
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Sejak dari rumah sakit, Maryam yang biasanya cerewet dia terus saja terdiam tak mau berbicara. Bian melirik Maryam dan menggenggam tangannya.
"Kamu marah?" tanya Bian.
"Enggak!" ketus Maryam.
"Eggak marah kok begitu? Maaf ya, abisnya aku kasihan sama dia." Bian mencoba berdamai.
Maryam tak menjawab, dia terus saja terdiam
"Kalau kamu mau mukul aku juga nggak apa-apa, aku ikhlas. Emang itu salah aku," tawar Bian.
Tak berapa lama Maryam memukul lengan kekar Bian. Bian sedikit mengulas senyum. Semakin lama pukulan Maryam semakin membabi buta dan diiringi dengan isakan tangis. "Kamu jahat! Kamu jahat tau enggak Bi, kamu jahat! Hiks...."
Bian membiarkan istrinya itu meluapkan emosinya, memanglah dia bersalah. Tapi bagaimana lagi, Sari adalah temannya tidak mungkin juga untuk mengabaikan temannya sendiri.
Setelah puas memukuli suaminya, gerakannya semakin melemah dan hanya ada isakan tangis yang tersisa. Bian memeluk tubuh istrinya dan mengusap lembut punggung sang istri memberikan ketenangan.
"Sudah ya, jangan menangis lagi. Lagi pula kita nggak ada hubungan apapun kok kecuali teman, kan kamu dengar sendiri dia ke rumah sakit itu bukan hal yang kebetulan tapi memang tunangannya bekerja sebagai dokter di sana." Bian kembali menjelaskan apa yang di jelaskan oleh Sari sewaktu di rumah sakit.
Maryam mengangguk, "maafin aku juga, aku nggak tau kenapa jadi begini, biasanya aku juga nggak seperti ini," rajuk Maryam dengan nada yang manja.
Bian tertawa kecil. "Iya aku paham kok, sekali lagi maaf ya, sudah jangan nangis lagi kasihan baby- nya," bujuk Bian.
Maryam kembali mengangguk, "tapi aku lapar," ucap Maryam.
Bian tertawa. "Lagian gaya-gayaan ngambek nggak mau makan, katanya kenyang," sindir Bian mencubit hidung Maryam.
"Ya udah ayo aku masakin," ajak Bian dan menuntun istrinya itu untuk duduk di meja makan.
Seperti biasanya Bian memasak dengan begitu lihainya. Setelah dua puluh menit Bian memasak, akhirnya nasi goreng seafood yang dimasak pun tengah siap dan siap di santap dengan lahap oleh Maryam.
Bian menopang dagunya menatap Maryam yang begitu menikmati makanan nya. "Sudah nggak mual lagi kah?" tanya Bian.
Maryam menghentikan suapanya dan menoleh. "Nggak, sudah dari seminggu yang lalu sudah nggak."
Bian turun dari duduknya dan bersimpuh memegang perut Maryam. "Sehat terus ya sayang, Ayah nggak sabar pengin ketemu kamu."
Bian terus menciumi dan mengusap-usap perut Maryam dengan hidungnya yang membuat istrinya itu kegelian. " Geli, Bi," ucapnya.
Bian tertawa kecil. "Habisnya gemes banget sama dia," ungkap Bian. "Oh iya, Yang, nanti masih mau kan hamil lagi kalau baby- nya sudah lahir." Bian meminta.
Maryam mengangguk. "Tentu, tapi nunggu di sapih dulu baru aku mau hamil lagi," sahut Maryam.
"Yah, padahal usia setahun pengin nambah lagi loh, kan seru rumahnya banyak anak-anak," ucap Bian.
Maryam melototkan matanya. "Ya Allah, Bi, masa setahun sih, kasian tau anaknya nanti!" Maryam manyun sembari memukul lengan Bian.
Bian terkekeh. "Bercanda Sayang," candanya.
💢💢💢💢
"Mas," panggil Ameera.
"Iya," sahut Amier tanpa menoleh dari motor yang tengah dia servis.
"Mas, ngadep sini dong." Ameera mencolek Amier berkali-kali.
