
Si sayang yang apal tingkah polah gue cuma ngangkat satu alisnya lalu menurunkan sedikit ponselnya agar kamera merekam lebih banyak bagian tubuhnya yang telanjang.
"Dikit lagi.." gue nggak puas.
"Mau liat apa sih?" cuma tinggal suara Kendra yang kedengeran karena kamera ponselnya lagi fokus ke bagian perutnya yang kotak-kotak.
"Mau cek pabrikan anak-anak aku" ceplos gue nggak pake malu.
"Mesum." celutuknya sebelum mengarahkan sebentar ke daerah tersembunyi yang tertutup celana pendeknya itu. "Udah ya, nanti ketahuan yang lain malu aku"
"Pake malu-malu segala. Kayak nggak pernah phone sex aja" gue meringis.
"Ya itu kan kalau aku bener-bener sendiri. Liat nih, satu tenda kita pakai tidur bareng-bareng. Kalau ada yang tiba-tiba masuk terus aku lagi ngocok sambil pegang HP kan malu yang" kilah Mas suami.
"Yah.. padahal aku mau pamer *****. Tambah gedhe lho.. semakin siap untuk memproduksi susu buat dedek"
"Jangan bikin aku pengen dong Sa.. Nggak kasian apa, di sini aku kering kerontang"
"Ayang pikir aku nggak kering kerontang apa?"
Gue mengangkat alis.
"Bersyukur banget dulu dilahirkan di Indonesia. Nih yang coba liat" Mas suami ngambil drijen air berukuran sedang di sebelah matras tidurnya, "Masak satu harinya aku cuma dikasih air segini. Ini udah buat minum, mandi, wudhu, dan keperluan lainnya."
Mata gue langsung melotot, "Hah? Cuma segitu?" Gue yang notabenya adalah seorang dokter langsung kepikiran gimana kesehatan Mamas selanjutnya. Masalah kebutuhan air bersih itu riskan sekali permirsah. Mana tega gue liat si ganteng hidup kayak onta gini. Huhu.. gantengku cuma bisa mandi sehari sekali gimana dong.
Kendra mengangguk, "Nggak papa yang. Masih bisa untuk bertahan hidup kok"
"Tapi kan itu dikit banget" gue masih bersikeras. Ya kali, air buat gue keramas sambil luluran aja lebih banyak daripada air di drijen itu.
"Untuk ukuran kita yang biasa buang-buang air mah emang dikit yang. Tapi untuk ukuran warga asli di sini udah tergolong banyak ini." Mamas melanjutkan ceritanya. "Waktu aku nanya kenapa kita cuma kejatah air segini, katanya karena di sini lagi kekeringan, nggak ada air. Belum lagi di luar sana hampir nggak ada tanaman hijau. Di sekeliling tuh warna cokelat tanah semua. Bener-bener tandus. Nggak kayak di Indonesia, pohon-pohon masih banyak, nanam apa aja tinggal buang biji doang bisa tumbuh. Tau nggak yang, anak-anak kecil di sini pada nggak percaya waktu aku ceritain gimana kondisi alam di Indonesia. Dan itu bikin aku sadar, negara kita tuh udah kayak surga di mata mereka. Hal yang selama ini tidak banyak kita syukuri."
Gue jadi mikir, bener juga sih apa yang Kendra bilang. Gue itu hidup di negara yang bener-bener kayak surga dunia. Ya walaupun kadang panasnya nggak ketulungan, macet dimana-mana, dan penduduknya banyak tingkah, tapi nggak ada negara senyaman Indonesia. Di sini keamanan relatif aman terkendali. Nggak seperti di Iran, Kongo, maupun negara-negara konflik lainnya yang suara senapan udah macem dangdutan di tengah lapangan.
Ditambah lagi iklimnya yang kondusif. Sekedar informasi, hidup di negara dua musim dengan empat musim itu lebih enak tinggal di negara dua musim. Kenapa? Karena aktifitas kita tidak terbelenggu faktor cuaca. Bayangin aja kalau lagi musim dingin yang bersalju-salju gitu, kalau diliat dari TV sih cantik, jadi putih semua gitu satu kota. Tapi aslinya super ngrepotin. Tanpa bantuan pemanas maupun perapian, manusia mana mungkin bisa bertahan hidup di suhu kurang dari nol derajat celcius. Tumbuhan mati, cadangan makanan menipis. Bagaimana bisa manusia melakukan hal-hal produktif dengan keadaan seperti itu? Kita aja yang di Indonesia begitu hujan dan suhu turun jadi delapan belas derajat udah males ngapa-ngapain, maunya selimutan aja. Padahal delapan belas derajat itu jauh lebih hangat daripada suhu bulan Desember di negara empat musim.