I Finally Found Love

I Finally Found Love
86.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Sepulang dari rumah Asma, Nizam terus saja tersenyum. Hatinya lega setelah menyampaikan hajatnya. Dia tahu memang terlambat, tapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.


Dan bersyukur karena orang tua dari Asma bisa menerima dengan baik dan bahkan Asma sendiri terlihat bahagia mendengar pinangan dia.


Di rebahkan tubuhnya ke atas ranjang king size miliknya dengan menatap atap kamar dan senyuman di wajah Nizam tak luntur sedikit pun.


Nizam mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri yang terdapat tulisan 'honey'. Dia buka dan tersenyum. "Sebentar lagi aku akan memiliki kamu." Nizam bergumam.


Siapa yang sangka jika Nizam sudah menaruh hati pada Asma sejak lama. Bahkan Ameera saja selaku adiknya tak tahu itu.


"Semoga semuanya lancar, ya Allah."


Nizam beranjak duduk sebelum dia turun dari tempat tidurnya. Dia raih sebuah bingkai foto yang ada di atas nakas. Di sana terdapat potret kedua orangtuanya yang telah meninggal dunia.


"Mama, papa, apa kalian melihat Nizam dari sana?" Nizam tersenyum.


"Lamaran Nizam di terima baik oleh mereka, dan juga Asma. Nizam bentar lagi mau berumah tangga. Nizam harap, Nizam bisa menjadi kepala keluarga seperti papa."


Nizam meletakkan kembali bingkai yang ia pegang ke atas nakas. Dia berdiri dan membuka pintu balkon. Matanya terpejam saat sepoi angin malam menerpa wajahnya.


Dia berjalan dan duduk di single sofa yang memang di sediakan di situ saat Nizam membutuhkan ketenangan. Dia pejamkan lagi matanya menikmati aroma angin dan hening nya malam itu.


Dia terawang masa-masa sedih dan juga terpuruknya saat kedua orang yang sangat dia cintai telah pergi. Sakit, sangat sakit jika mengingat itu, dan tanpa sadar buliran bening mengalir dari ujung matanya.


"Sekarang aku ingin menetap di sini dan meng- handle perusahaan dari sini. Dan aku nggak mau lagi jauh dari Ameera dan keponakan aku." Nizam bergumam dengan masih memejamkan mata.


"Mama, papa, aku kangen."


💢💢💢💢


Satu Minggu setelah pembicaraan Nizam dengan kedua orangtua Asma waktu itu, kini di kediaman Nizam tengah sibuk untuk mempersiapkan seserahan untuk lamaran resmi pemuda yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.


"Tolong itu di bungkus sekalian ya Bik," pinta Ameera pada asisten rumah tangganya.


Amier datang menghampiri Ameera dengan membawa Aleena di gendongannya. "Bun, Aleena haus nih." Amier berbicara dengan suara layaknya anak kecil.


Ameera yang sibuk mengatur barang-barang pun mendongak dan tersenyum. Ibu muda itu berdiri dan menghampiri sang suami. "Cantiknya Bunda laper ya?" goda Ameera.


Ameera mengambil alih Aleena dan menciumi pipi dan keningnya. Tangan Amier mengusap lembut kening istrinya yang berkeringat. Ameera mendongak dan kembali tersenyum.


"Jangan kecapean," tegur Amier lembut.


Ameera hanya menyengir polos. Wanita itu begitu semangat menyiapkan segalanya. Bahkan hampir 80% persiapan, Ameera lah yang men- handle- nya. Dia begitu semangat karena tak ingin melewatkan hal yang berharga seperti sekarang ini.


"Iya Ayah," sahut Meera. Amier tersenyum dan mengajak Ameera ke kamar supaya sang istri lebih leluasa memberikan ASI pada putrinya.


"Mas, aku seneng banget kak Nizam akan nikah sama Asma. Soalnya aku tau kalau kak Nizam sudah suka sama Asma sudah lama, tapi nggak bilang-bilang. Di kira aku nggak tau kali ya," Ameera terkekeh merasa lucu.


"Mungkin kak Nizam menunggu sampai dia merasa mapan. Dan juga, waktu dulu kan masa-masa kak Nizam baru bisa berdiri, mungkin itu salah satu alasan kenapa kak Nizam menunggu sampai saat ini. Dan Alhamdulillah nya lagi, Asma belum ada yang punya." Amier ikut terkekeh.


