Horizon

Horizon
Episode 28




"Bu Krystal?" si bibit ganteng yang didadanya tertulis nama Lucas Alfonso ini cengo sendiri liat penampakan gue. Dia sampai kedip-kedip imut saking kagetnya liat rambut merah menyala istri komandannya. Berkali-kali ngucek mata cuma untuk memastikan kalau yang berdiri di depan dia saat ini adalah benar orang yang beberapa saat lalu kabur darinya.


Sadar apa yang sedang terjadi, gue buru-buru melarikan diri. Jangan sampai gue dibawa paksa pulang ke Magelang. Pokoknya kalau bukan Kendra yang jemput gue nggak mau.


"Bu Krystal... Tunggu.. Jangan lari" dia ngejar gue.


"Pergi lo. Jangan deket-deket gue. Awh.." mana bisa gue ngimbangin tentara. Ya pasti ketangkep lah. "Lepasin..!" gue berontak. "Lepasin nggak!" gue makin galak.


"Maaf bu. Saya hanya menjalankan perintah" jawabnya sambil terus megangin lengan gue.


"Nggak mau. Gue nggak mau ikut lo pulang. Bilang sama komandan lo buat jemput gue sendiri. Pokoknya kalau bukan dia yang jemput, gue nggak mau pulang" kayak anak kecil banget ya gue, tapi bodo ah.


"Sekali lagi saya minta maaf bu. Tapi Pak Komandan bilang saya harus bawa pulang ibu bagaimanapun caranya"


Saatnya mengeluarkan jurus rahasia wanita, "Tolong! Tolong! Saya mau diperkosa, tolong..!!" gue teriak kesetanan menyebabkan berpuluh-puluh pasang mata dikeramaian itu memandang gue dengan heran. Goblok.. gue baru inget, si bibit ganteng di depan gue ini kan pake seragam tentara. Justru gue yang penampilannya kayak wanita tuna susila. Makanya dari tadi manusia-manusia yang lalu lalang itu cuma cengo liatin drama gue, bukannya nolong malah bisik-bisik sendiri. Ah sial!


Oke, jurus pamungkas gue belum dikeluarin. Agak sakit sih, tapi maaf ya adek ganteng, untuk sementara senjata rahasia lo bakal jadi tumbalnya. Gue menarik nafas, mengambil ancang-ancang sebelum sepatu wedges gue menendang sekuat tenaga barang yang tersembunyi di selangkangan si bibit unggul. Tepat saat dia shock karena rasa sakit di pusat tubuhnya, gue mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri. Dedek bibit unggul, maaf ya.. nanti kalau kita ketemu lagi kakak traktir deh. Kalau mau nyalahin, salahin aja komandan lo yang nggak ada kabar itu.


***


Gue memutuskan meninggalkan pulau Bali menuju Surabaya. Biar makin kelimpungan para dedek-dedek tentara itu nyariin gue. Emang enak? Wleek...


Hari sudah senja ketika ponsel gue bunyi. Yes.. si ayang ganteng nelpon.


"Halo.." gue buru-buru menempelkan benda persegi panjang itu ke dekat telinga.


"Pulang sekarang!" nada imperatif dari ujung sambungan terdengar sangat tegas dan sedikit.. err... dominatif.


"Nggak mau!" gue ngegas.


"Pulang nggak!!" bulu kuduk gue merinding denger suara khas komandan tentara keluar dari mulut suami gue.


Ada suara nafas berat dari ujung sana, "Aku lagi kerja, Sa"


"Ya udah kerja sana. Aku mau hepi-hepi main aja"


"Main? Pake rambut dicat merah kayak gitu? Terus foto-foto nggak pakai celana?"


"Celana aku kasih ke bule tadi. Buat cindera mata"


"SASA!" kali ini Kendra bener-bener marah. Ponsel gue sampai gue jauhin dari telinga saking kerasnya suara Kendra. "Kamu bilang dimana sekarang! Aku kirim orang buat jemput!"


"Cari sendiri!" bales gue sebelum mematikan panggilan.


Keluar dari bandara, gue mampir sebentar ke toilet umum, sekedar membasuh wajah dan memperbaiki riasan yang mulai luntur. Gue pandang lekat-lekat refleksi wajah gue di cermin, huh bener-bener kayak cewek klub malam penampilan gue sekarang. Tapi seenggaknya long coat yang gue pakai cukup untuk menutup lekukan aduhai badan seksi gue. Heran, pakai baju tertutup gini aja gue udah keliatan seksi. Apalagi kalau keliaran cuma pakai bikini. Bisa-bisa rumah sakit penuh semua karena cowok-cowok pada mimisan. Hihihi...


Sepanjang melangkahkan kaki keluar, pikiran gue kacau. Ada perasaan bersalah menggerogoti sanubari. Apa gue terlalu keterlaluan ya?


Gue melangkah tanpa arah, dengan ponsel yang masih berada di tangan. Beberapa kali ada panggilan masuk dari Kendra, tapi gue bimbang untuk mengangkatnya. Setelah mondar-mandir beberapa saat, akhirnya gue memantapkan hati untuk meminta maaf sama Kendra.


"Halo..."


tut.. tut.. tut..


Loh, kok sambungannya putus? Gue cek layar ponsel gue. Shit.. baterai gue habis. Duh mana power bank gue tadi.


Eh sebentar.. tas gue mana? Kok nggak ada? Jangan bilang tas gue ketinggalan di kamar mandi. Oh tidak.. kenapa lo bisa ceroboh banget sih Sa. Padahal duit semua ada di dalem tas. Aish.. Nggak punya duit. Handphone mati. Terlunta-lunta di negeri antah berantah. Ini bukan azab istri durhaka sama suami kan? Ya Allah.. Khanza tobat ya Allah.. Balikin Khanza ke Kendra ya Allah.. please. Nanti Khanza nggak telat lagi deh sholat subuhnya.


Baru mau balik ke bandara, langkah gue terhenti melihat kerumunan orang berseragam cokelat.


"Ada satu lagi di sana" teriak salah satu aparat itu sambil menunjuk ke arah gue.


Loh loh.. apa-apaan ini, kok jadi banyak polisi gini?