Horizon

Horizon
Episode 62



Gue masih memalingkan muka, menatap jauh keluar jendela, "Berapa lama?" tanya gue singkat.


"Belum tau. Sampai beberapa pengacau di daerah perbatasan bisa ditangani" jelasnya.


"Satu bulan? Dua bulan? Atau malah tiga tahun?" gue menggertak saking sebalnya, membayangkan hari-hari gue tanpa lelaki itu di samping gue.


Kendra mendekat. Tangannya merengkuh tubuh gue dan meletakkan kepala gue untuk bersandar di bahunya yang kokoh. Rambut gue dielus-elus lembut, kening gue dicium kecil-kecil. Wangi feromon yang menguar dari tubuhnya membuat gue nangis makin kejer, tahu betul bahwa wangi ini yang akan gue rindukan selama hari-hari ke depan.


"Aku nggak mau kamu pergi. Aku nggak suka" isak gue di sela-sela tangis.


"Aku juga nggak suka sayang. Aku nggak mau ninggalin kamu. Tapi mana bisa aku tenang-tenang di sini sementara temen-temen seperjuanganku ikut andil untuk balik lagi ke sana. Ini bener-bener jadi beban buat aku yang." lelaki itu terus mengecup kepala gue sambil meremas-remas tangan gue yang kini dia genggam dengan erat.


"Aku janji aku bakalan jaga diri. Aku janji aku bakalan balik ke sisi kamu lagi dengan selamat." entah mengapa, janji yang diucapkan lelaki itu membuat hati gue terasa semakin sakit. Begini kah rasanya melepas orang yang sangat kita cintai ke medan perang? Beginikah rasanya menjadi seorang istri yang suaminya harus selalu siap sedia mengorbankan jiwa dan raganya demi negara? Dimana kah hati orang-orang yang sangat suka membuat onar negara ini demi kepentingan pribadi mereka? Apa mereka tidak sadar, setiap kekacauan yang timbul di negara ini adalah derita untuk kami para istri tentara, karena itu artinya, sekali lagi kepala rumah tangga kami harus pergi untuk memastikan negara ini tetap aman sejahtera.


"Walaupun aku ngelarang, kamu tetap akan pergi kan?" gue menebak.


"Maafin aku yang.." jawaban Kendra membuat tangis gue semakin kejer malem itu.


***



"Udah minum rondenya? Mau makan apa lagi? Mumpung banyak yang jualan ini?" Mas suami manjain gue banget malem ini. Di pinggiran jalan yang dipenuhi penjaja kuliner kaki lima, gue bebas mau jajan apa aja yang gue mau. Kesempatan, pokoknya malam ini gue mau rampok habis-habisan Mas suami. Kapan lagi dimanjain kayak gini. Salah sendiri mau pergi-pergi segala.


"Pengen cilok. Yang dibakar ya yang. Pakai bumbu kacang. Beliin sana, aku tunggu di sini" permintaan absurb gue tentunya bikin Mamas ganteng cengo.


"Cilok? Malem-malem gini? Yang bener aja yang?"


"Nggak mau tau pokoknya maunya cilok. Dibakar, pake bumbu kacang. Titik" tegas gue.


"Mana coba yang jualan cilok? Nggak ada. Siomay aja gimana? Tuh ada yang jualan. Atau empek-empek. Wuah enak banget kayaknya itu yang, isian telurnya mantap" Mas suami masih merusaha membujuk gue.


Tapi malam ini gue mau bikin Mas suami sedikit menderita, jadi jangan harap gue termakan bujuk rayu sematanya, "Kalau nggak cilok nggak mau. Harus dibakar dan pakai bumbu kacang." gue bersedekap di depan dada.


Si ganteng garuk-garuk kepala, "Ya udah deh. Aku cariin dulu. Kamu tunggu di mobil aja. Disini dingin, kena angin malem nanti kamu"


Gue beranjak dari bangku di pinggir jalan, "Bener ya? Beliin cilok pokoknya. Buat ngemil nanti waktu gelap-gelapan. Awas kalau pakai lama, nanti kita ketinggalan nontonnya" biar makin menantang, gue kasih sedikit anceman.


"Iya aku usahain. Kamu masuk mobil dulu. Aku cari disekitar sini" Mas ganteng bukain pintu mobil buat gue, meletakkan tangganya di langit-langit pintu biar nggak kesundul kepala gue, dan mastiin gue duduk dengan nyaman sebelum menutup pintu. "Tunggu bentar ya. Jangan nakal" pesan Mas suami sebelum meghilang berbaur diantara para pembeli jajanan yang sedang mengantri di kanan kiri jalan.