I Finally Found Love

I Finally Found Love
85.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Nizam diminta untuk duduk oleh ayah Asma kemudian diikuti oleh ayah Asma.


Mereka bertiga duduk dengan posisi berhadapan. Mama Asma membuatkan minuman untuk Nizam.


Mereka terlibat perbincangan sebelum ekspresi Nizam berubah menjadi serius. "Begini, Pak. Maaf sebelumnya jika saya lancang." Nizam mulai serius.


Ayah Asma terlihat ikut mendengarkan dengan serius juga. Nizam menghela nafas panjang sebelum mengucapkan kalimat selanjutnya.


"Saya ingin melamar Asma untuk menjadi istri saya." Nizam mengatakan dengan serius dan dalam satu kali tarikan nafas.


Ayah Asma tertegun. Nizam yang melihat ekspresi wajahnya pun sedikit minder.


"Maaf Pak atas kelancangan saya, saya sudah mengenal Asma sejak dia satu SMA dengan Ameera. Saya sudah tertarik dengannya sudah lama, tapi saya baru mengatakannya sekarang karena saya merasa sekarang saya sudah bisa menafkahi Asma lahir batin saya." Nizam menjelaskan panjang lebar.


Satu detik, dua detik, tiga detik tak ada tanggapan, Nizam jadi sedikit merasa gagal karena melihat ekspresi wajah lawan bicaranya. Namun tiba-tiba....


"Hahahaha!" suara tawa lantang dari Ayah Asma mengagetkan Nizam.


"Ya, ya, ya. Akhirnya kamu berani juga mengatakan." Ayah Asma menepuk pundak Nizam dengan gemas hingga Nizam meringis antara merasakan sakit dan canggung.


"Asma, keluarlah! Ayah tau kamu mendengar itu." Asma yang sedang berdiri di balik tirai pemisah antara ruang tamu dan ruang TV pun jadi salah tingkah.


Fokus Nizam teralihkan pada gadis yang telah dia lamar. Di dalam hatinya tertawa melihat tingkah konyol Asma yang tak berubah.


"Keluarlah, Nak." Pinta Ayahnya lagi.


Asma keluar di barengi Mamanya dengan nampan berisi minuman yang ada di tangannya.


Asma berdiri dengan menunduk dan jari yang dia mainkan. Jangan lupakan rona pipi yang tak bisa dia sembunyikan. Detak jantungnya? Jangan di tanya lagi. Jika tak ada orang mungkin gadis itu sudah menjerit dan berjingkrak karena senang.


"Bagaimana menurut kamu?" tanya sang Ayah pada Asma. Asma bingung mau menjawab apa.


"Oh, mungkin sudah ada yang lain, Nak Nizam."


"Nggak ada! Aku mau!" jawab Asma cepat.


"Astaghfirullahaladzim!" pekik Asma kemudian mengulum bibirnya karena menjawab dengan begitu lantang.


Ayah dan Mamanya terkekeh melihat tingkah sang putri yang salah tingkah itu. Nizam ikut tersenyum melihatnya. Sedangkan Asma, dia begitu malu akan tingkahnya sendiri yang menurutnya begitu bar-bar.


"Baiklah, kalian bisa bicarakan disini, kami masuk dulu." Kata Ayah Asma kemudian berdiri dan mengajak istrinya untuk masuk.


Sepeninggalan orang tua Asma, suasana canggung kembali tercipta. Nizam terlihat merogoh kantongnya dan mengeluarkan sesuatu.


Dia letakkan kotak berwarna biru dongker di atas meja kemudian mendekatkannya pada Asma.


"Ini untuk kamu," ucapnya.


"Apa ini?" tanya Asma dengan polosnya.


"Buka saja, itu untuk kamu."


Asma membuka kotak tersebut dan sedikit terkejut melihat kilauan berlian pada benda yang ada di dalam kotak.


"I-ini," Asma menatap benda itu dan juga Nizam bergantian. Nizam tersenyum dan mengangguk.


"Sebenarnya itu aku beli sudah lama, tapi baru aku berikan sekarang," akunya.


"Tapi, nggak ada yang tau kalau aku suka sama kalung ini kecuali--"


Asma mendongakkan kepalanya menatap Nizam. Nizam tersenyum dan mengangguk.


"Iya benar, Ameera yang memberitahu aku tentang itu."


"Wow," ucap gadis itu terkekeh.


"Jadi gimana?" tanya Nizam memastikan.


"Tentang lamaran aku tadi?" jelas Nizam.


Asma mengangguk malu. Nizam tersenyum. "Terimakasih," sahut Nizam senang.


"Untuk apa?" tanya Asma bingung.


"Untuk semua, dari kamu sabar menunggu, dan jawaban kamu sekarang ini."


