
"Tenang Sa, tenang! Lo teriak-teriak kayak gini nggak akan merubah apa pun!" Satriya memenjarakan tubuhku yang berontak ingin lepas.
"Tolong Sat.. tolong..! Tolongin Kendra, please.. Gue bisa gila.. gue bisa gila cuma diem nggak melakukan apa-apa" kerah bajunya aku tarik-tarik
"Kalau gue bisa, gue udah sembuhin Kendra sekarang, Sa. Tapi apa? Kita cuma bisa berharap dan berdoa. Cuma itu, Sa."
Pernyataan Satriya adalah fakta. Fakta yang harus kita terima suka atau tidak, mau atau tak mau.
"Papa yang akan ke sana" suara berat pria itu membuat waktu terasa berhenti sekali lagi.
Aku menoleh hanya untuk mendapati Papa dengan seragam hijau usang dan sebuah ransel tentara di bahunya. Tidak ketinggalan pangkat bintang dua yang tersampir gagah di lengan kanan seragamnya. Meskipun dimakan usia, tapi Papa tetap terlihat berkharisma dengan setelan baret hijau dan baju kebesarannya itu.
"Pah.." lirihku.
Papa berjalan mendekat, "Tiga puluh tahun Papa mengabdi sebagai prajurit untuk negara. Meninggalkan kamu yang masih kecil, tumbuh seorang diri tanpa sosok ibu yang mendampingi. Papa selalu sibuk, hingga tanpa sadar, putri Papa satu-satunya tumbuh dengan cepat. Menjadi anak kecil yang manis, remaja yang bandel, dan sekarang seorang ibu yang cantik. Maafin Papa, nak. Papa gagal menjadi ayah sekaligus ibu untuk kamu. Kali ini, meskipun telah purna sebagai tentara, Papa pakai kembali seragam ini, bukan untuk menjadi prajurit negara, tapi menjadi prajurit untuk putri Papa satu-satunya. Papa akan terbang ke Sudan, bersama rombongan pasukan khusus yang sebentar lagi akan menjemput Papa. Papa akan rawat suami kamu, melakukan apa pun agar suami kamu bisa pulang dengan selamat. Pegang kalimat Papa ini baik-baik. Ini adalah janji Papa. Janji seorang tentara"
Mata ini sudah terlalu lelah untuk menangis, tapi air mata seolah tak ingin berhenti mengalir. Tanpa bisa berkata-kata aku peluk Papa dengan erat. Memeluk tubuh yang selama enam puluh tiga tahun ini memeras keringat hanya untuk satu nama. Memeluk setiap keriput dan luka-luka yang menjadi bayarannya. Papa.. lelaki pertama yang tak akan pernah membiarkan ada air mata di wajah putrinya. Papa.. cinta pertama yang tak akan pernah termakan usia.
"Papa jangan.. bahaya Papa." suaraku teredam isak tangis. "Jangan ke sana." Usia Papa yang sudah tidak muda lagi tentu saja akan sangat riskan tertular. Apalagi, ia akan memasuki episentrum epideminya secara langsung.
Jemari kasar Papa yang terlatih untuk membidik senapan itu mengelap pipiku lembut, "Sekarang kamu sudah menjadi orang tua. Papa yakin, kamu akan melakukan hal yang sama jika kamu berada di posisi Papa. Bagaimana bisa Papa diam saja melihat separuh nafas putri Papa satu-satunya berjuang antara hidup dan mati. Tidak Khansa, Papa tidak bisa. Sekali menjadi putri Papa, kamu tetap putri Papa. Dan sudah menjadi kewajiban Papa untuk selalu membuat kamu bahagia"
Kalimat itu membuat tangisku semakin pecah. Tubuhku limbung, lututku bergetar, dan akhirnya aku terduduk berpengangan pada kaki lelaki yang sudah membesarkanku ini. Jika saja perutku tidak menghalangi, aku benar-benar ingin mencium kaki Papa. Mengucapkan ribuan kalimat maaf dan terimakasih, atas cintanya yang tak pernah berbatas.
"Maafin Khansa Papa.. maaf Khansa selama ini sering bikin repot Papa, sering bikin Papa marah. Khansa bandel, nggak bisa diatur. Maaf.. Papa.. maaf" aku merintih pilu. Meratapi kebodohanku selama ini. Bisa-bisanya untuk sekian lama, aku hanya mementingkan egoku sendiri, tidak pernah menyadari betapa besar rasa cinta dan perjuangan orang tua untuk anaknya.
Tangan Papa menyentuh bahu, mengangkat tubuhku agar kembali berdiri.
Ku tatap wajah tegas Papa, keriput-keriput kecil di matanya adalah bukti nyata perjuangan Papa selama ini, "Papa adalah hadiah terindah di hidup Khansa. Papa nggak pernah gagal menjadi ayah sekaligus ibu bagi Khansa. Papa adalah Papa terhebat yang pernah ada. Terimakasih sudah menjadi Papa Khansa. Khansa sayang Papa" dengan itu, kita saling berpelukan, mensyukuri benang takdir yang mengikat jalan kita. Meniti waktu yang masih mengijinkan raga kita bersua. Sebelum nantinya harus terpisah dalam ketidakpastian.
Deru mesin mobil memasuki halaman, membuat kita melepaskan pelukan satu sama lain. Waktunya telah tiba. Waktu bagi malaikat ini untuk menyelesaikan tugasnya. Tugas sebagai prajurit bagi putri semata wayangnya.
Aku mengantar Papa ke depan.
"Papa janji ya.. Papa harus pulang. Sama-sama Kendra nanti" ucapku sebelum melepaskan tangannya.
"Papa janji, apapun yang terjadi, Papa akan pastikan Kendra pulang." hanya itu jawaban Papa.
Aku menggeleng, "Papa juga harus pulang"
"Papa pamit pergi. Kamu baik-baik di sini ya. Bahagia selalu, putri Papa" pamitnya sebelum berbalik menuju mobil jemputan di depan sana.
Lelaki itu sudah berada di depan mobil. Langkahnya terhenti, nampak sedang menimang-nimang sesuatu. Tidak berapa lama kemudian, dia membalikkan badan. Dengan senyum dan tatapan penuh sayang ke arahku, Papa mengangat tangannya di depan kening, memberi penghormatan ala tentara.
Sekelumit kenangan itu kembali membanjiri kepalaku. Dulu, ketika masih berada di sekolah dasar, Papa sering melakukannya. Setiap dia akan pergi dinas dan harus meninggalkanku berhari-hari, dia pasti melakukannya. Memberiku hormat ala tentara dengan senyum lebar yang mengembang.
Dan sekarang, setelah sekian tahun lamanya, dia melakukannya lagi.
Seutas senyum pun terpulas di wajahku, tanganku terangkat, satu penghormatan kuberikan pada Papa. Pada prajuritku.. Pada tentara terbaikku.
Papa..
Kini, sosoknya hilang bersama mobil yang membawanya pergi ke medan perang.
Medan perang terakhirnya.
TAMAT
***
*Hah? tamat?
Iya tamat*.
Kok nggantung banget kak?
Sengaja biar kalian penasaran * ketawa jahat. 😈
Tapi.. tapi..
Tenang aja. Kan masih ada epilogue dan bonchap*
Thanks for reading my story, I'm glad finding you through my writing. Love u 🥰
Cells 🐛**