
Yuhuuuuuyyyy.... Gue udah sah. Nong neng neng nong gong.. tak gintang gintang oiiii..
Aduuh... bahagianya hati ini.
"Nggak capek apa cengar-cengir mulu dari tadi?" suami gue yang ganteng ngeledek.
"Loh, ayang bangun?" gue mengerjap. Kita sedang ada di dalem pesawat menuju Bali. Honeymoon gaes, gue ulangi sekali lagi, HONEYMOON GAEES..
Waktu lepas landas tadi gue suruh mas ganteng bobok cakep. Biar staminanya kembali jreng setelah melewati prosesi pernikahan yang panjang dan melelahkan. Kan nanti malam mau ehem ehem.. jadi Mamasku harus hemat tenaga. Ehe..
"Gimana nggak bangun dari tadi tangan kamu gentayangan di bawah. Yang bangun nggak cuma mata aku, tapi adek aku juga ikut bangun"
Gue cengengesan, abis.. udah sah juga. Kan kangen sama uwu...
"Mau aku lemesin nggak?" gue kedip-kedip genit.
Si ganteng liat ke kiri dan ke kanan. "Di sini?" suaranya memelan.
"Kalo di sini pake tangan aja. Kalau di toilet boleh pilih mau pake apa. Mau yang mana?" gue memberi tawaran.
"Masak di toilet sih. Udah, sini aja" dahinya mengernyit tidak sabar.
"Sendiko dawuh Paduka Raja" tangan gue mulai menelusup ke balik celananya. Kendra memberi bantuan dengan melepas kancing dan menurunkan resletingnya. Tidak lupa, tubuh kami saling berbagi selimut untuk menutupi kegiatan di bawah sana.
"Kamu tau sendiko dawuh dari siapa?" tanya Mas suami sambil megap-megap keenakan.
"Papa bilang jadi istri harus sendiko dawuh" gue mulai memijat-mijat batang keras itu.
Tidak lama kemudian, ledakan lahar juga keluar dari milik lelaki itu. Melumuri telapak tangan gue dengan benih-benih calon anak kita. Yah, mubadzir deh para cebong-cebong uwu itu. Padahal rahim gue siap nampung. Ya udah nggak papa, nanti malem kan gue buka pabrik. Grand opening pabrikan titisannya mas ganteng. Uhui...
Kendra masih mengatur nafas saat gue menarik keluar tangan gue yang penuh dengan cairannya.
"Kenapa?" tanyanya kemudian setelah melihat perubahan ekspresi di wajah gue.
"Ini yang..." gue menjeb-menjeb. "Calon anak-anak kita jadi mubadzir gini"
Lelaki itu beralih mengambil tissue yang ada di dalam kantong tas selempang gue, "Nggak papa. Stoknya masih banyak." Kendra menghibur gue sembari mengelap cairan putih yang yang membanjiri tangan gue.
"Eh jangan" gue menolak, "Enakan juga diemut gini" ucap gue sambil menjilat-jilat sisa cairannya yang masih ada di sela-sela jari gue.
"Menikmati banget sih kamu" celotehnya melihat gue yang dengan rakus menelan sisa-sisa cairannya.
Aha.. Tiba-tiba gue punya ide, "Ayang mau rasain juga?"
Kendra mengernyit.
"Nih, biar ayang tau gimana enaknya rasa ayang" tanpa menunggu jawaban, gue tarik tengkuk Kendra hingga bibir kami saling bertemu. Gue mengulum bibir bawahnya, memaksakan lidah gue masuk ke dalam rongga mulut lelaki itu.
Baru saja beberapa menit main, gue kehabisan nafas. Payah emang. Abis ini ikutan yoga ah biar bisa mengatur pernafasan dengan baik dan benar.
"Kok udahan?" Mas suami dengan tampang polosnya protes, sementara muka gue udah merah dan ngos-ngosan.
"Lanjut nanti ya? Aku kehabisan nafas" jawab gue terputus-putus.
"Mau aku kasih nafas buatan?" si Mamas mancing mania.
"Makin kehabisan nafas nanti aku" gue cemberut.
Kendra terkekeh melihat ekspresi di wajah gue. Dia menjitak gemas kening kepala gue dan berkata, "Gitu aja KO. Kemarin getol banget mintanya"
Tidak terima dengan sindiran lelaki itu, gue berkilah, "Ya kan kemarin mintanya cuma ciuman biasa. Bukan French Kiss kayak tadi"
Kendra memutar kepalanya melihat sekitar, kemudian satu lengannya di merangkul leher gue menariknya mendekat. Kini bibirnya bersentuhan dengan telingan gue, "Mau aku ajarin yang lebih enak dari French Kiss enggak?" dia berbisik.
"Apa?" gue antusias.
"Japanese Kiss" jawabnya singkat.
Dahi gue berkerut, "Apa itu?"
"Kalau French kiss lidah aku beraksi di bibir kamu yang ini" jelasnya sambil menunjuk bibir gue, "Kalau Japanese kiss lidah aku beraksi di bibir bawah kamu yang itu" dia menunjuk ke arah ************ gue.
Gue memukul pelan dadanya, "Toilet yuk yang"
"Tidur lagi ah" godanya melepas rangkulannya dari leher gue, bersedekap di dada, kemudian pura-pura memejamkan mata.
"Loh..loh.. kok malah tidur lagi. Ayang iih... Sengaja ya ngerjain aku."