Horizon

Horizon
Episode 96



Gue hanya bisa menatap sayu laju mobil berplat merah yang meninggalkan halaman. Kendra tak mengalihkan wajahnya sekalipun. Dia menatap gue dari dalam mobil sebelum akhirnya jarak sama-sama memisahkan netra kita dari pandangan. Dan di sinilah gue sekarang, sendiri menatap jalan yang masih sepi seraya mengelus janin yang bahkan belum bisa mengucapkan selamat jalan pada ayahnya.


Talitha menggengam tangan gue dari belakang, sementara Satriya menepuk-nepuk bahu gue lembut. Mereka membawa gue masuk ke dalam rumah. Tangis gue pecah. Baik Talitha dan Satriya pun baru mengetahui perihal keberangkatan suami gue ketika mobil berlogo TNI itu memasuki halaman rumah gue. Melihat keadaan gue saat itu tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali memberikan tempat untuk gue bersandar.


"Nyah.. ini udah abis satu box tissue loh. Nggak pengen istirahat sarapan dulu? Itu dedeknya nggak laper apa?" dari tadi Satriya berusaha mencairkan suasana.


Talitha masih mengelus-elus punggung gue sambil sesekali menyodorkan lembar demi lembar tissue, "Iya. Nanti dedeknya laper. Kasian kan" ucapnya membela sang suami.


"Ma-kan?" gue masih sesenggukan. Bener juga, se-enggak nafsunya gue makan, dedek masih butuh asupan gizi. Gue nggak boleh egois.


"Iya sarapan dulu. Kalau mau nangis bisa dilanjutin nanti. Ronde kedua" tawar Satriya. "Mau sarapan apa? Omsat cariin buat dedeknya"


"Bubur" celutuk gue singkat.


Rona sumringah menghias wajah Satriya, "Alhamdulillah cuma bubur." Dia sujud syukur. Ya maklum lah, biasanya kan gue minta aneh-aneh. "Bentar ya aku beliin di deket lapangan"


Baru aja mau ngacir, Satriya gue tahan, "Eh.. maunya bubur sapi. Bukan bubur ayam"


Maaf ya Omsat. Tapi dedek sedang nggak baik hati sama Omsat. Habis dedek bahagia kalau Omsat kesusahan dikit.


"Hah? Bubur sapi? Siapa yang jual?"


Talitha angkat bicara, "Udah sana cariin. Daging ayamnya kamu ganti daging sapi atau gimana gitu. Mumpung udah mau makan ini" pintanya pada sang suami.


"Iya..iya ini mau jalan. Minumnya apa?" lelaki itu nanya lagi ke gue.


"Cincau rasa strawberry" gue membalas.


Dia menepuk dahinya sendiri, "******! Kenapa gue malah nanya. Jadi repot sendiri kan" lelaki itu mengomeli dirinya sendiri.


"Bahasanya itu lho beb, kedengeran dedek nanti"  syukuriiin... diomelin bini kan lo.


Satriya menutup mulut, "Eh iya lupa.. Aduh dedek, tadi itu cuma kunang-kunang lagi paduan suara kok. Nggak usah didengerin ya" ucapnya ke perut gue sebelum ngacir dengan Scoopy putih punya Talitha.


Tau nggak sih, di saat kita lagi ada titik terbawah, terkadang kita jadi tau siapa saja orang-orang yang bener-bener tulus dan peduli sama kita. Seperti saat ini, gue baru sadar ternyata lelaki yang batal nikah sama gue dan musuh bebuyutan gue jaman sekolah itu ternyata sebegitu pedulinya sama gue dan anak gue. Emang bener ya kata orang, musuh dan sahabat itu cuma terpisahkan oleh satu benang tipis. Yang sahabatan bisa jadi musuhan, yang musuhan bisa jadi sahabatan. Dunia ini emang lucu dan penuh teka-teki.


Alhamdulillah ya dek, kita dikelilingi oleh banyak orang yang sayang sama kita. Kamu jangan khawatir, meskipun Papi jauh tapi sayang Papi ke kamu nggak akan pernah putus. Mami janji bakalan jagain dedek sebaik-baiknya. Bersama-sama kita pasti bisa melalui hari tanpa Papi. Dedek yang sabar ya.. Di saat dedek melihat dunia nanti, pasti Papi sudah kembali berada di tengah-tengah kita. Tumbuh yang sehat ya sayang. Mami Papi sayang dedek.