
"Kirain tadi mau diajak ke bioskop? Taunya malah ke sini" tutur gue begitu selesai memoleskan sedikit lipstik dan memastikan muka gue cantik paripurna tanpa cela dari pantulan kaca spion.
"Ini lebih keren dari bioskop kali yang" kilahnya.
"Ayang nggak ngajakin nonton layar tancep kan?" dahi gue berkerut. Ya kali udah dadan cantik badai gini diajakin nonton layar tancep.
"Kalau cuman layar tancep mah aku bikinin sendiri di rumah. Terus nonton berdua sambil kelon-kelonan malah lebih syahdu. Ngapain jauh-jauh ke sini?" si Mamas ngelak.
"Terus?"
"Nanti liat aja di dalem. Pasti seru" tangan gue digandeng Mas suami menuju ke deretan bangku penonton yang melingkar di depan panggung.
"Tadi katanya mau gelap-gelapan? Ini mah banyak lampunya" gerutu gue sesampainya di nomor kursi sesuai tiket yang Kendra pegang.
"Nanti kalau sendratarinya udah mulai kan juga dimatiin lampu di bangku penonton. Tinggal lampu panggung doang yang nyala" sanggah Mas suami melihat muka gue yang mulai bete lagi.
"Berarti bisa sambil ehem ehem dong" gue cengengesan.
Yaaaah... bibir gue kembali manyun dengan muka ditekuk. Tau gini ke bioskop aja tadi.
Kalau Bali punya tari kecak yang menarik banyak atensi wisatawan, Yogyakarta punya sendratari Ramayana yang dipentaskan di depan candi Hindu terindah di Asia Tenggara setiap malam bulan purnama. Pertunjukkannya merupakan gabungan dari tarian, alunan musik gamelan serta drama tanpa dialog. Cerita yang dipentaskan berasal dari Serat Rama, gubahan salah satu sastrawan terkemuka dari dinasti Mataram Kuno.
Drama kolosal ini menceritakan tentang perjuangan seorang suami, Rama, untuk merebut kembali istrinya, Shinta, yang diculik oleh Rahwana. Pertunjukkan dibuka dengan dipadamkannya seluruh penerangan hingga hanya terlihat siluet Candi Prambanan yang disirami cercahan cahaya keemasan dari bulan purnama. Luar biasa.. gue serasa dibuang jauh melewati dimensi waktu kembali ke zaman dimana pengaruh Hindu dan Budha mengental bersama budaya adat Nusantara. Begitu indah dan menakjubkan.
Sedikit demi sedikit, cahaya berpendar menyinari panggung, diiringi alunan musik jawa dan nyanyian sinden yang menambah syahdu suasana. Kemudian, masuklah delapan penari pria yang mengawal tujuh penari wanita dengan sesajen di tangan mereka. Nuansa sakral dan suci menyelimuti pertunjukkan begitu sesajen-sesajen itu diletakkan di dekat gamelan. Kemudian masuklah pelakon utama, Rama dan Sinta, yang membawakan tarian begitu romatis. Hanya sekedar gerak tari namun mampu menguarkan aura sepasang kekasih yang begitu saling mencintai, membuat gue tenggelam masuk ke dalam setiak lekuk gerak mereka.
Tak terasa, sepanjang pertunjukkan, tubuh gue merapat ke Kendra. Kepala gue menyandar di dadanya sementara lengan lelaki itu mendekap gue dari belakang. Kita sama-sama terbuai masuk ke dalam setiap adegan yang dipentaskan di depan sana. Entah daya magis apa yang menarik kita untuk tenggelam dan semakin tenggelam dalam alun syahdu suasana.
Adegan berganti dengan sorak sorai para penari yang melakukan atraksi api. Panggung serasa dibakar degan semangat menggelora, menggantikan nuansa romantis dan syahdu menjadi dentuman energik yang membuncah, mengusir jauh-jauh rasa kantuk dan bosan. Adegan demi adegan berganti, rasa suka cita digantikan oleh nestapa, tidak sadar gue semakin larut dalam pasang surut cerita.