Horizon

Horizon
Episode 32



Kendra megangin lengan gue erat banget. Dia nutupin rambut gue pake topinya lalu gandeng gue keluar kantor polisi. Nggak ada kata-kata keluar dari mulutnya, hanya tatapan dingin tanpa ekspresi. Sesampainya di luar, lelaki itu segera mendudukan gue di bangku belakang sebuah taxi yang membawa kita melaju membelah jalanan kota Surabaya. Cukup lama kita sama-sama tenggelam dalam dian. Hanya suara lagu keroncong tahun delapan puluhan yang diputar pak sopir mengisi kekosongan di dalam mobil. Mencoba mencairkan suasana, gue memberanikan diri membuka percakapan.


"Yang.." ucap gue pelan-pelan.


"Hm" jawabnya singkat tanpa menoleh ke arah gue sedikitpun. Tatapan matanya terpaku pada hiruk pikuk kota Surabaya di luar jendela.


"Ayang kenal ya sama pak polisinya tadi?"


"Hm"


Mendapati respon yang begitu singkat, gue mencoba memperluas topik pembicaraan "Kok bisa kenal?"


"Dulu pernah satu tim waktu operasi gabungan." Kali ini jawabannya lebih panjang, tapi tetap dengan ekspresi dingin, bahkan tanpa repot-repot noleh ke arah gue.


"Mirip-mirip kamu gitu ya dia"


"Enggak"


"Mirip banget deh sekilas, kayak kembar. Tapi gantengan ayang kok"


"Hm"


Beneran marah deh kayaknya ini laki. Duh... Princess harus ottohke..


"Ayang marah ya?" tanya gue sambil nyebik-nyebik sok menyesal.


"Pak, berenti depan situ pak" bukannya nanggepin permintaan maaf gue, Mas suami malah sibuk mengarahkan pak sopir agar berhenti di sebuah penginapan di ujung jalan. "Makasih ya pak. Kembaliannya buat bapak aja" ucapnya setelah membawa gue turun dari taksi.


Masih hemat bicara, Kendra menggandeng gue masuk ke salah satu kamar setelah mengambil kunci dari meja resepsionis. Ruang yang pertama kali dia tuju adalah kamar mandi. Tanpa banyak kata, gue didudukan di dekat bak mandi. Rambut gue dirapikan jadi satu lalu diguyur dengan air. Sensasi dingin yang mengenai kulit kepala gue sama sekali tidak membuat suasana hati gue membaik. Wajah diam Kendra semakin menciutkan nyali gue.


Bilasan shampo itu mengalir bersama air kemerah-merahan, membersihkan sisa-sisa cat rambut sementara yang sebelumnya gue semprotkan menutupi pigmen asli rambut panjang gue. Kendra benar-benar memastikan warna rambut gue kembali seperti semua sebelum membantu gue mengeringkan rambut.


"Lepas baju kamu"


"Hah?" gue kaget. Ngapain juga Kendra tiba-tiba minta gue lepas baju. Haduh Mas.. lupa apa adek lagi dapet. Jangan sekarang dong. Nanti aja kalau udah bersih kakanda bebas merdeka ngerjain adinda deh. Sumprit.


Melihat gue yang cuma kedap-kedip memproses kalimat perintahnya, Kendra berinisiatif membuka sendiri pakaian gue. Aduh.. aduh.. Mamas jangan buas-buas dong. Pakaian adek ngapain dilucuti?


Percuma melawan, toh tenaga Kendra seribu kali lebih kuat daripada gue yang lemah gemulai ini. Dengan satu tarikan, Kendra membuka paksa long coat gue hingga beberapa kancingnya terlepas dari tempat semula. Nampak bikini seksi yang gue beli di Bali waktu itu masih bertenger membungkus badan aduhai gue. Lagi-lagi, dengan sekali robek, Kenda melepas pakaian minimalis itu dan membuangnya ke tong sampah. Gue udah was-was waktu liat dia ngelepas kaosnya. Alih-alih nerjang gue, si seksi malah makein kaos putih polosnya buat nutup badan gue yang tinggal pake kancut itu. Lho lho.. nggak jadi adengan biru ini Mas?


"Aku kasih kamu waktu buat merenungkan apa salah kamu. Tetep di sini dan jangan coba-coba kabur lagi" tegasnya dengan geraman rendah sebelum memakai kembali jaketnya lalu berjalan ke arah pintu. "Kalau laper, di meja udah ada makanan" pesannya sebelum menutup pintu meninggalkan gue sendirian di kamar ini.


Gue menghembuskan nafas kasar. Nggak lagi-lagi deh gue bikin suami marah. Mending kalau gue dinasehatin panjang lebar, sambil mencak-mencak juga nggak papa. Nah ini, gue malah didiemin, ditinggal sendiri lagi. Duh.. gini amat drama pernikahan gue.