Horizon

Horizon
Episode 69




Jangan salahin gue kalau lupa jadwal mens sendiri. Meskipun gue dokter, gue juga manusia biasa yang terkadang salah dan lupa. Kalimat itu yang pengen gue lontarkan ke Mas suami ketika dia memijat keningnya sendiri karena bisa-bisanya gue lalai hal sepenting ini.


"Heran, sekolah kedokteran aja lulus tapi jadwal mens sendiri kecolongan. Kamu ini gimana sih yang. Kalau udah telat, buru-buru diperiksa dong. Kan jadi bisa dipantau perkembangannya. Mana dari kemaren kamunya kecapekan mulu tiap pulang kerja, kalau ternyata isi kan nggak bagus buat perkembangangan janinnya Sasa" ceramahnya panjang lebar.


Gue cuma bisa ndepis di jok depan mobil sambil mainin kuku jari, "Ya maaf. Belakangan ini hetic banget di rumah sakit. Mana kerjaan rumah juga nggak ada habisnya. Habis itu kecapekan terus bobok, sampe nggak inget tanggal" gue berdalih.


"Ya udah, tapi lain kali harus lebih teliti. Apalagi ini bukan urusan sepele"


"Iya-iya" cicit gue.


"Jadi mampir beli tespek kan?" tanya Mas suami dari bangku pengemudi. Sesekali dia melihat keluar jendela kalau-kalau ada apotek dua puluh empat jam yang masih buka.


"Iya jadi" jawab gue sekenanya.


Setelah berjalan sekitar lima menitan, Kendra membelokkan mobilnya ke parkiran sebuah apotek yang dikelola oleh salah satu perusahaan farmasi terkemuka di Indonesia. Memastikan mobilnya terpakir dengan aman, dia membuka sabuk pengaman dan bersiap turun dari mobil.


"Udah kamu tunggu di mobil aja. Pake high-heels gitu kalau dipake jalan-jalan nanti bahaya" perintah Mas suami.


"Belinya jangan cuma satu merek yang, buat antisipasi" gue berpesan.


Kendra mengangguk, "Sekalian mau beli apalagi?" tanyanya kemudian.


"Oke, kamu tunggu sebentar ya" ucapnya sebelum membuka pintu mobil.


Sambil menunggu Mamas beli tespek, gue ngelus-elus perut rata gue. Masih takjub aja rasanya kalau ternyata di dalem tubuh gue ada makhluk lain yang sedang tumbuh. Kayaknya baru kemaren gue jadi anak bandelnya Papa yang suka keluyuran tiap malem, sekarang gue harus bersiap dengan kemungkinan akan menjadi seorang ibu.


Iya, seorang ibu. Nomina itu membuat gue mengernyit. Merasakan kehadiran sosok seorang ibu di dalam hidup gue pun belum pernah. Sekarang, gue harus menjadi satu sosok itu. Apa gue bisa?


Stop berpikiran macam-macam Khansa. Belum tentu juga di dalem perut ini ada bayinya. Toh banyak faktor yang bisa bikin telat hamil, nggak cuma spermanya Mas suami. Gue nggak mau terlalu excited dulu, kalau nggak sesuai harapan kan malah jadi kecewa jatuhnya.


Dari kaca mobil gue lihat sosok Kendra berjalan dengan langkahnya yang tegap dan lebar-lebar menghampiri tempat dimana mobilnya terparkir.


"Nih, tujuh merek" dia ngasih satu kresek tespek berbagai jenis di atas pangkuan gue sebelum menyalakan mesin mobil.


"Banyak banget. Ayang mau bagi-bagi ke tetangga?" gue mengernyit.


"Ya biar hasilnya lebih akurat" kilahnya sambil mengecek jalan depan belakang dengan satu tangan berada di kemudi dan satu lainnya menjulur di belakang kursi gue. Aduh.. jadi tambah cakep kan Mas suami kalau lagi di posisi kayak gini. Maskulinnya itu loh.. semakin menguar. Untung ini jantung buatan Tuhan, kalau buatan manusia udah brodol tiap disuguhi ke-maskulinan-nya, loncat-loncat mulu kek kutu loncat.


"Kamu besok masuk jam berapa?" tanya Mas suami setelah mobil yang kita tumpangi meluncur cantik ke jalanan.


"Em.. aku masuk sore. Jam empat"


"Kalau gitu besok aku pulang agak siangan. Sebelum kamu berangkat, kita cek ke dokter dulu"