
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Adiba tertawa terpingkal melihat penampilan Amier yang begitu acak-acakan. Bagaimana tidak, dia pulang dengan kondisi yang begitu memprihatinkan.
Apa lagi mendengar cerita Amier yang menurut nya begitu lucu. "Ketawa saja terus!" seru Amier kesal.
Adiba makin terpingkal. Rasa sedih nya kini berubah menjadi lelucon. Bukan hanya Adiba saja, tapi teman-teman nya juga. Tawa mereka seakan tak bisa reda.
🕳️🕳️🕳️🕳️
Mata Amier berbinar melihat gantungan kunci milik Adiba telah ketemu. Tangan nya terulur untuk mengambil. Saat dia akan meraih gantungan kunci tersebut, sebuah tangan menyentuh bahu nya.
Bulu kuduk Amier berdiri merasakan tangan dingin yang sedikit menyentuh kulit leher nya. Pelan-pelan dia menengok. Amier meringis melihat orang di belakang nya itu. Tapi tangan Amier tetap mengambil benda itu.
Dia berdiri menghadap orang yang tersenyum ramah, sangat ramah malah, membuat nya bertambah merinding. Kaki nya bergeser dua langkah menjauh dari orang tersebut.
"Mau kemana tampan?" tanya salah satu dari mereka.
Tak ada jawaban dari Amier, pemuda tampan itu tersenyum canggung dan ada rasa geli.
"Di sini saja temani Kita, Kita nggak jahat loh cuma nakal, itu pun sedikit." Sahut yang lain nya dan jangan lupakan dengan kerlingan mata orang itu.
Amier merinding mendengar apa yang di katakan oleh mereka. "Ya Allah, kenapa harus bertemu bencong seperti ini!" Batin Amier menjerit.
"Sini dong, Kita main di sana yuk, kan biar akrab Kita kenalan dulu. Nama Saya Barbara, dan ini Mince, dan yang ujung itu Harum, serahum semerbak bunga kamboja." Bencong yang bernama Barbara memperkenalkan diri dan mengenalkan kedua teman nya.
"Jangan ngeledek deh cyin!" sewot Harum.
Bukan nya merasa bersalah, Barbara malah tertawa. "Kan biar dia itu kenal Kamu cyin," sahut nya.
"Sudah-sudah, itu si tampan jadi sawan gara-gara Kalian bertengkar. Mana suara Kalian macam kaleng rombeng pula." Mince menimpali.
"Memang nya Kamu nggak!" sahut kedua nya, Mince sontak menutup telinga nya.
Saat mereka sedang asik nya berdebat, Amier mundur dan berbalik. Dengan kecepatan penuh dia berlari meninggalkan ketiga nya yang masih berdebat.
"Stop! Kalian ribut saja, lihat itu si tampan kabur!" suara Barbara mengintrupsi.
Mince dan Harum saling pandang. "Kok di biarin!" seru Mince.
"Oh iya yah, kejar!" seru Barbara dan mereka mengejar Amier.
Dengan rok mini yang mereka angkat, mengejar Amier menjadi semakin mudah. Amier sudah menjauh, tapi karena tidak hati-hati akhirnya Amier tersandung batu saat sedikit melirik ke belakang untuk memastikan.
"Ya Allah tolong Aku, dari makhluk yang seperti mereka," lirih Amier.
Saat akan bangkit, ketiga bencong itu sudah ada di sekeliling Amier. "Nah! Mau kemana tampan?" dengan nafas ngos-ngosan Barbara bertanya dan jangan lupakan suara asli laki-laki nya keluar begitu saja.
Amier memejamkan mata mengumpulkan keberanian. "Huft! Oke Kalian mau uang kan? Aku punya lima ratus ribu buat Kalian. Tapi tolong biarkan Aku pergi. Tolong!" Amier mencoba bernegosiasi.
Barbara menatap kedua teman nya yang juga menatap nya. Barbara memberi kode kesepakatan. "Bagaimana? Aku yakin kalau Kalian nggak bisa dapet uang dalam waktu secepat ini, dan Kalian bisa cari teman main Kalian." Amier mencoba kembali.
