I Finally Found Love

I Finally Found Love
45.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Di sebuah restoran yang tak lain adalah milik Annisa, seorang gadis cantik berhijab duduk di kursi meja khusus keluarga.


Dia adalah Maryam. Maryam sedang menunggu seseorang yang tentu nya adalah Bian.


Tak lama, yang di tunggu-tunggu datang dengan penampilan yang sedikit berantakan. Maryam menoleh saat Bian berjalan masuk.


Maryam jadi sedikit gugup, entah kenapa dia seperti itu. Sudah beberapa kali dia bertemu dengan Bian tapi tidak segugup ini, apa mungkin karena suasana yang mengubah rasa dari biasa menjadi gugup.


"Maaf Saya telat, sudah lama?" tanya Bian seraya duduk di hadapan Maryam.


Maryam menggeleng. Mereka saling diam dalam pikiran masing-masing tak tahu harus mengatakan apa lagi.


"Kamu--" ucap mereka bersamaan. Maryam menunduk malu, Bian tersenyum manis ikut merasa malu juga hingga menunjukkan lesung pipi nya.


"Kamu duluan saja." Kata Maryam.


"Baiklah. Begini, Saya tau ini mungkin nggak seharus nya di katakan saat baru beberapa kali saja Kita bertemu, tapi Saya yakin bunda Saya sudah mengatakan nya padamu bukan, dan Saya harap Kamu jangan salah paham dengan apa yang di niatkan bunda Saya." Bian mencoba menjelaskan.


Maryam terdiam sejenak sebelum mata nya bertemu dengan mata Bian, jantung kedua nya berdetak kencang membuat mereka gugup seketika.


"Kenapa Aku jadi gugup begini, ini lebih menyusahkan dari memenangkan tender proyek besar kemaren." Bian menggerutu dalam hati.


Sama hal nya dengan Bian, Maryam pun mengalami hal yang demikian. Dia menggenggam telapak tangan nya begitu erat guna menghilangkan rasa gugup nya.


"Maaf sebelumnya, tapi Saya memang sedikit keberatan jika alasan Anda untuk mengenal Saya atau lebih dari itu hanya sekedar untuk membantu keuangan di keluarga Saya." Maryam mulai menyuarakan pendapat nya.


"Saya tahu Saya orang miskin, tapi Saya tidak butuh belas kasihan dari orang kaya seperti kalian." Sambung Maryam.


Bian tertegun mendengar ucapan dari Maryam, bukan itu maksud dari bunda nya mengusulkan untuk membantu keluarga Maryam. Tapi memang lah setiap orang akan merespon seperti itu karena merasa harga dirinya terluka. Tapi bunda nya itu hanya ingin membantu bukan menjerat.


"Maaf Pak jika Saya salah ucap. Saya mohon maaf tapi Saya bisa melunasi utang Saya dengan kerja keras Saya sendiri bukan bantuan dari orang lain. Maaf sekali jika Saya harus menolak dengan alasan ini."


Bian terdiam, suasana menjadi hening kembali. Hampir lebih dari 15 menit mereka berdiam diri, akhir nya Bian membuka suara.


"Saya tau jika Kalian merasa terlukai dengan apa yang bunda Saya katakan kepada kalian, tapi maaf sekali niat kami tidak seperti itu, tidak seperti yang kalian pikirkan. Jujur saja Anita, kakak Kamu adalah gadis yang Saya sukai, dan beberapa tahun ini Saya mencarinya tapi sayang dia sudah tiada." Bian berbicara dengan ekspresi sedih.


"Saya tau ini memang tidak pantas untuk Saya ungkapkan, tapi mendengar perkataanmu barusan itu cukup membuat Saya sadar, anggap saja Saya membantu kalian karena Saya mencintai kakak kamu, anggota keluarga dari Kalian.


"Maaf sekali jika Saya lancang, tapi dari lubuk hati Saya yang paling dalam Saya begitu ikhlas untuk menolong kalian."


"Percayalah, kami tidak bermaksud untuk merendahkan harga diri kalian. Anggap saja ini adalah rezeki kalian yang datang dari Allah perantara kami."


"Dan masalah tentang Kamu dijodohkan dengan Saya semata-mata ingin melepaskan jeratan dari laki-laki yang telah dijodohkan denganmu sebelumnya."


