
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
"Siapa yang kecelakaan Pak?" tanya Aditya mencoba sopan dengan hati yang khawatir.
"Nggak tau Saya, dia seorang pemuda kisaran umur dua puluhan tahun Mas. Dia sudah di bawa ke rumah sakit terdekat." Jelas seorang bapak-bapak yang Aditya tanya.
"Oh, begitu. Terimakasih Pak." Ujar Aditya.
Setelah menanyakan, Aditya hendak kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan nya. Tapi, dua langkah dia berjalan, sudut mata nya menangkap sesuatu yang sangat dia kenal. Motor, motor yang sedang di berdiri kan oleh warga mencuri perhatian nya.
Dengan seribu langkah dia menghampiri motor yang cukup jauh dari korban kecelakaan itu.
Setelah sampai, hati dan jantung Aditya bagaikan di tusuk ribuan jarum. Motor tersebut punya Amier, anak tiri nya.
Dari plat nomor kendaraan dan bodi motor nya sama persis, tak di ragukan lagi bahwa itu adalah milik Amier.
Aditya memegang kepala dan meremas rambut nya karena syok. "Nggak mungkin!" gumam nya.
"Amier, Amier?" lirih Aditya saat teringat dengan anak nya itu.
Aditya berlari masuk ke mobil dan melajukan nya dengan kecepatan tinggi. Harap-harap tak terjadi apapun dengan anak bujang nya itu.
Tak terjadi apapun, dia rasa dia harus menarik kata-kata nya itu. Nyata nya putra nya itu terkapar tak sadarkan diri tadi.
"Ya Allah, lindungi lah dia." Aditya begitu ketakutan. Entah karena apa dia seperti itu, mungkin saja dia sudah sangat sayang padanya.
Tak selang berapa lama, mobil Aditya memasuki kawasan rumah sakit. Setelah memarkir mobil nya, Aditya langsung berlari menuju tempat informasi untuk menanyakan Amier.
💢💢💢💢
Di tempat lain, Annisa begitu gusar. Dia begitu khawatir tapi tak tahu apa yang membuat nya seperti itu.
Asyifa menghampiri sang bunda yang bolak-balik di depan salon seperti menunggu seseorang.
"Bunda kenapa?" tanya Asyifa yang melihat sang bunda mengerutkan keningnya dan berekspresi khawatir.
"Bunda nggak tau, Bunda cuma merasa takut. Bunda pengin cepet-cepet ketemu sama Amier." Ujar nya.
"Sebentar, Syifa telpon Amier dulu." Sahut Syifa mengambil ponsel nya tapi tak jadi. "Bunda sudah menelpon nya, tapi ponsel nya nggak di angkat." Annisa bertambah khawatir.
"Mana nggak ada orang di rumah yang bisa buat di mintai tolong, Bian lagi di kantor sekarang." Ucap Annisa.
"Ayah Kamu kemana sih, nggak dateng-dateng dari tadi?" gerutu Annisa.
Tak lama mobil Malik terparkir di depan salon. Dia datang bersama ke-dua putra nya setelah menjemput. "Yang! Kamu tadi ke rumah dulu nggak?" tanya Syifa setelah Malik keluar dari mobil.
"Nggak, kan Kamu bilang suruh langsung ke sini." Malik memberi alasan.
"Kenapa sih Yang?" tanya Malik bingung. "Nggak tau, Bunda khawatir sama Amier kata nya." Kata Syifa memberi tahu.
"Mungkin lagi main PS karena bosan." Kekeh Malik.
Sejurus dari itu, ponsel Annisa bergetar. Segera Annisa mengangkat nya dan langsung mengomel. "Kamu dimana Mas? Aku tungguin dari tadi kenapa belum sampai juga?" omel nya.
Tak ada jawaban dari seberang sana. "Jawab Mas, Mas ada dimana?Aku khawatir sama Amier!" Annisa bertambah kesal.
"Benarkah?" tanya Annisa. Raut wajah nya mulai tenang.
Tapi, beberapa detik kemudian, ponsel Annisa terjatuh dan Annisa menangis sesenggukan membuat Syifa dan Malik khawatir.
"Bunda kenapa?" panik Syifa. Tubuh Annisa limbung dan dengan sigap Malik menopang tubuh mertua nya itu.