Jujur Amier begitu takut, tapi jika tidak dia paksakan untuk berani pasti nya tidak akan pulang dengan selamat.
Setelah beberapa saat berdiskusi menggunakan isyarat, mereka akhirnya menyetujui nya. "Baiklah, Kita akan melepaskan Kamu tampan." Barbara menyahut dan mencolek dagu Amier, tapi dengan sigap Amier menghindar.
Amier berdiri dari duduknya dan membuka dompet. Mengambil uang lima lembar berwarna merah dan menyerahkan pada Barbara. "Terimakasih tampan. Tapi beneran nggak mau main sama Kita nih?" Barbara mencoba merayu.
"Nggak! Dan terimakasih!" dengan seribu langkah Amier kabur dari ketiga nya seraya berseru.
"Tampan, jangan lupakan Kita dan main kesini lagi yah!" seru Mince.
🕳️🕳️🕳️🕳️
Amier merogoh saku celana nya. "Sudahlah, dan ini." Pemuda itu menyerahkan gantungan kunci Adiba yang menjadi alasan kenapa Amier bisa bertemu dengan makhluk unik.
Adiba menghentikan tawa nya dan langsung berdiri. "Wah, terimakasih saudaraku yang baik hati!" seru Adiba dan memeluk Amier dengan gemas.
"Ya sudahlah Aku mau mandi." Kata Amier dan melangkah pergi.
"Mandi yang bersih biar bau makhluk itu ilang yah!" seru Diba.
"Diba!" seru kesal Amier. Dan Adiba hanya cengengesan.
💢💢💢💢
Bian duduk di kursi kebesaran nya dengan tangan yang tak diam di atas keyboard laptop nya. Mata nya fokus menatap satu titik.
Kini jam menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Bian masih berada di kantor nya.
Drrrttt.....
Ponsel di atas meja beberapa kali bergetar, tapi Bian tak menghiraukan nya. Hingga dia terkaget saat ponsel itu menyentuh tangan nya. "Astaghfirullah, kaget Aku." Bian mengambil ponsel nya tersebut yang sudah tak berdering lagi.
Dia mengucek mata nya dan mengecek siapa yang menelepon. Mata nya membulat, bunda nya menelpon sudah dua puluh kali dan dia tak tau. Saat akan menelpon kembali, ponsel itu bergetar lagi dan dengan sigap Bian mengangkat nya.
"Hallo, assalamualaikum bun?" sapa Bian seraya menyenderkan punggung nya ke belakang.
Bian meringis mendengar Omelan sang bunda. "Iya bun, bentar lagi Bian pulang. Dua jam lagi yah, bentaran kok, ini hampir selesai." Izin Bian.
"...."
"Iya bunda sayang, Bian bentar lagi pulang yah, bunda nggak usah nungguin Bian, bunda istirahat saja."
"...."
"Iya bun. Ya sudah Bian lanjut lagi biar cepet selesai." Kata Bian.
Terdengar suara helaan nafas di seberang sana. Bian terkekeh mendengar kepasrahan bunda nya. Setelah berbincang atau bisa di bilang di omelin. Bian mematikan ponsel nya.
"Huft! Sudah jam segini nggak ada OB, Aku ke mini market dekat sini deh, dari pada kelaparan." Bian bergumam seraya memegang perut sixpack nya yang keroncongan.
Bian mengambil kunci motor nya dan berlalu pergi.
Tak membutuhkan waktu sepuluh menit, Bian telah sampai di mini market dan mengambil roti dan juga air mineral. Saat akan mengambil buah, ada tangan lain yang ingin mengambil barang yang sama.
Bian menoleh bersamaan dengan orang itu. "Maryam?" sapa Bian lebih dulu.
"Oh maaf, ambil saja Pak, maaf." Ujar Maryam.
"Oh, nggak-nggak. Kamu yang ambil, Aku bisa ambil yang lain." Tolak Bian.
"Oh, oke! Terimakasih." Ucap Maryam dan mengambil nya.
"Macam FTV saja?" gerutu kedua nya dalam hati.
"Oh iya Pak, terimakasih dan maaf Saya permisi." Pamit Maryam dan meninggalkan Bian yang masih menatap kepergian Maryam.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.