I Finally Found Love

I Finally Found Love
71.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Amier dan Ameera menunggu dengan harap-harap cemas di depan ruangan dokter yang beberapa saat lalu Ameera memeriksakan dirinya.


Tangan Ameera saling bertautan dengan tangan suaminya, hati mereka sama-sama berdebar menantikan kabar baik.


"Aku takut, Mas," ucap Ameera pelan.


"Jangan taku, aku yakin Allah akan mempercayai kita untuk menjadi orang tua kali ini, kamu tenang ya," ucap Amier mencoba untuk menenangkan.


Sebenarnya hatinya juga ikut resah, tapi jika dia resah bagaimana dengan Ameera, dan di sini Ameera lah yang berperan paling banyak.


Lima belas menit kemudian seorang suster meminta keduanya untuk masuk, Amier dan Ameera duduk di depan meja dokter setelah dipersilahkan duduk.


Dokter membaca laporan hasil tes kemudian tersenyum. "Selamat ya Bu, Pak hasilnya positif," ucap dokter kemudian.


"Beneran Dok?" tanya Amier yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Dokter mengangguk membenarkan, "jaga kesehatan selalu ya Bu, dan selalu ekstra hati-hati," ucap dokter.


Setelah pertemuannya bersama dokter kandungan, kedua pasangan muda itu pun pulang. Dan di dalam mobil, Ameera terus saja tersenyum dan mengusap-usap perutnya dengan penuh rasa syukur.


"Ada yang ingin kamu beli atau kamu ingin makan gitu?" tawar Amier.


Ameera menggeleng, "aku nggak minta apa-apa, aku lagi nggak pengen apa-apa, cuma aku pengen pulang dan makan masakan Bunda," jawab Ameera dengan sumringah.


"Baiklah ratuku kita pulang," sahut Amier dan menambah sedikit kecepatannya supaya cepat sampai di rumah.


Sesampainya di rumah, Amier dan Ameera disambut oleh Annisa yang sangat ingin tahu hasilnya.


"Assalamualaikum," ucap keduanya memberi salam


"Waalaikumsalam, gimana hasilnya?" tanya Anisa tidak sabar.


Ameera mengangguk. Annisa yang mengerti pun langsung memeluk menantunya itu dengan bahagia, "selamat Sayang, selamat sebentar lagi kau akan menjadi ibu," ucap Annisa kemudian yang tidak bisa menyembunyikan air matanya.


Amier ikut memeluk kedua wanita yang dia cintai itu.


"Bunda aku lapar," ucap Ameera manja.


"Kamu lapar? Sini Nak, kita makan bareng," sahut Annisa lalu menarik tangan Ameera pelan, dituntun menantunya itu untuk duduk di di kursi meja makan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Anisa.


"Yang ada aja Bun, Bunda hari ini masak apa?" tanya Amira


"Ayam serundeng sama sambel terasi dan juga capcay," jawab Annisa.


"Wah! Aku mau Bun!" seru Ameera.


Dan tanpa menunggu lama, Ameera memyendokkann nasi dan juga lauk pauk yang akan dia makan.


"Makan yang banyak ya, biar kamu sehat dan cucu Bunda juga sehat," ucap Annisa mengelus sayang kepala Ameera yang terbalut hijab.


Tak berapa lama, datanglah Bian dan Maryam. "Wah, kayaknya asik banget," kata Bian menginterupsi.


Mereka bertiga menoleh, "sini gabung sama kita," pinta Annisa melambaikan tangan.


Bian dan Maryam menyalimi Annisa. Dan Ameera yang tengah asik makan pun menghentikan suapanya dan berdiri untuk menyambut kakak iparnya.


"Tumben hari ini datang, biasanya weekend baru datang?" tanya Annisa.


Sebenarnya Annisa tidak pernah keberatan sama sekali jika anak-anaknya bermain ke rumahnya setiap hari, tapi sedikit heran saja karena Bian selalu bermain ke rumahnya saat hari libur saja dan hari ini adalah hari Kamis.


"Iya ini, jagoan aku katanya pengen masakan Bunda," sahut Bian yang mengelus perut Maryam yang terlihat membuncit. Iya, Maryam sekarang sudah mengandung 6 bulan.


"Wah kebetulan, ayo sini Nak. Dan kita juga punya berita bagus," semangat Annisa.


"Berita bagus apa Bun?" tanya Bian seraya menuntun Maryam untuk duduk.