"Kita ke rumah sakit," lirih Annisa setelah sadar dari keterkejutan nya.
Malik dan Syifa saling pandang dan bingung. "Kita ke rumah sakit sekarang!" teriak Annisa pada Malik dan mencengkeram erat lengan nya.
Teriakan Annisa membuat semua keluarga yang duduk menunggu di dalam salon pun berhamburan keluar karena ingin tahu.
"Cepat bawa Bunda ke rumah sakit sekarang," mohon Annisa.
"Iya Bunda, tapi kenapa?" bukan nya menjawab pertanyaan Malik, Annisa malah merebut kunci yang ada di saku kemeja Malik dan berlalu tanpa menjelaskan.
"Bunda!" seru Syifa dan Malik hampir bersamaan seraya mengejar Annisa yang sudah akan membuka pintu mobil.
"Bunda kenapa? Kenapa Bunda seperti ini?" Syifa bertanya dengan sedih.
"Adil Kamu! Adik Kamu sekarang di rumah sakit dan sekarang dalam keadaan yang kritis!" seru Annisa.
Bagaikan batu besar yang menghantam jantung mereka masing-masing. Berita itu membuat membuat mereka syok.
Bruk!!
Shinta berteriak memanggil nama Ameera yang terjatuh karena syok dan pingsan.
"Meera! Bangun Meera!" seru Shinta.
Pingsan nya Ameera membuat suasana menjadi semakin panik. Mungkin kelelahan yang di alami Ameera menjadi salah satu pemicu diri nya tak sadarkan diri.
Tak butuh waktu lama untuk mereka bertindak memindahkan Ameera ke dalam mobil dan membawa nya ke rumah sakit di mana Amier di rawat.
Annisa berlari tak sabar meninggalkan semua orang menuju ruang UGD (Unit Gawat Darurat). Annisa memelankan langkah nya setelah melihat Aditya duduk di depan ruangan.
Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Aditya mendongak dan melihat sang istri yang berlinangan air mata. Pria itu beranjak berdiri dan menghampiri istri nya kemudian memeluk dengan erat.
Tangis Annisa pecah seketika di pelukan Aditya. Rasa nya dia ingin berteriak jika mengingat buah hati nya terbaring tak berdaya dengan kondisi yang memperhatinkan.
"AnakKu?" lirih Annisa.
Syifa menghampiri ke-dua orang tua nya dengan air mata yang terus saja mengalir di barengi dengan isakan.
Tak jauh beda dengan yang lain, yang lain pun sama hal nya dengan Syifa. Aditya merentangkan satu tangan nya untuk memeluk putri nya.
Malik baru sampai setelah mengurus Ameera yang pingsan terlebih dahulu. Suasana di depan ruangan hening dan sesekali suara isakan terdengar.
Sejurus dengan itu, Bian dengan tergopoh-gopoh menghampiri orang tua nya bahkan sampai hampir terjatuh saat tak sengaja menyenggol bahu Malik.
"Bagaimana Amier Yah?" tanya Bian dengan nafas yang memburu.
Hanya gelengan sebagai jawaban. Bian terduduk di lantai. Tangan nya menggenggam tangan Annisa yang masih gemetar.
Tak ada lagi kata-kata yang keluar hingga dokter keluar dari ruangan. Annisa langsung bangkit dari duduknya dan menanyakan keadaan sang putra.
Dokter itu menghela nafas panjang. "Kita tunggu perkembangan pasien, benturan di kepala nya sangat keras. Kita berdo'a saja supaya pasien tidak mengalami mati otak." Penjelasan dokter seakan menikam jantung Annisa hingga tubuh nya tak kuat lagi untuk berdiri.
Pandangan nya kembali kosong, air mata nya kembali membasahi pipi nya. Tangisan kembali menggema.
Cobaan apa lagi ini? Kenapa selalu saja ada hambatan di setiap kebahagiaan yang akan mendatangi keluarga nya. Annisa hampir menyerah dan ingin sekali berteriak.
Tapi sekali lagi, dia ingatkan pada diri nya sendiri bahwa putra nya sedang berjuang di antara hidup dan mati. Bukan saat nya dia seperti ini, bukan ini yang benar. Dia harus bertahan, bulan dia yang menderita tapi putra nya, iya, putra nya.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.