
"Nih hati aku nih, belah aja kalau nggak percaya. Nama siapa nanti yang ada di sini" dia membusungkan dada.
"Itu jantung namanya. Mana ada hati di situ. Hati tuh disini" gue cubit perut bagian kanannya.
"Auwh.." si Mamas mengaduh, "Hehehe.. di sini ya. Haduh, gagal gombal dong aku. Maminya dedek pinter banget sih"
Gue senyam-senyum, mana tahan kalau Mamas udah senyum manis kek gini.
"Nah, senyum gitu kan makin cantik." ujarnya masih dengan senyum manis mengembang. "Jadi pen nyium. Sini!" gue ditarik dong sampe nubruk dada bidangnya pak tentara. Abis itu bibir gue dicipokin berkali-kali. Lalu menjalar ke pipi, dahi, mata, sampai dagu gue juga ikut digigit-gigit. Facial air liur suami ini namanya.
"Yang.. cari frekuensi yuk" jari gue bergerak membentuk pola melingkar di dadanya. Maksud hati ingin merayu, tapi...
"Dedek kan belum boleh dijengukin"
Skak mat!
"Ya nggak perlu masuk juga. Ayang harus pinter meliuk-liuk dong, gimana caranya biar enak tapi tetep aman. Apa mau aku temenin nonton bokep?"
"Hush! Ini mulut. Kasian dedeknya denger" si ganteng memperingatkan.
"O iya. Maaf ya dedek. Itu tadi cuma laler terbang kok. Lupain ya" gue menepuk-nepuk perut lembut.
"Kamu ini mau jadi ibu lo. Dijaga dulu ngomongnya" pesan Papinya dedek.
"Makanya banyak-banyakin kasih cium. Biar nggak ngomong terus ini mulut" gue emang pinter mencari kesempatan.
Si Mamas ketawa, "Ya udah. Jadi dikasih enak nggak ini?"
"Ya jadi dong" gue menabrakkan diri sekali lagi kepelukan si seksi, kedua tangan langsung bercengkrama di pinggang mas Suami, biar cepet kalau mau mlorotin celana trainingya. Profesional kan gue.. hihi.
Mas suami menyudutkan gue ke tembok, memenjarakan gue diantara dinginnya dinding dan hangat tubuhnya. Lidahnya menyasar satu titik sensitif di bagian belakang telinga. Diikuti gigitan kecil di sudut daun telinga gue, lalu turun memberikan tanda kepemilikannya di leher dan dada gue bagian atas.
Maunya gue cuekin aja. Kepala mas Suami gue tahan agar tetep nyungsep di dada. Tapi siapapun itu yang malem-malem bertamu ke rumah gue ternyata nggak punya tata krama. Bel rumah gue makin dipencet-pencet sesuka hati. Lepas deh mulut si seksi dari ****** gue.
"Nggak usah digubris ayang" gue menangkup kedua pipinya, berusaha mengalihkan perhatian.
"Kalau penting gimana?" Kendra agak khawatir. "Bentar ya aku liat ke depan" menaikkan celananya lagi, mas suami menurunkan gue dari gendongannya dan berjalan menuju ruang tamu.
Merasa penasaran, gue intip siapa yang berani mengganggu ritual bergumul ria gue malem ini.
Oh! Ternyata pacarnya suami gue.
"Mau kencan lagi?" gue menatatap sinis Mas suami yang sedang mencari jaketnya di lemari.
"Emang aku homo?" jawabnya enteng.
"Ya abis kamu tuh sejak Satriya balik kemana-mana nempel terus berdua. Makan berdua, bobok berdua, ke toilet pun berdua. Pacar bukan itu namanya?"
"Jadi sekarang aku punya dua istri satu pacar? Wow, laku banget yak?"
Eeeh, malah bercanda. Nggak nyadar apa istri lagi ngambek gara-gara gagal enak.
"Bodo! Pokoknya nanti pulang bawain siomay bakar rasa strawberry" gue menuntut.
"Hah? Mana ada siomay bakar rasa strawberry?"
"Nggak mau tau. Pokoknya harus ada. Kalau enggak, tidur di luar malem ini!"