Asma tersenyum di ikuti Nizam. Mereka sedikit mengobrol sebentar sebelum Mama Asma menghampiri.


"Sudah mau Maghrib, sholat di sini saja sekalian dan makan malam di dini juga," ajak Mama pada calon menantunya.


Calon menantu, panggilan itu sudah pantas untuk Nizam sekarang karena Asma sudah menjawab atas lamarannya.


Jika di tanya mengapa Ayah Asma dengan mudahnya menerima pinangan Nizam, ada beberapa alasan yang membuat beliau yakin akan itu. Dari putrinya yang selalu bercerita di dalam buku diary nya, hingga penolakan sang putri saat di jodohkan dengan anak temannya.


Dari situ Ayah Asma mulai menyelidiki asal-usul Nizam. Dari pekerjaan, hingga keluarga. Dan lebih mudah karena Nizam adalah kakak dari teman putrinya hingga tidak susah untuk beliau mencari tahu informasinya.


Dan tak di sangka juga hari ini akan tiba, saat melihat Nizam yang berdiri di ruang tamu dengan menatap bingkai foto putrinya, di dalam hati Ayah Asma begitu senang. Paling tidak dia tahu dari sifat Nizam hasil penyelidikannya, dia tak akan sembarang mendekati seorang gadis apalagi sampai masuk ke dalam rumah gadis itu sendiri.


Hal yang mengejutkan lagi saat Nizam mengatakan jika akan meminang putri semata wayangnya, itu menjadi hal yang begitu membahagiakan.


Beliau mengira hanya ingin mendekati untuk tahap perkenalan atau apapun itu, tapi mendengar pernyataan dari Nizam sungguh hal yang mengejutkan. Maka dari itu dia secara tidak langsung menerima pinangannya.


Mereka menunaikan shalat Maghrib dan makan malam setelah nya. Nizam merasa bersyukur karena bisa di terima dengan baik di keluarga Asma.


Jujur saja dia tidak yakin jika akan di terima. Tapi di berkali-kali meyakinkan diri jika benar Asma adalah jodohnya, maka semua akan berjalan dengan baik.


Setelah makan malam, Nizam berpamitan untuk pulang. Asma dan kedua orangtuanya mengantar laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi anggota keluarga mereka sampai di teras rumah.


"Pamit dulu ya Bu, Pak, Asma." Nizam menyalami kedua orang tua Asma dan beralih menatap Asma yang terlihat sedikit malu-malu.


"Hati-hati ya, Nak Nizam." Ujar Ayah Asma.


Nizam mengangguk dan berbalik masuk ke dalam mobilnya lalu kemudian mulai menjalankan kendaraannya itu.


Asma terus menatap dengan sesekali tersenyum laju mobil Nizam hingga tak terlihat. Mama Asma memberi kode pada suaminya.


Ayah Asma menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang sebentar lagi akan di bawa oleh laki-laki yang akan menjadi suaminya itu.


"Jangan di lihat terus, mending wudhu terus tadarus, ayo." Ayah Asma menegur.


Asma tersadar dari lamunannya dan melirik kedua orangtuanya merasa malu. "Ayo masuk," Asma merangkul lengan Ayah dan Mamanya dengan posisi dirinya di tengah-tengah antara mereka.


"Yang mau jadi pengantin manja banget ya, Yah?" ucap Mama Asma.


"Ih, apa sih Mama, mau calon pengantin ataupun bukan aku tetap anak Mama sama Ayah, jadi nggak apa-apa kalau manja." Asma menyahuti.


Ayah dan Mama Asma tertawa kecil mendengar itu. Memang benar, mau apapun status sang anak, tetap dia adalah anak kecil bagi orangtuanya. Tak perduli dia menjadi istri ataupun ibu sekalipun.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍


TES TES TES, MAAF TEMAN. BOLEH MINTA BANTUANNYA?


MINTA TOLONG UNTUK FOLLOW AKU DAN LIKE SEMUA AUDIOBOOK AKU YA, CARANYA....


BUKA AVA/PROFIL AKU, SCROLL KE BAWAH DAN BUKA AUDIO AKU YA... TERIMAKASIH 🤗 BANTU LIKE ITU GRATIS DAN DAPET PAHALA LOH, KARENA BANTU AKU NAIK LEVEL (SS)🙈



TERENGKIU FRIENDS, AKU DOAKAN SEMUA YANG LIKE MENDAPATKAN APA YANG BELUM DI DAPATKAN TAHUN INI DAN TERKABUL SEGERA DI TAHUN 2021.


SEMOGA KALIAN SELALU SEHAT DAN DI BERI UMUR PANJANG....


SELAMAT LIBURAN YA😍😍😍🎉🎉🎉🎉🎉