Ameera tertawa kecil. " Asma bukannya belum ada yang punya, tapi dia yang menolak. Mungkin dia masih mengharapkan kak Nizam."


"Iya juga sih, tapi alhamdulilah sebentar lagi jadi pasangan. Dan aku rasa, mereka sangat cocok."


Amier duduk di samping Ameera yang tengah memberi ASI pada Aleena. Aleena begitu tenang setelah kenyang dia tertidur dengan pulas nya.


💢💢💢💢


"Ini lebih mendebarkan dari memenangkan tender Mier," jawab lesu Nizam.


Amier tertawa kecil mendengar itu. "Nikmati proses nya Kak," sahut Amier menenangkan.


"Iya sih, tapi tetap saja aku khawatir. Takut Asma berubah pikiran."


"Percayalah, Asma sekarang lebih gugup dari kamu Kak. Dia pasti tak kalah gelisah nya dari Kak Nizam sekarang." Amier mengingatkan.


Nizam yang mendengar itu pun terdiam, benar juga kata adik iparnya itu. Mungkin Asma lagi sama berdebar nya dengan jantungnya sekarang.


"Ayo, Kak. Sudah di tunggu yang lain di bawah." Ameera masuk memanggilnya.


Amier mendekati Nizam dan menepuk pundaknya. "Tenang, Bro. Ini baru proses lamaran, perang yang sesungguhnya nanti kalau pas di meja ijab qobul." Amier terkekeh.


Ameera ikut tersenyum merasa lucu. "Ayo. Kak. Keburu Asma berubah pikiran karena Kak Nizam kelamaan datangnya," gurau Meera.


"Jangan dong, dek!" sahut Nizam cepat.


Hal itu membuat Amier dan Ameera tertawa. "Ya makanya cepat," sambung Ameera lagi.


Mereka bertiga keluar kamar untuk menemui rombongan yang akan menjadi wakil Nizam.


"Bagaimana? Sudah siap ipar?" tanya Malik.


Nizam menghela nafas panjang. "Aku siap!" yakin Nizam.


Malik tertawa kecil. "Tenang Bro, ini baru permulaan, sensasi yang sebenarnya waktu di meja penghulu." Malik tertawa sembari menepuk pundak Nizam.


Mereka semakin merasa lucu dengan ekspresi Nizam. "Ayolah Kak, seorang Nizam penakluk tender besar nggak mungkin kalah sama hal seperti ini bukan?" ucap Ameera.


"Anggap saja lagi main, tapi tetap serius," sambung Meera.


Nizam mengangguk tersenyum meski kaku. "Main ya?" gumamnya.


Ameera mengangguk. "Tapi harus serius," timpalnya.


Setelah sedikit perbincangan, mereka pun pergi ke kediaman Asma dengan di dampingi, semua keluarga Annisa tanpa terkecuali.


Nizam merasa beruntung karena keluarga ipar adiknya selalu merangkul. Meski orangtuanya sudah tiada di dunia ini, tapi dia tidak merasa kesepian karena adanya mereka.


Mereka bukanlah seperti keluarga ipar melainkan benar-benar seperti keluarga. Dia merasa lega karena menyerahkan adik kesayangannya pada keluarga mereka.


Setelah dua puluh menit jarak tempuh dari rumah Nizam ke rumah Asma, kini rombongan keluarga sudah sampai. Itu juga membuat jantung Nizam kembali berdegup kencang.


Setelah di sambut dan di persilahkan masuk, mereka mulai membicarakan hal yang serius seperti halnya lamaran pada umumnya. Seperti penyerahan hadiah, memberikan cincin sebagai tanda pengikat keduanya dan lain sebagainya mengikuti adat dari calon mempelai wanita.


Setelah itu baru lah tentukan tanggal untuk pelaksanaan pernikahan,dan foto bersama untuk mengabadikan momen yang sangat berharga itu.


Hari yang melegakan dan juga mendebarkan untuk Nizam. Tapi di balik semua itu, hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan Meski dia tahu hari yang lebih mendebarkan dari ini belum terjadi.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.