"Sebentar lagi Bunda mau punya cucu lagi!" seru Annisa senang.


Bian tertawa kecil. "Emang iya kan, Bunda mau punya cucu. Maryam kan lagi hamil," Bian merasa lucu.


"Maksud Bunda?" tanya Bian.


Maryam hanya melihat interaksi mereka dengan sibuk mengunyah begitupun dengan Ameera meski dia juga merasa lucu.


"Bunda akan dapet cucu juga dari Ameera sama Amier, jadi dobel. Makin rame rumah Bunda ntar!" senang Annisa.


Bian berbinar ikut senang begitupun dengan Maryam. "Benarkah! Wah, selamat adek comel dan adek ipar," ucap Bian tak kalah senang.


"Wah, senangnya bisa dengar kabar baik." Bian bersyukur.


"Alhamdulillah, Kak," ucap Ameera dan di ikuti semuanya.


Mereka melanjutkan makan mereka dengan tenang, sesekali gurauan mengikuti.


💢💢💢💢


Malam hari, Maryam tengah berdiri di balkon menikmati hembusan angin malam.


Bian melingkarkan tangannya dari belakang di perut buncit Maryam.


"Sudah malam, kenapa masih di luar?" ucap Bian seraya mencium tengkuk Maryam, membuat si empunya melenguh.


"Geli Bi," ucap Maryam. Bian yang mendengar Maryam seperti tidak semangat pun menghentikan aktivitasnya lalu meletakkan dagunya di atas kepala Maryam.


"Ayolah masuk, nanti kamu masuk angin," ucap Bian.


Maryam membalikkan badannya menghadap sang suami dan merentangkan tangan, "gendong Bi," ucapnya manja.


Bian tersenyum kemudian mengangkat tubuh Maryam yang berisi itu. "Wah, makin seksi saja nih," ucap Bian.


Maryam sadar berat badannya kini sudah lebih karena kondisinya yang tengah mengandung, tapi dia tak marah karena memang benar adanya.


Bian membaringkan tubuh istrinya itu di ranjang kemudian diikuti dirinya. Di cium kening Maryam dan juga perutnya.


"Sehat terus Sayang," ucapnya sebelum kembali membaringkan tubuhnya lagi.


Maryam tersenyum, dia merasa dicintai oleh sang suami.


Hubungan mereka semakin akrab dan juga romantis setelah ucapan dari Asyifa waktu itu yang mendongkrak pintu hati Maryam untuk menerima suaminya.


🕳️🕳️🕳️🕳️


Maryam tengah di dapur membereskan bekas makan bersama Asyifa.


"Bagaimana hubungan kamu sama Bian?" tanya Asyifa tiba-tiba.


Maryam yang tengah mencuci tangannya pun menghentikan aktivitasnya dan menelan ludah dengan gugup.


"Ma-maksud kakak?" tanya Maryam pura-pura tak tahu.


Asyifa melipat tangannya dan menatap Maryam dengan tatapan mengintimidasi.


"Jujur saja sama Kakak, kita semua tau hubungan kamu dengan Bian itu seperti apa, cuma kita main diam karena menurut kita kalian bisa menyelesaikan itu. Tapi yang aku lihat sampai sekarang belum ada tanda yang baik diantara Kalian, kalian hanya main cantik di depan kami dan membohongi kami."


"Kalian pikir kita itu bodoh, tidak!" tegas Asyifa.


"Kita hanya memberikan waktu untuk kalian memperbaiki hubungan kalian sendiri, tapi nyatanya--"


Syifa tertawa sinis. "Kamu inget ya Maryam, laki-laki itu tidak selamanya akan bisa tahan melihat istrinya yang dingin, dan jangan salahkan jika ada wanita lain yang datang di kehidupan Bian dan Bian nantinya akan berpaling darimu."


"Dan kamu tau apa yang akan terjadi?" tanya Asyifa dengan mata yang menatap Maryam begitu tajam.


Maryam di yang ditatap seperti itu pun menelan ludah, ada rasa takut di dalam dirinya dan juga rasa bersalah.


"Aku yakin sampai sekarang kamu pasti belum memberikan hak Bian bukan!?" cecar Asyifa lagi.


"Pikirkanlah baik-baik, jalan apa yang akan kamu ambil, kamu bisa mengambil keputusan kamu sendiri," ucap Asyifa lalu menepuk pundak Maryam sebelum pergi.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.