
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Maryam lelah menunggu Bian sadar hingga dia terlelap dengan posisi terduduk dan kepala di kasur samping Bian.
Bian mulai membuka matanya perlahan sembari memegang kepalanya yang terasa pusing. "Ini dimana ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Di lihatnya sekitar dan matanya menangkap seseorang yang tertidur di sampingnya.
"Maryam?" gumamnya bingung.
Bian langsung terbangun dan duduk. Matanya menelisik setiap sudut ruangan. "Hotel?" gumamnya lagi.
"Maryam," panggil Bian mencoba membangunkan istrinya.
Di panggilnya beberapa kali namun dia tak kunjung bangun juga. Hanya lenguhan saja yang terdengar.
"Maryam masih ngantuk bu," lirih Maryam.
Bian terkekeh, bisa-bisanya dia di panggil ibu oleh istrinya. Karna tidak mau lagi mengganggu sang istri, akhirnya Bian memindahkan tubuh Maryam untuk berbaring di atas tempat tidur.
Bian menyelimuti Maryam dan pergi ke kamar mandi setelahnya. Bian mandi untuk menyegarkan diri. Setelah mandi, Bian keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Aarrgghh!" teriak Maryam kaget, dan hal itu juga mengagetkan Bian tentunya.
"Ke-kenapa, kenapa kamu nggak pake baju!" seru Maryam gugup.
Bian menunduk dan melihat dirinya sendiri. Senyuman nakal terpantri di bibirnya. Bian semakin berjalan mendekat pada Maryam hingga Maryam mundur dan hampir terjatuh.
"Ja-jangan mendekat!" peringat Maryam.
"Kenapa? Bukankah kita sudah halal?" tanya Bian menggoda.
"Halal? Ingat awal kita menikah untuk apa ya Bian!"
Bian mengangguk. "Aku ingat, sangat ingat. Bahkan setiap saat aku ingat dengan apa yang kita sepakati. Kenapa? Kau terganggu?" Bian makin mendekat sampai Maryam terpojok di kepala ranjang.
"Aku bilang jangan mendekat!" seru Maryam lagi.
"Aku ini suamimu, jadi hak aku mau apakan kamu juga, lagi pula kita belum pernah melakukan hal itu bukan?"
Maryam terdiam, jari telunjuknya yang menunjuk Bian pun di kecup manis oleh Bian. Maryam kaget dan menarik tangannya seketika.
"Aku nggak mau di sentuh sama suami yang selingkuh di depan umum, dan kalau kamu mau, kenapa kamu nggak ceraikan aku trus nikah sama selingkuhan kamu itu!" judes Maryam.
Bian mematung, "selingkuhan?" bingung Bian.
"Iya selingkuhan! Kamu selingkuh dan malangnya malah ketauan sama aku, jahat banget kamu ya!" seru Maryam.
"Jahat? Siapa disini yang jahat?" Bian masih dengan nada kalem.
"Kamu lah! Kamu yang jahat! Kamu biarkan aku makan pagi, siang, malam sendiri dan kamu nggak pedulikan aku yang sudah susah payah membuat makanan tapi tidak pernah kamu sentuh sedikit pun!" Maryam malah meluapkan emosinya dan mengungkap apa yang dia rasakan akhir-akhir ini.
Bian terdiam, "jadi kamu menungguku?" tanya Bian.
"Iyalah! Siapa yang mau aku tunggu kalau bukan kamu!" ketus Maryam tanpa sadar, bahkan wajahnya tak menatap sang suami.
Bian malah senang di marahi seperti itu. Posisi Bian yang semula mencondongkan tubuhnya kini terduduk dengan tangan yang melingkar di lutut.
"Jadi intinya kamu itu cemburu?" sindir Bian.
"Siapa yang cemburu!" sewot Maryam masih dengan posisi yang sama.
"Kalau nggak cemburu, kenapa sampai marah, begitu liat aku jalan sama perempuan?" goda Bian.
"Di bilang nggak cemburu ya nggak cemburu!" ketus Maryam.
Bian terdiam sejenak. "Mau aku jelaskan tidak?" tanyanya lembut setelah terdiam beberapa saat.
Maryam melirik, dan hal itu membuat Bian tersenyum. "Dia itu teman aku waktu SMA, kita satu sekolah dan dia ketua OSIS, dia anaknya pak kepsek." Bian mencoba menjelaskan.
