mengusap air matanya yang mengalir di pipi.
"Maafin Bunda, maafin Bunda yang sudah gagal menjadi orangtua, Bi," ucap Annisa lagi.
Bian menggeleng. "Nggak, Bunda nggak salah. Maryam juga nggak salah, Bian yang salah, Bian yang memulainya Bun. Jangan salahkan diri Bunda sendiri, please." Bian memohon dengan menciumi punggung tangan Annisa.
Keluarga mereka yang melihat itu pun merasa sedih. Tak dapat mereka mencampuri urusan yang bukan hak mereka. Bian adalah kepala keluarga sekarang, yang bisa membuat keputusan, bukan hak mereka ikut campur dalam hal ini.
Maryam merasa tertohok dengan ucapan mertuanya itu. Dia tahu niat pernikahan awal mereka seperti halnya perjanjian semata, tapi mendengar ucapan dari Annisa serasa benda tumpul yang menusuk jantungnya, sakit tapi tak berdarah. Entah mengapa dia merasa sakit di katakan seperti itu.
🕳️🕳️🕳️🕳️
Di depan pintu rumah Bian dan Maryam, keluarga Annisa sudah berkumpul dan dengan kunci serep yang di pegang Amier menjadi pelengkap kejutan untuk si tuan rumah yang hari ini sedang memperingati hari jadi.
"Sstt! Diamlah kalian," ucap Amier yang menempelkan jarinya ke mulut sebagai isyarat.
"Cepetan lah Om, aku masih ngantuk tau. Aku mau lanjut tidur di rumah Om Bian." Salman menginterupsi perdebatan kecil mereka.
"Bawel," sahut Amier.
Pintu terbuka, mereka semua masuk dan menuju kamar Bian. Mereka buka pintu yang tak terkunci itu dan mengagetkan Bian yang tengah tertidur pulas. "Kalian!" kaget Bian senang.
Meski sedikit kesal karena tidurnya terganggu, tapi melihat kue yang di bawa oleh Annisa membuat Bian tak kesal lagi bahkan bahagia. Memang setiap tahun akan ada kejutan dari keluarga, dan setiap kejutan akan berbeda setiap tahunnya.
Tapi, melihat mereka malam-malam datang ke rumahnya membuat kejutan seperti itu membuat Bian terharu. Ternyata dia tak pernah terlupakan meski sudah tidak satu rumah.
"Istri kamu kemana?" tanya Annisa celingukan.
Bian mendengar pertanyaan Annisa pun gugup. Dia tak tahu harus jawab apa. "Dia, dia di kamar mandi mungkin." Bian menjawab dengan gugup.
"Oh, ya sudah ayo keluar. Bunda sudah masakin makanan kesukaan kamu di meja makan. Ayo," ajak Annisa menarik tangan Bian dan menuntunnya ke meja makan.
"Habisnya Bian suka banget sama masakan Bunda yang ini." Bian berbicara dengan mulut penuh.
"Emangnya kakak ipar nggak bisa masakin itu Kak?" tanya Amier spontan.
Seketika Bian menghentikan kunyahannya. Annisa yang melihat itu pun melirik ke arah Amier. "Kan cuma nanya Bun," kata Amier yang tahu arti dari tatapan Annisa.
"Bukan itu, tapi tetap saja beda rasanya," kata Bian membela.
Tak lama dari pembicaraan itu, Maryam keluar dari kamar karena merasa ada banyak orang yang sedang mengobrol di luar kamarnya. Bentuk rumah yang minimalis itu membuat percakapan mereka terdengar sampai ke kamar Maryam.
Mata mereka tertuju pada Maryam, karena mendengar suara pintu yang tertutup. Maryam tertegun dan Bian memejamkan matanya erat, hatinya resah begitupun dengan Maryam.
"Apakah kamar mandi di kamar rusak, sampai Maryam ke kamar mandi kamar sebelah?" tanya Amier dengan polosnya.
Annisa berdiri dari duduknya dan menghampiri menantunya itu, entah mengapa Annisa merasa curiga dengan gelagat anak dan menantunya.
Dan benar saja, saat Annisa mengecek ke kamar di mana Maryam keluar terbongkar sudah rahasia mereka.
🕳️🕳️🕳️🕳️
Maryam menghampiri Annisa dengan berjalan menggunakan lututnya. "Maafin Maryam ya Bun, Maryam sudah membohongi Bunda dan yang lain," kata Maryam dengan linangan air mata
Dia merasa bersalah, bukan karena dia ketahuan tapi karena dia menyakiti hati seorang ibu selembut Annisa.
Tak Ada jawaban dari Annisa, dia masih shock dengan apa yang di diketahuinya. Niat hati ingin memberikan kejutan tapi malah mereka yang terkejut.
Lama mereka terdiam, Annisa memutuskan untuk kembali ke rumahnya dengan rasa kecewa. Annisa lebih dulu masuk ke dalam mobil diikuti Asyifa, ketiga anaknya dan juga Ameera.
Aditya menepuk pundak sang anak yang berdiri di ambang pintu, dia tersenyum. Dia percaya pada anaknya itu. "Jangan dimasukin ke hati yah, kamu tau Bunda kamu. Dia memang suka memikirkan yang berlebihan, Ayah berharap kamu bisa menjadi imam yang baik Nak," nasihat Aditya sebelum dia meninggalkan sang putra.
Amier yang berdiri dibelakang Bian pun ikut menepuk pundaknya dan merangkulnya. "Tenang saja kak, aku akan bantu kamu kok, aku rasa permainan ini tidak akan lama. Sabar ya," kata Amier sebelum ikut meninggalkan kakaknya.
Bian tidak mengerti apa maksud dari adik comel nya itu, pikirannya kalut. Bian menutup pintu dan membalikkan badannya. Di temukannya Maryam yang masih bersimpuh di depan sofa, bekas Annisa duduk.
Bian menghembuskan nafas berat. Dia menghampiri sang istri dan membantunya untuk berdiri.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Semua akan baik-baik saja, bunda perlu menenangkan diri saja. Kamu istirahat gih besok kan kamu kerja," kata Bian.
Maryam mengangguk dan meninggalkan Bian dengan masih mengusap air matanya.
Bian lagi-lagi menghela nafas, "ya Allah semakin rumit saja," gumam Bian.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.