
Selesai dengan segala aktivitas kewanitaan, sekarang gue udah siap jiwa raga untuk buka puasa sama Mas suami. Yang gue liat pertama kali waktu kembali ke kamar adalah Mas ganteng dengan setelan kaos putih tanpa lengan. Uluh uluh... sayang ku baru push up ternyata. Otot-ototnya itu loh.. awrr sekali. Pen gigit.
"Mas.." suara gue membuat Mas suami bangkit dari posisinya. Aduh, pening kepala gue liat abs-abs yang tercetak di balik kaosnya.
"Udah spanya?" dia mengambil botol air mineral dan menegak isinya. Jakun eh jakun.. bisa seksi gitu naik turun.
Bukannya dijawab, tubuh gue malah meluk Mas ganteng dari belakang. "Mas.." sekali lagi gue merajuk manja. Udah dikodein juga, mbok ya peka dong.
"Kenapa?" Kendra ngelus-elus tangan gue yang meluk perutnya.
"Itu.."
"Itu apa?" pura-pura sok nggak tau lagi. Nyebelin.
"Ya itu.."
"Ini?" Kendra nunjuk botol minum yang baru saja ditegaknya, "Mau minum?"
"Bukan.." bibir gue semakin mengerucut.
"Trus apa? Bilang maunya apa?" Kendra membalikkan badan menghadap gue.
"Mau itu.." gue menunduk sok malu-malu.
"Itu apa?" Mas suami ngangkat dagu gue. "Hm?" satu alisnya terangkat.
"Kelonin.." nada manja membuat ujung bibir Kendra tertarik ke atas.
"Oh.. tenyata istriku mau dikelonin. Ya udah yuk.."
Baru aja tubuh gue mau digendong ke kasur, tiba-tiba gue teringat sesuatu. "Eh tunggu dulu". Gue ngacir ke arah dimana koper diletakkan dan membongkar-bongkar isinya.
"Kamu cari apa sih?" Mas suami ngikutin dari belakang.
"Itu.. kado"
"Kado apa?" dia membungkuk, menyejajarkan diri dengan gue.
"Kado pernikahan dari Mas Tristan.." ups.. mulut gue keceplosan, "..sama mbak Egi" langsung aja gue sambung biar si seksi nggak cemburu.
Tapi terlambat, wajahnya udah nggak enak gitu.
"Ngapain nyariin kado dari mantan kamu." Tuh kan bener, bibirnya udah kayak bebek.
"Nah ketemu" gue mengeluarkan sebuah box dengan pita merah di atasnya bertulikan Just Married Starter Pack.
"Iya. Nanti ayang yang nyimpen kok. Tenang aja"
Si sayang jadi curiga, "Emang isinya apa?"
"Sini yang" gue menarik Kendra duduk di ranjang.
"Tadaaa..!! Ini started pack buat pengantin baru. Baik ya mas Tristan, request-an aku dibikinin gini"
Kendra mengernyit melihat isi di dalam kotak berpita merah itu, "Apaan ini?"
"Udah dibilang ini alat perang kita ke depan. Nih yang ada bulu-bulu perindu. Kalau ayang mau merangsang titik-titik sensitif aku pake yang kinky-kinky gitu. Terus ada pecut-pecutan juga. Pantat bahenol aku siap main kuda-kudaan nih. Nah yang ini ayang pasti udah hapal, borgol tahanan cintah, pake h ya yang - cintah - biar mendesah. Aku siap lho jadi submissif buat ayang. Trus apa lagi ya.." gue mengobrak-abrik sisi kotak, "Aha.. ini nih.. ramuan kuat.. kalau-kalau ayang capek. Tapi nggak mungkinlah. Suamiku kan perkasa. Kalau yang ini-"
"Shh.." telunjuk Kendra menghentikan ocehan mulut kecil gue. Laki-laki itu kemudian menutup kotak di pangkuan gue dan menaruhnya di atas nakas.
Dengan tatapan lapar dan dominatif, Kendra merapatkan tubuhnya ke tubuh gue, membuat gue sedikit terdesak ke belakang. Dahi kita hampir bersentuhan ketika bibirnya bergumam, "Nanti, aku beliin sendiri buat main sama kamu. Tapi sekarang, aku mau buka puasa dulu"
Kalimat Kendra diakhiri dengan satu kecupan lembut di bibir, satu detik, dua detik, sebelum akhirnya bibir tebal itu ******* dan mengulum dengan lincah. Semakin lama semakin rakus. Tubuh gue dibaringkan di atas ranjang, tangan gue mengalung ke lehernya, meremas-remas rambut yang masih sedikit basah itu. Setelah membuat gue kehabisan nafas, ciuman Kendra turun ke leher. "Eungh.." satu desahan terlepas ketika laki-laki itu berhasil mengukir tanda kepemilikannyan di sana.
Tapi.. ah tidak..
Belum juga tertarik turun, tubuh Kendra gue dorong ke belakang. Lelaki itu kaget dengan tindakan gue yang tiba-tiba. Tapi tidak ada waktu untuk menjelaskan. Gue segera turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Ada sesuatu yang harus gue periksa.
Benarkan.. Ah shit..
Kenapa harus hari ini.
***
"Sa... kamu kenapa?" Kendra menggedor-gedor pintu kamar mandi. "Aku bikin salah sama kamu? Atau aku nyakitin kamu?" dia terus saja mengintrogasi.
Pelan-pelan, gue putar handle pintu kamar mandi, menampakkan wajah Kendra yang terlihat sangat khawatir dari balik pintu, "Hei.. kamu kenapa sayang. Aku bikin salah sama kamu?" dia menangkup kedua pipi dan mendongakkan wajah gue ke atas.
"Yang.. maaf" suara gue parau.
Dahi Kendra mengernyit.
"Aku.. aku dateng bulan" jelas gue diiringi tatapan kecewa dari wajah lelaki di hadapan gue.