"Saya tau hal itu memang tidak baik, tapi apakah Kamu akan terus terbelenggu di sisa hidupmu dengan bersanding dengan laki-laki itu yang bahkan belum menjadi suami pun bisa melakukan hal yang tidak terpuji seperti waktu itu." Bian mengingatkan.


Maryam mendengar penjelasan Bian hanya bisa mendengar dan mencerna apa yang di katakan oleh Bian. Ada sedikit keraguan, tapi hati nya menolak untuk tidak percaya pada nya.


"Tapi Kamu jangan khawatir, Saya akan menalak Kamu jika mau pernikahan Kita nanti berakhir sesuai keinginanmu. Jika ingin melanjutkan kuliah ataupun bekerja sesuai kesukaanmu, Aku tidak akan menentang itu.


Mariam terdiam dengan apa yang dikatakan Bian. Apa ini, konyol sekali. Ada rasa sakit di hati paling dalam mendengar kata talak. Tapi tawaran nya cukup lumayan untuk dia bisa terbebas dari jeratan laki-laki yang sama sekali tak di cintai nya.


Mareka lama terdiam hingga waiters menyuguhkan makanan. "Makanlah,- ucap Bian setelah waiters itu keluar ruangan.


Maryam mengangguk dan menyantap hidangan yang disajikan. Mereka makan dalam diam. Setelah selesai makan. Bian kembali menanyakan apa yang di bicarakan sebelum nya.


"Boleh Aku minta waktu untuk berpikir?" pinta Maryam.


Bian mengangguk lalu tersenyum simpul, "boleh, pikirkanlah matang-matang jangan membebankan dirimu sendiri."


Maryam mengangguk dan sedikit menunduk. "Terima kasih," ucapnya kemudian.


💢💢💢💢


"Assalamualaikum?" Maryam memberi salam kemudian masuk dan disambut oleh sang ibu.


Ibu nya tersenyum, Maryam mengambil tangan ibu nya untuk dia cium. "Baru pulang Nak?" tanya nya.


"Iya Bu, Maryam baru pulang. Ibu sudah makan?" tanya Maryam seraya melepaskan silngbag- nya dan meletakkan nya atas kursi.


"Sudah, Ibu sudah makan tadi. Gimana pertemuan kalian?" tanya sang ibu


"Ya begitulah Bu, bingung juga Maryam menanggapinya," keluh Maryam.


Ibu yang melihat Maryam pun merasa kasihan, hanya karena hutang yang melilit sampai-sampai dia mengorbankan anak satu-satunya.


Ingin menjerit tapi apalah daya tak dapat di lakukan oleh nya dan mungkin ini jalan satu-satu nya untuk bisa mendapatkan suami untuk Maryam.


Yang bisa di percaya dan bisa menghargai putri nya tanpa menyakiti. Karena dia tahu keluarga Annisa, dan dia tahu bagaimana sifat anak-anak dari Annisa.


Ibu Maryam menghampiri dan menyentuh bahu sang putri. Maryam menoleh dan tersenyum. "Maryam nggak apa-apa Bu," Maryam mencoba kuat.


"Maafin Ibu ya Nak," air mata Hindun, ibu Maryam sudah menetes sedari tadi.


Maryam menggenggam tangan sang ibu. "Bu, Maryam ikhlas kalau misalkan Maryam harus menikah dengan pak Bian jika itu memang satu-satu nya jalan. Maryam lihat Ibu lebih rido jika Maryam menikah dengan pak Bian, Maryam rasa itu akan baik dari pada Maryam menikah dengan laki-laki yang Ibu nggak suka." Maryam mencoba tersenyum untuk menenangkan sang ibu.


Maryam tahu apa yang dia bicarakan, tahu bagaimana resiko nya, ini mungkin lebih baik dari pada harus dengan laki-laki itu. Entah akan bagaimana nanti nya, yang jelas dia ingin lepas dari jeratan hutang itu dan dia sudah membicarakan pada Bian jika dia akan mencoba melunasi hutang nya.


"Ini seperti keluar dari mulut buaya dan masuk ke mulut harimau. Ya Allah, drama sekali hidupku?" Maryam menjerit di dalam hati.