Horizon

Horizon
Episode 64



Kecepatan mobil Kendra melambat memasuki sebuah area parkir yang sangat luas. Bukan, ini bukan basement Mall maupun bioskop seperti di pikiran gue, melainkan sebuah tanah lapang dengan beberapa pohon besar dan taman yang terawat di sekelilingnya.


Di luar sana langit malam terlihat begitu cerah. Tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Bintang-bintang bertaburan ditemani warna kuning keemasan dari bulan purnama yang membulat sempurna. Sinarnya berpadu-padan dengan lampu-lampu sorot, menerangi sebuah bangunan penuh sejarah yang berdiri tegak penuh kharisma di depan sana. Sebuah saksi bisu kemegahan negeri ini.


Begitu mematikan mesin mobilnya, jari telunjuk Mas suami menoel-noel pipi gue, "Yang... masih marah ya?" Satu hal yang sangat gue sukai dari Kendra, apapun keadaanya dia tidak pernah membiarkan kita berlarut-larit dalam emosi dan kemarahan untuk waktu yang lama. Laki-laki itu selalu berinisiatif lebih dulu untuk mengajak gue berdamai.


Bibir manyun gue bergerak melengkung ke atas ketika lelaki itu menggelitik tubuh gue sembari menyiumi seluruh permukaan wajah gue. "Yang.. aduh stop.. geli yang..." gue berusaha melepaskan diri dari tubuh Mas suami yang mengunci pergerakan tubuh gue.


"Berenti dulu ngambeknya baru aku lepasin" si ganteng kasih penawaran.


"Iya deh iya.. nggak ngambek lagi" gue berjanji disela-sela suara cekikikan sambil masih berusaha mendorong tubuh lelaki itu ke belakang.


"Kasih sun dulu" bibir Mas suami maju ke depan. Langsung aja gue lahap bibirnya, idungnya, dagunya, pipinya, sampai basah itu muka karena air liur gue. "Tanggung jawab... Jadi comeng gini kan muka aku kena lipstik kamu" dia bergumam setelah melihat pantulan wajahnya di kaca spion.


"Nggak mau.. wleeek" gue julurin lidah ke depan muka Kendra, kemudian membalikkan badan dan keluar dari mobil, meninggalkan Mas suami yang sibuk mengelap sisa-sisa kebrutalan gue di mukanya.


Yogyakarta memang terkenal sebagai destinasi wisata, tidak hanya lokal, tapi juga mancanegara. Terlihat jelas bagaimana para turis-turis dari Asia, Eropa, Amerika, bahkan Australia berbondong-bondong memadati tempat ini.


Tidak seperti malam-malam biasanya, malam ini pengunjung terlihat begitu ramai. Sebagian besar didominasi oleh turis-turis mancanegara. Berbagai hiasan janur dan kain-kain khas Hindu mendekorasi sekeliling bangunan. Sebuah panggung dengan kelipan lampu warna-warni dan satu set gamelan lengkap dengan pemainnya tertata rapi di depan tiga buah candiĀ  yang menjadi backgroundnya. Di lengkapi sinar keemasan dari bulan purnama yang menggantung cantik tepat di atas langit, sungguh momentum yang luar biasa.


Saking takjubnya, gue tidak menyadari jika Mas suami sudah berdiri di samping gue.


"Udah belum melongonya? Itu iler diusap dulu" candanya nunjuk-nunjuk mulut gue yang sedikit terbuka.


"Iiiih apaan sih?" gue sikut otot perut Mas suami. Nggak terima diledekin kayak tadi.


"Ngaku aja.. nggak pernah liat yang kayak gini kan? Sampai ngeces gitu. O iya, di Jakarta kan nggak ada ya?" makin aja gue diledekin.


"Siapa juga yang ngeces" kilah gue sambil sedikit memeriksa muka di spion, kali-kali aja emang ada air liur netes gitu. Gue kan kadang-kadang katrok.