Masih tak bergeming. "Kita sore tadi ketemuan, dan bukan hanya aku dan Sari doang kok, banyak teman kita di sana. Sari sengaja mengundang mereka, alasannya karena dia lagi merayakan hari jadinya."
"Dan dia juga arsitek yang handle proyek pembangunan apartemen perusahaan, nggak mungkin kan aku pura-pura nggak kenal sama dia, itu nggak mungkin, Maryam," jelas Bian panjang lebar.
Maryam menunduk. Dia merasa bersalah telah menuduh suami dan juga temannya yang tak bersalah.
"Maaf," ucap Maryam.
"Hem?" sahut Bian.
"Apa? Aku nggak denger," sahut Bian lagi. Sebenarnya Bian mendengar, tapi dia ingin menggoda Maryam saja.
"Maaf! Maaf! Maaf! Maaf!" seru Maryam.
Bian tertawa. "Lucunya," Bian mencuit hidung Maryam dengan gemas dan di tampik oleh Maryam.
Mereka saling diam, suasana menjadi sangat canggung. Tiba-tiba, suara perut dari Maryam membunuh keheningan di antara mereka.
Bian menahan tawa, dan Maryam menahan malu.
"Kamu lapar?" tanya Bian dan di angguki Maryam dengan malu.
"Ya sudah, kamu tunggu di sini nanti biar aku pesan makanan," kata Bian.
💢💢💢💢
sedangkan di tempat lain, Amier memeluk Ameera yang berdiri dekat pagar balkon. Ameera sedikit terkejut tapi tersenyum pada akhirnya setelah melihat yang memeluknya adalah sang suami.
"Di luar dingin, ayo masuk," ajak Amier lembut.
"Nanti saja, aku lagi menikmati angin malam, melihat bintang yang begitu terang rasanya aku kangen sama mama dan papa," kata Ameera seraya matanya fokus menatap langit malam.
Amier mengikuti arah pandang sang istri, dia begitu mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya. Karena merindukan seseorang yang sangat disayangi itu sangat berat.
"Kita doakan ya, semoga papa sama mama selalu bahagia di sisinya," Amier mencoba menghibur.
Tak lama, suara getaran ya berasal dari ponsel Amier pun menghentikan kemesraan mereka.
Amir menjawabnya. "Iya kak," sapa Amier.
"....…."
"Benarkah?" tanya Amier.
"………"
"Wow, cepat banget. Aku kira permainannya akan cukup lama, ternyata baru dua minggu sudah selesai." Kata Amier ya sejujurnya tidak rela.
"………"
"Iya-iya kak, maaf dan terima kasih ya," ucap Amier lagi.
"Ya sudah selamat istirahat dan sekali lagi terima kasih," Amier menutup teleponnya dan kembali memeluk Ameera.
"Siapa Mas?" tanya Amira.
"Oh, itu kak Sari." Jawab Amier, Ameera yang mendengar itupun mengangguk paham.
"Jadi gimana hasilnya?" tanyanya lagi.
"Sukses, bahkan sangat sukses sampai-sampai cuma dua minggu saja sudah baikan. Aku kira nyampe berbulan-bulan," celoteh Amier.
"Ya Allah Mas, kamu jangan jadi jahat deh. Gitu-gitu juga kakak kamu tau! Niatnya membantu tapi jangan menjebloskan dong, syukuri kalau sudah baikan, ini malah di doain sampai berbulan-bulan, tega kamu!" kata Amira mengomel.
Amier menyengir, "iya-iya sayang, aku tau," kata Amier lagi.
"Tapi ada satu misi lagi yang belum aku selesaikan," ucap Amier.
Ameera mengerutkan alisnya, "apa?" tanya Meera.
"Jagoan kecilku belum ada tanda-tanda kah?" tanya Amier seraya tangannya mengusap perut rata sang istri.
Ameera tersenyum, "mungkin belum saatnya Mas," jawab Amira.
"Apa kita kurang usahanya ya Dek?" goda Amier dengan menaik turunkan alisnya.
"Dasar mesum!" kekeh Ameera.
"Jadi kita masih punya misi sama-sama nih Dek, ayo selesaikan misi kita," modus Amier.
Sebelum Ameera menjawab, Amier sudah membopong tubuh istrinya, Ameera terpekik kaget dan Amier membawanya masuk ke dalam.
Selanjutnya, bisa di pikir sendiri ya, wkwkwk.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE🤗.