"Iya sayang, kenapa? Sebentar ya, nanggung ini."
Ameera menghela nafas berat dan ikut duduk di samping suaminya yang sedang berbaring.
Hari ini Ameera ikut ke bengkel Amier. Entahlah dia tak ingin berjauhan dari Amier. Amier bingung juga saat Meera memintanya untuk tidak pergi ke bengkel sedangkan pekerjaan sangat banyak di sana.
Alhasil seperti sekarang, Ameera tengah menunggu Amier yang sibuk membetulkan motor yang rusak. Amier tertawa kecil sembari sesekali melirik Ameera yang duduk di sampingnya.
"Kamu bisa duduk di sana sayang, nanti baju kamu kotor sama oli," pinta Amier.
"Kamu nya saja di sini, masa aku di sana. Lagi pula, kamu harus makan sekarang. Sudah waktunya untuk makan loh." Ameera lagi-lagi memberi tahu.
Amier tersenyum. "Ya sudah, suapin di sini saja." Amier mengatakannya tanpa menoleh.
Meski dengan bibir yang manyun, tapi tetap saja Ameera dengan telaten nya menyuapi Amier. Amier terkadang meng-isengi Ameera dengan mencolek-colek Ameera dan membuat istrinya itu semakin merajuk tapi tertawa juga.
"Jangan gitu lah, Mas!" kesal Ameera.
Tapi Amier tetaplah Amier, yang akan semakin gencar menggoda sang istri hingga lengan kekarnya akan menjadi korban pukulan membabi-buta istrinya.
Meskipun begitu, Ameera tetap tidak bisa marah dengan suaminya itu. Paling parah hanya ngambek tak mau di sentuh. Hanya sebatas itu saja.
"Makan sendiri nih!" kesal Ameera.
Amier tertawa. "Jangan ngambek, nanti malam nggak bisa tidur kalau nggak peluk aku loh," goda Amier.
"Mas! Berisik!" seru Ameera semakin kesal.
"Makan sendiri sana!"
"Jangan dong, tangan aku kotor kena oli loh, Yang."
"Nggak peduli!" sungut Ameera.
"Sayang," panggil Amier merayu.
"Ayolah, Dek," rayu Amier lagi.
Amier menghentikan aktivitas tangannya yang tak berhenti sedari tadi dan menatap wajah cemberut Ameera yang dia arahkan ke lain arah.
"Baby, Bunda kamu ngambek tuh," kata Amier.
"Nanti malam jangan rewel ya, biar Bunda kamu nggak peluk-peluk Ayah."
Tak ada tanggapan dari Ameera. Dia tetap diam dan tak mau menoleh juga.
"Ya sudah deh, kayaknya Ayah bakalan tidur di rumah Kak Syifa," Amier terus saja meledek.
Tak lama dari ucapan itu, suara isakan tangis dari Ameera membuat Amier kalang kabut. "Yang, maaf-maaf. Cuma godain kamu doang loh Yang," ucap panik Amier.
Suara tangisan Ameera semakin keras dan Amier menggaruk kepalanya sembari menoleh kanan dan kiri merasa tidak enak dengan karyawan nya.
"Iya-iya, aku minta maaf ya, aku salah-aku salah."
Amier membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan mencoba menenangkan. Terkadang dia lupa jika mood ibu hamil suka berubah tak menentu setiap saat.
"Sudah dong, aku sudah minta maaf kan," bujuk Amier.
Ameera tak peduli dan masih saja menangis. "Ya sudah, kamu minta apa nanti aku belikan atau kamu minta apa aku turuti asal itu nggak bahaya."
Seketika tangis Ameera terhenti dan menatap Amier dengan mata yang berbinar meski masih basah. "Janji?" tanya Ameera dengan senyum yang terbit.
Amier mengangguk dengan ragu. Dia berfirasat ada hal yang akan terjadi setelah ini. Dan dia sangat tahu kebiasaan sang istri yang suka membalas kejahilannya. Tapi tetap saja dia mengikuti cara main Ameera.
Mungkin tangisnya kali ini menjadi jalannya untuk membalas kejahilannya.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.