
"Dokternya mau pake yang dirumah sakit aku?" tanya gue. Ya kan gue kerja di rumah sakit militer. Biasanya kalau orang militer dapet pelayanan khusus gitu.
"Ya terserah, senyamannya kamu aja. Tapi dokter di rumah sakit kamu cowok apa cewek?" suka deh kalau mas Suami mulai posesif kayak gini.
"Emang kenapa kalau cowok?"
"Nggak boleh. Pokoknya harus cewek" tegas Kendra.
"Tadi katanya senyamannya aku. Kalau aku lebih nyaman sama yang cowok gimana?"
"Pokoknya nggak boleh. Enak aja, ntar kalau lahiran dia liat-liat itu kamu dong" Mas suami mulai gerah.
"Namanya juga dokter. Itu kan bagian dari prosedur medis. Kamu pasti mikirnya ngeres ya?" makin gue godain dong calon bapak-bapak yang lagi kepanasan ini.
"Nggak boleh ya nggak boleh. Titik. Mana ikhlas aku punya kamu diliat laki lain" ucapnya kesal.
"Utututu... posesifnya suami aku. Jadi pengen cium adeknya"
"Kok adeknya? Adek aku kan cewek" Kendra mengernyit tidak mengerti.
"Bukan adek kamu yang itu. Adek kamu yang di dalem celana" gue nunjuk-nunjuk bagian selangkangannya.
Muka kesal Kendra berubah sedikit sumringah. Ada setitik senyum yang dia tahan sekuat tenaga agar tidak kentara. Dasar... sok-sokan cool gitu gayanya, padahal gue yakin kalau dikasih servis juga nggak nolak.
"Tahan bentar. Ini udah mau sampe rumah kok. Tapi mainnya pake mulut aja ya. Kalau masuk belum berani. Misal isi beneran, kasihan yang di dalem" tawar Mas suami.
"Yakin bisa nahan?" tangan gue mulai berkeliaran di resleting celananya.
"Sasa..! Lagi nyetir ini, bahaya" Kendra menghentikan pergerakan tangan gue.
"Ahh" satu desahan keluar bersamaan dengan reaksi spontanitas Kendra mengerem mobilnya sesaat setelah masuk ke dalam gang. Untung udah malem, hampir nggak ada orang maupun kendaraan lalu lalang di sekitar sini. Makin aja tangan gue bergerak brutal, gue turunin reletingnya dan gue obok-obok isinya. Setelah ketemu, gue bawa keluar sambil diurut-urut.
"Yang.. nanti kalau ada pak satpam gimana?" Kendra khawatir di sela-sela ekpresi keenakannya.
Bukannya menggubris, kepala gue malah bergerak turun memasukkan batang besar itu ke dalam mulut basah gue.
"Aakkhh" suami gue menggeram dan mendesis, mulutnya sedikit terbuka dengan kedua mata tertutup menikmati titik-titik sensitifnya dimanjakan. "Sasaah" dia sedikit menurunkan sandaran duduknya dan membuka kakinya semakin lebar. Satu tangannya berada di kepala gue, sementara satunya lagi mencengkeram erat mesin kemudi. Semakin besar kejantanannya di mulut gue, semakin semangat gue memompa miliknya naik turun. Kedua tangan gue memijat bola kembarnya dan lidah gue tidak ketinggalan menggelitik ujung kepalanya. Aroma ****** dari precum lelaki itu mulai tercium ketika gue dengan tiba-tiba mengangkat kepala.
"Loh.. kok udahan?" wajah Kendra terlihat begitu merah karena hasrat yang belum dituntaskan.
"Aku pengen makan kerang saos tiram. Cari yuk" ajak gue tiba-tiba.
"Lha ini gimana?" lelaki itu menunjuk kejantannya yang melengkung gagah, "Sakit banget ini yang"
"Tapi aku pengen makan kerang saos tiram. Sekarang!" gue ngotot.
"Iya, tapi ini dituntasin dulu"
"Nggak mau. Makan kerang dulu"
"Kan kamu yang mulai. Tanggung jawab dong"
"Maunya kerang" gue bersikeras.
Kendra mengacak rambutnya frustasi sebelum menjalankan mobilnya memasuki halaman asrama. Kejantananya masih mengacung gagah di bawah sana. Seperti terburu-buru, lelaki itu segera menaikkan resleting celananya sebelum menghambur masuk ke dalam rumah. Yang jadi tujuan utamanya adalah kamar mandi.